Ekspor belum Maksimal Manfaatkan Momentum Depresiasi Rupiah

Oleh: Yustinus Andri/Yanita Petriella/M. Richard 09 Juli 2018 | 11:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat—yang telah mencapai 6,05% sepanjang tahun ini—ternyata tidak serta-merta mendongkrak kinerja ekspor secara signifikan.

Kinerja ekspor menjadi tema headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (9/7/2018). Ini laporan selengkapnya. 

Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor dan kinerja ekspor yang masih mengandalkan komoditas mentah membuat performa ekspor menjadi tak maksimal.

Mayoritas komoditas ekspor andalan di Tanah Air memang mencatatkan kenaikan ekspor sepanjang Januari-Mei tahun ini, tetapi tidak signifikan jika mempertimbangkan adanya faktor pelemahan rupiah.

Direktur Institute for Develop­ment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan sektor manufaktur didera problem ketergantungan bahan baku impor yang cukup tinggi. Alhasil, ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku menjadi lebih tinggi, sehingga menekan para pelaku industri.

“Kalau kita lihat, dengan impor kita yang masih besar, pelemahan rupiah ini justru menjadi tsunami kecil bagi sektor manufaktur, bahkan manufaktur yang berbasis ekspor sekalipun,” ujar Enny.

Dia juga menilai, kenaikan nilai ekspor sejumlah komoditas ekspor utama yang tidak terlalu signifikan dan diiringi oleh penurunan permintaan di negara tujuan lebih disebabkan oleh tren di pasar internasional.

“Nilai ekspor memang tumbuh moderat, tetapi volumenya tetap atau paling tumbuh tipis. Pasalnya, yang memengaruhi adalah kondisi permintaan global, bukan nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Selama permintaan secara global masih melempem, dia menilai aktivitas ekspor tidak akan mengalami perubahan.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Shinta W. Kamdani mengatakan, sekalipun ada beberapa industri berbasis ekspor yang diuntungkan dari depresiasi rupiah, masih banyak lini industri yang gagal memanfaatkannya untuk mendorong ekspor.

“Industri manufaktur yang paling diuntungkan adalah yang menggunakan bahan baku dalam negeri dan tidak menggunakan bahan baku impor dan tentu saja ini sangat terbatas.”

Belum lagi, daya saing komoditas ekspor andalan Indonesia masih kalah dengan negara tetangga. Masih banyaknya rencana kerja sama perdagangan internasional yang tertunda juga membuat komoditas ekspor potensial sulit berkembang.

Selain itu, ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas mentah juga masih tinggi. Alhasil, ketika harga komoditas rendah, kontribusi ekspor dari sektor tersebut juga rendah.

Sejumlah pelaku usaha di sektor tersebut juga sepakat bahwa momentum pelemahan rupiah memang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Alhasil, nilai ekspor tidak meningkat signifikan.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya