EKSPANSI FINTECH : BPR-BPRS Harus Perkuat Komunitas

Oleh: Choirul Anam 10 Juli 2018 | 02:00 WIB
EKSPANSI FINTECH : BPR-BPRS Harus Perkuat Komunitas
Ilustrasi teknologi finansial/Flickr

MALANG—BPR-BPRS perlu memperkuat pasarnya, di tingkat komunitas di daerah, agar tetap eksis menghadapi serbuan fintech atau teknologi finansial (tekfin) dan ekspansi dana murah perbankan.

Kepala OJK Jatim Heru Cahyono mengatakan, kehadiran fintech dan Laku Pandai (layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusif) serta dikucurkannnya KUR menjadi tantangan bagi BPR-BPRS. (Bank Perkreditan Rakyat-Syariah)

“Namun BPR-BPRS sebenarnya mempunyai keunggulan kompetitif bila dibandinghkan bank umum dan lembaga jasa keuangan lainnya, yakni kedekatan emosional dengan nasabahnya,” katanya di sela-sela HUT BPR-BPRS di Malang, Minggu (8/7).

Karena itulah, BPR-BPRS terus menjaga kedekatan emosional dengan nasabahnya, seperti komunitas UMKM di daerah-daerah.

Yang juga penting, dilakukan BPR-BPRS, kehadirannya diharapkan tidak hanya dari sisi pemenuhan kebutuhan pembiayaan UMKM, namun juga dari sisi pembinaan.

Karena itulah, sumber daya manusia di BPR-BPRS perlu terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan kehadiran fintech, Laku Pandai serta penyaluran KUR.

Terkait dengan tren uang ketat yang terjadi saat ini, kata dia, maka collecting dari BPR-BPRS harus bagus agar bisa menekan NPL. Karena itulah, BPR-BPRS perlu melakukan collecting harian agar tidak memberatkan nasabah, namun juga mengurangi risiko kenaikan NPL.

Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo menegaskan peran BPR-BPRS dalam mengembangkan UMKM sangat strategis karena posisi kantornya ada di hampir setiap wilayah, termasuk kecamatan.

Direktur Eksekutif LPS Didik Madiyono membenarkan sinyalemen tersebut dengan menyebut saat ini terdapat 1700-an BPR dan BPRS yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia dan memiliki peran yang penting dalam mendukung sektor riil khususnya UMKM

Keberadaan BPR dan BPRS membantu pemerintah dalam meningkatkan akses perbankan bagi seluruh lapisan masyarakat

“LPS konsisten mendukung kemajuan industri perbankan dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui program penjaminan simpanan nasabah bank termasuk BPR dan BPRS,” ucapnya.

Dia juga meyakinkan bahwa simpanan di BPR dan BPRS yang semakin meningkat (13%, Des 2017 secara YoY) membuktikan bahwa tingkat kepercayaan nasabah juga meningkat

“Sesuai dengan makna Logo Bersama BPR dan BPRS, LPS berharap agar BPR dan BPRS terus bergerak maju, makin profesional dan makin terpercaya,” ucapnya.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia Joko Suyanto menegaskan bahwa BPR-BPRS perlu selalu berusaha melakukan efisiensi agar kinerjanya semakin bagus.

Cara yang bisa ditempuh, seperti mengupayakan menarik dana murah bila dibandingkan dana mahal. Saat ini, komposisi DPK BPR-BPRS masih didominasi dana mahal, yakni tabungan 20%, deposito 55%, dan linkage 25%. Ke depan, komposisi ini mesti dibalik, yakni tabungan 55%, deposito 20%, dan linkage 25%.

Heru mengemukakan, kredit BPR-BPRS di Jatim masih tumbuh positif. Sampai dengan Mei 2018, pertumbuhannya mencapai 8%, sedangkan NPL-nya mencapai 6%, dan CAR-nya 33%.

“Meski NPL masih di atas batas toleransi OJK, tapi sebenarnya masih aman karena BPR-BPRS dalam menjual kreditnya menetapkan bunga relatif lebih besar daripada bank umum,” ujarnya.(k24)

Editor: Abdul Rahman

Berita Terkini Lainnya