RASTER : Ingin Keluar dari Balik Layar Menjadi Lebih Digital

Oleh: Oktaviano D.B. Hana & Fitri Sartina Dewi 09 Juli 2018 | 02:00 WIB
RASTER : Ingin Keluar dari Balik Layar Menjadi Lebih Digital
Chief Executive Officer dan Founder PT Toffin Indonesia Tony Arifin (kanan) memberikan penjelasan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (3/7/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Jangkauan pasar yang lebih luas serta proses pemasaran yang lebih mudah, mendorong ketertarikan sejumlah pelaku usaha untuk membangun bisnis online.

Tony Arifin, Founder sekaligus CEO PT Toffin Indonesia merupakan salah satu pebisnis yang tertarik untuk merambah saluran daring untuk memasarkan produk-produknya.

“Dalam rencana jangka pendek, saya berharap Toffin bisa menjadi perusahaan yang lebih digital. Seiring dengan perkembangan teknologi, saya ingin Toffin bisa membuka marketplace,” ujar Tony.

Menurutnya, pengembangan saluran pemasaran melalui marketplace sejalan dengan visi perusahaan yang bercita-cita agar produknya bisa digunakan oleh setiap penikmat kopi baik di kantor, di rumah, maupun di kafe.

Tony menilai pengembangan menuju marketplace juga bisa semakin memperkuat merek perusahaannya di mata publik. Pasalnya, selama ini Toffin hanya berada di belakang layar atau di balik kesuksesan bisnis sejumlah kedai kopi terkemuka di Indonesia.

Tren yang menjadikan ngopi sebagai gaya hidup beberapa tahun belakangan ini dianggap sebagai momentum yang tepat bagi Toffin untuk lebih menunjukkan eksistensi di industri perkopian.

Menurutnya, pengembangan teknologi digital sebenarnya sudah dijalankan sejak 2 tahun terakhir. Akan tetapi, pihaknya akan terus melakukan terobosan baru dan mengembangkan inovasi digital. Hal itu tidak hanya dilakukan untuk menggenjot pemasaran produk, tetapi juga untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelangggan.

Dia mengklaim, berbagai kemudahan melalui layanan digital sudah bisa dirasakan para pelanggan. Misalnya, untuk permintaan perbaikan mesin kopi yang tadinya dilakukan dengan sistem offline, saat ini sudah bisa dilakukan melalui aplikasi.

“Dari aplikasi tersebut, pelanggan bisa mengetahui di mana saja posisi teknisi kami, sehingga proses perbaikan diharapkan bisa lebih cepat,” jelasnya.

Dalam rangka mendorong penetrasi pasar, pihaknya tidak menganggap pelaku bisnis di bidang yang sama sebagai pesaing. Menurutnya, sesama pelaku bisnis justru secara aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak.

Beberapa di antaranya seperti komunitas penikmat kopi, produsen mesin kopi, dan pihak terkait lainnya untuk menggelar berbagai kegiatan seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan kopi.

Menurutnya, edukasi mengenai kualitas kopi kepada masyarakat sangat penting, pasalnya belum banyak penikmat kopi di Indonesia yang betul-betul paham dengan kualitas kopi.

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya