KEBAKARAN KAPAL TANGKAP IKAN : Kala Pengusaha Tuna Benoa Diterpa Nestapa

Oleh: k23 10 Juli 2018 | 02:00 WIB
Petugas pemadam kebakaran dan warga berusaha memadamkan api yang membakar kapal ikan di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Senin (9/7/2018)./ANTARA-Fikri Yusuf

Alhasil kapal-kapal tersebut terpaksa sandar berhimpitan di dermaga barat Pelabuhan Benoa. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, duka bagi pengusaha ikan di pelabuhan terbesar di Bali tersebut kembali mereka alami.

Kapal-kapal yang terpaksa berhenti operasi ini justru dilalap api. Totalnya, ada 40 kapal yang hangus dilalap si ‘jago merah’. Kejadian ini memang menjadi bencana bagi pengusaha penangkap ikan di Bali. Duka bertambah, pasalnya, sudah tangkapan ikan mereka menurun akibat aturan transshipment, kapal-kapal mereka kini juga terbakar.

Padahal, sejak larangan transshipment berlaku mulai 2014, jumlah tangkapan ikan tuna segar di Bali mengalami penurunan dari target. Jika waktu berlayar kapal bongkar muat masih selama 7 bulan seperti pada 2014, maka jumlah tangkapan ikan tuna segar pada 2017 bisa mencapai lebih dari 10.000 ton.

Kenyataannya, pada 2017 jumlah tangkapan ikan tuna segar hanya 8.029,16 ton. Walaupun, realisasi pada 2017 lebih tinggi daripada jumlah ekspor pada 2016 yang hanya 5.691,70 ton.

Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP ) Kelas II Benoa Dwiyanto mengakui kebakaran yang terjadi di Pelabuhan Benoa pada Senin (9/7) dipengaruhi terlalu banyaknya kapal bersandar yang tidak sesuai dengan kapasitas dermaga. Adapun sesuai catatan KSOP, kapal tangkap ikan yang bersandar jumlahnya mencapai ribuan. Namun, tidak semuanya aktif. Jumlah yang kapal yang pasif atau mang­krak ternyata cukup tinggi yakni sekitar 400 unit banyaknya.

Menurutnya, banyak hal yang menyebabkan kapal-kapal tersebut berhenti berlayar. Mulai dari terkena moratorium larangan berlayar hingga aturan transshipment.

Belum lagi, sejak libur lebaran, jumlah kapal yang non aktif makin banyak. Sebab, kru-kru kapal banyak yang belum pulang dari libur Lebaran. Alhasil, kapal terpaksa tidak berlayar. Dermaga pun menjadi ramai dipenuhi kapal-kapal non aktif.

Kondisi ini mengakibatkan sandar kapal menjadi berjejer. Padahal idealnya, maksimal kapal yang berjejer ada sebanyak 2 unit saja. Namun, karena banyaknya kapal pasif, parkir dermaga pun menjadi ramai. Akibatnya, ketika musibah kebakaran terjadi, api sulit dipadamkan. Kapal-kapal pun banyak yang hangus terlalap.

“Begitu Lebaran, banyak kapal masuk karena rata-rata kru libur Lebaran,” katanya, Senin (9/7).

Menurutnya, kapal aktif yang terbakar hanya berjumlah 10 saja. Sisanya, merupakan kapal pasif yang memang telah lama bersandar di sana. Api sendiri memang berasal dari kapal yang siap berlayar yakni KM Cilacap Jaya Karya.

Dari 40 kapal yang terbakar karena kejadian ini, 33 di antaranya merupakan anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI)

Ketua II Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Bali DWI Agus Siswa Putra mengakui memang banyak kapal non aktif di Pelabuhan Benoa. Hanya saja, kapal tersebut bukan tidak berlayar karena aturan transshipment. Tetapi karena sedang mengalami perbaikan.

“Kapal mangkrak ya karena perbaikan, regulasi yang ada semuanya sudah kita ikuti, kalau dibilang menumpuk memangnya kolam di sini sudah memadai,” katanya.

Menurut dia, semua kapal yang terbakar merupakan ukuran besar. Biasanya kapal-kapal tersebut mampu berlayar hingga 3 bulan lamanya. Dengan periode waktu berlayar tersebut, setidaknya menghabiskan dana Rp1 miliar untuk operasional. Sementara, nilai kapal dengan alat tangkapnya bisa seharga Rp4 miliar. Sehingga diperkirakan kerugian masing-masing pengusaha ATLI Bali adalah Rp5 miliar per kapal.

“Kita kan pengguna jasa kan tidak tahu menahu harus bagaimana, kita juga no comment dari pagi lihat seperti itu, apalagi minggu lalu ada 6 kapal kalau enggak salah yang terbakar, itu kapal ATLI juga,” katanya.

Dia pun hingga saat ini belum bisa memproyeksikan berapa potensi kerugian karena kapal yang tidak bisa lagi berlayar. Namun, jika dilihat dari data hingga Maret 2018, jumlah tangkapan untuk spesies tuna telah mencapai 1.408 ton dan non tuna sebanyak 2.496 ton.

Berdasarkan catatan Bisnis, kejadian ini merupakan kali kedua setelah pada minggu lalu, sebanyak 8 unit kapal milik anggota ATLI juga terbakar di lokasi yang tidak jauh dari kejadian sekarang.

Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Golose mengatakan api bermula dari Kapal KM Cilacap Jaya Karya.Saat kebakaran terjadi, kapal dalam keadaan hidup. ABK yang mengetahui terjadi kebakaran berusaha memadamkan api namun ternyata merembet ke kapal lain. Tercatat ada 5 unit kapal milik PT AKFI, 7 unit milok PT Intimas Surya, sekitar 3 unit milik PT Bandar Nelayan dan 25 unit kapal lainnya masih didata.

“Ada 40 kapal, 25 kapal masih dicari identitas, yang lainnya sudah teridentifikasi,” katanya.

Dalam kejadian itu dibutuhkan waktu 12 jam bagi petugas untuk memadamkan api. Selain karena kondisi angin dan lokasi yang berada di laut, posisi kapal juga menyulitkan pemadam.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Denpasar Ida Bagus Joni Ariwibawa mengatakan kapal yang berada di tengah sangat sulit dijangkau sehingga menyulitkan proses pemadaman. Selain itu, mobil pemadam yang terbatas juga menyulitkan pemadaman.

Begitu juga dengan muatan kapal yang mengandung solar ikut menyulitkan pemadaman. Kapal dengan berbahan kayu dan fiber yang mudah terbakar juga membuat api mudah melalap.

Minimnya sumber air juga menjadi kendala untuk memadamkan kabakaran kapal di Pelabuhan Benoa. Untuk memadamkan api saja dibutuhkan 15 menit untuk penanganan dan 30 menit untuk mencari sumber air. Hal ini yang menjadikan proses pemadaman tidak efektif. Padahal, seharusnya dermaga memiliki keran-keran dengan jarak setiap 50 meter seperti yang dipasang di jalan-jalan.

Kata dia, pihaknya mulai melakukan kegiatan pemadaman sekitar pukul 02.30 WITA. Namun karena api yang cukup besar, pihaknya kemudian meminta bantuan kepada BPBD Badung, pemadam pelindo, dan Water Canon Polda Bali. Sehingga ada sekitar 14 unit mobil pemadam yang dikerahkan.

Sementara itu, api pertama kali muncul sekitar 01.45 WITA.

“Belum ada laporan korban jiwa, dan mungkin kapal-kapal yang cukup banyak berakibat kerugian materiil yang cukup besar mungkin ratusan miliar ya karena 1 kapal bisa senilai Rp3 miliar,” katanya.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya