EKSPANSI KREDIT : Penaikan Suku Bunga Untungkan BPR

Oleh: Choirul Anam 09 Juli 2018 | 02:00 WIB
Ilustrasi

MALANG—BPR-BPRS merasa diuntungkan dengan kebijakan penaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) karena masih berpeluang untuk melakukan ekspansi kredit.

Ketua Umum DPP Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Sujanto mengatakan, dengan penaikan suku bunga acuan maka untuk jangka pendek tidak perlu diikuti dengan penaikan suku bunga kredit oleh BPR (Bank Perkreditan Rakyat)—BPRS (Syariah) karena spread suku bunga DPK dan kredit masih lebar.

“Penaikan suku bunga kredit itu kan dimaksudkan untuk menjaga DPK tetap di bank karena otomatis akan diikuti kenaikan suku bunga tabungan, deposito, maupun giro,” ujarnya di sela-sela HUT BPR-BPRS di Malang, Minggu (8/7).

Dengan posisi yang seperti itu, kata dia, maka otomatis BPR-BPRS masih memiliki ruang untuk melakukan ekspansi kredit karena suku bunganya tidak naik.

“Namun untuk jangka panjang, maka kami tetap perlu mencermati kondisi pasar,” katanya.

Yang jelas, kata Joko, menyikapi kondisi tersebut BPR-BPRS harus efisien agar tetap bisa menjual kredit dengan bunga yang kompetitif, tidak ikut-ikut menaikkan suku bunga.

Cara yang bisa ditempuh, seperti mengupayakan menarik dana murah bila dibandingkan dana mahal. Saat ini, komposisi DPK BPR-BPRS masih didominasi dana mahal, yakni tabungan 20%, deposito 55%, dan linkage 25%.

Ke depan, idealnya dibalik, yakni tabungan 55%, deposito 20%, dan linkage 25%. Peluang untuk meningkatkan DPK di BPR-BPRS, kata dia, masih terbuka karena bunga penjaminan dari LPS untuk BPR-BPRS lebih tinggi dari bunga bank konvensional, yakni 8,5%, sedangkan tingkat bunga penjaminan bank umum mencapai 6%.

Kepala OJK Jatim Heru Cahyono berharap bank-bank bisa menahan diri dengan tidak menaikkan suku bunga kredit bersamaan dengan penaikan suku bunga acuan oleh BI.

Dengan adanya penaikan suku bunga kredit, maka dikhawatirkan akan meningkatkan angka NPL.

Cara yang bisa ditempuh, bank-bank bisa melakukan efisiensi sehingga bisa menekan cost of fund. Yang juga bisa ditempuh, dengan memperbesar penerimaan dari fee base income.

Secara umum, kata dia, jumlah BPR-BPRS yang mencapai 336 masih dalam kondisi baik. Hanya 20 BPR yang dalam status Bank Dalam Pengawasan Intensif.

“Itu pun sudah berkurang. Sebelumnya mencapai 25 BPR,” katanya.

Mereka dalam status seperti itu karena tidak cermat dalam menyalurkan kredit terkait dengan masalah SDM.

Namun OJK telah melakukan berbagai langkah bagi BPR-BPRS yang dalam status tersebut,yakni meminta mereka melakukan action plan untuk meningkatkan statusdnya menjadi bank dalam pengawasan biasa.

Direktur Eksekutif LPS Didik Madiyono mengatakan, LPS konsisten mendukung kemajuan industri perbankan dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui program penjaminan simpanan nasabah bank termasuk BPR dan BPRS

Menurut dia, simpanan di BPR dan BPRS semakin meningkat ( 13%, Des 2017 YoY) yang membuktikan bahwa tingkat kepercayaan nasabah juga meningkat

“Sesuai dengan makna Logo Bersama BPR dan BPRS, LPS berharap agar BPR dan BPRS terus bergerak maju, makin profesional dan makin terpercaya,” ucapnya.(k24)

Editor: Abdul Rahman

Berita Terkini Lainnya