PPDB 2018: Sistem Zonasi Bikin Nilai Masuk ke SMP di Yogyakarta Turun

Oleh: Newswire 09 Juli 2018 | 08:09 WIB
Ilustrasi - Sejumlah siswa didampingi wali siswa mengantre untuk mendaftar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kantor Dinas Pendidikan Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (25/6)./Antara

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta diminta untuk menyiapkan inventarisasi sejumlah permasalahan dialami pada penyelenggaraan penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 yang mengutamakan sistem zonasi jarak.

Disdik saya minta untuk segera inventarisasi berbagai permasalahan dan kendala yang muncul saat PPDB, termasuk apa saja yang menjadi masukan dari masyarakat, kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Senin (9/7/2018).

Menurut dia, pada pelaksanaan PPDB berbasis jarak yang baru pertama kali dilaksanakan di Yogyakarta memang masih ditemukan berbagai kendala mulai dari sistem hingga pemahaman orangtua calon siswa baru.

Meskipun demikian, lanjutnya Yogyakarta tidak menerapkan PPDB berbasis jarak secara penuh tetapi tetap memberikan kuota untuk jalur prestasi yang bisa diakses siswa dengan nilai tinggi untuk mendaftar ke sekolah yang diinginkan.

Pada PPDB 2018, peserta dari jalur zonasi berbasis jarak memperoleh kuota 75 persen, jalur prestasi dalam Kota Yogyakarta 15 persen, jalur prestasi luar kota lima persen dan jalur khusus 5 persen.

Selain inventarisasi, Pemerintah Kota Yogyakarta akan melakukan evaluasi terhadap seluruh proses PPDB tahun ini. Bagaimanapun juga, penerapan PPDB berbasis jarak dilakukan karena sudah ditetapkan oleh kementerian.

Berdasarkan hasil PPDB berbasis zonasi, nilai rata-rata siswa di hampir semua SMP negeri di Yogyakarta mengalami penurunan, salah satunya di SMP Negeri 5 Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai sekolah favorit.

Rentang nilai tertinggi dan terendah yang diterima di SMP tersebut semakin lebar. Tahun lalu, nilai tertinggi 293 dan terendah 256, sedangkan tahun ini nilai tertinggi yang diterima 263,3 dan terendah 133,2.

“Tentunya, ini menjadi tantangan bagi guru dalam menerapkan proses pembelajaran. Jika sebelumnya kami menerapkan pembelajaran cepat, maka kami harus menerapkan pembelajaran lambat,” ujar Kepala SMP Negeri 5 Yogyakarta Suharno.

SMP Negeri 5 juga akan tetap menerapkan pembelajaran sistem kredit semester (SKS) yang disesuaikan kemampuan siswa.

“Kami siapkan SKS untuk empat semester, enam semester, delapan semester atau 10 semester. Tergantung kemampuan siswa” katanya.

Hal yang sama disampaikan Sekretaris PPDB SMP Negeri 15 Yogyakarta, Rimawati mengatakan bahwa guru memiliki tantangan yang tinggi untuk memberikan materi pelajaran ke siswa, karena rata-rata nilai hasil PPDB tahun ini mengalami penurunan.

“Ada penurunan nilai. Tetapi, kami tetap berharap, anak-anak yang masuk ke sekolah memiliki karakter yang baik, sehingga tetap bisa dididik dengan baik,” tambahnya.

Sumber : Antara

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya