Produk Tekstil & Mebel Bali Lebih Bersaing di Pasar AS Saat Ini, Tapi...

Oleh: Feri Kristianto 10 Juli 2018 | 17:45 WIB
Produk Tekstil & Mebel Bali Lebih Bersaing di Pasar AS Saat Ini, Tapi...
Dua perajin menyelesaikan proses akhir dari pembuatan kerajinan patung rajawali di Desa Pering, Gianyar, Bali, Kamis (22/9/2013)./Antara-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR — Kadin Bali mengungkapkan saat ini produk tekstil dan mebel asal Bali sangat kompetitif di pasar AS dibandingkan dengan produk serupa dari China. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah AS tidak mengenakan tarif terhadap barang-barang ekspor dari Bali karena akan membebani pengusaha.

Ketua Kadin Bali, Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra menilai jika kebijakan tersebut diberlakukan, produk tekstil dan furnitur asal Pulau Dewata kena imbasnya. Menurutnya, justru pada saat ini kondisinya sudah menguntungkan pengusaha Bali karena produk dari China yang dikenakan bea masuk tinggi.

“Sekarang ini produk Bali bisa bersaing karena sebelumnya kan harga produk China lebih murah. Dengan mereka dikenai tarif jadinya harga produk dari sini lebih kompetitif dan ini peluang yang harus dipertahankan,” tuturnya, Selasa (9/7/2018).

Alit mengharapkan lobi yang dilakukan oleh pemerintah pusat ke AS menuai hasil dan ancaman pengenaan tarif impor tersebut tidak diberlakukan. Bagaimanapun juga AS merupakan salah satu pangsa besar tujuan ekspor dari Indonesia sehingga perlu dipertahankan.

Berdasarkan data BPS Bali, 10 besar negara tujuan ekspor dari Pulau Dewata adalah Amerika Serikat 28,98%, Australia ,81, Singapura 8,28%, Jepang 6,91% Hongkong 5,45%, Perancis 3,02%, Tiongkok 2,73%, Thailand 2,68%, Jerman 2,67%, Inggris 2,35% dan sebanyak 26,11% diekspor ke negara lainnya. Produk dari Bali yang banyak diekspor ke AS yakni ikan dan udang , pakaian jadi bukan rajutan, kayu, barang dari kayu, perabot penerangan rumah, jerami/bahan anyaman, dan kapas.

Tanpa dikenakan tarif seperti saat ini, produk Indonesia akan dapat bersaing dengan komoditas dari China. Menurutnya, China selama ini menjadi pesaing utama khususnya produk tekstil Indonesia dan Bali karena harganya sangat murah jika dibandingkan dengan produk lokal. Alit menegaskan bahwa ekspor Bali ke AS sangat besar sehingga sangat diharapkan tidak ada pengenaan tarif masuk negara tersebut.

“Kalau bisa tetap seperti sekarang karena menguntungkan sekali, soalnya harga barang dari China sekarang lebih mahal kan. Jadi kondisi sekarang tanpa ada tarif bagus sekali,” tuturnya.

Alit mengaku mendapatkan informasi bahwa pemerintah pusat terus melobi dan mendapatkan permintaan dari AS jika tidak dikenakan agar Indonesia menjaga masuknya barang China ke Indonesia yang bisa diekspor ke negara tersebut. Menurutnya, sekarang ini justru Indonesia berupaya menjaga agar produk China tidak membanjiri Tanah Air.

Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya