FOUNDER & CEO PT TOFFIN INDONESIA, TONY ARIFIN : “Kami Besar karena Kami Pionir”

Oleh: Oktaviano D.B. Hana & Fitri Sartina Dewi 09 Juli 2018 | 02:00 WIB
Chief Executive Officer dan Founder PT Toffin Indonesia Tony Arifin (tengah) memberikan penjelasan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (3/7/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

JAKARTA – Setelah 11 tahun hanya berada di balik nama-nama kedai kopi terkemuka di Indonesia, PT Toffin Indonesia kini berambisi menjadi perusahaan penyedia mesin dan bahan-bahan pembuatan kopi yang lebih dikenal publik. Untuk menggali lebih jauh terkait dengan strategi pengembangan bisnis perusahaan, Bisnis berkesempatan mewawancarai pendiri sekaligus CEO PT Toffin Indonesia Tony Arifin. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana ide awal pendirian Toffin?

Kebetulan dulu saya memang pernah bekerja di kedai kopi. Pada saat itu, Starbucks baru masuk ke Indonesia sekitar 2 atau 3 tahun lamanya. Keberadaan Starbucks ini memancing pebisnis untuk membuat kedai kopi dengan model bisnis yang mirip seperti itu.

Dari situ saya melihat peluang, karena banyak pihak yang ingin mendirikan kedai kopi, tetapi terkendala untuk suplai peralatannya. Akhirnya, saya putuskan untuk berhenti bekerja di kedai kopi dan mulai berbisnis.

Pada awal berbisnis, saya memulai dari penjualan bahan-bahan untuk pembuatan kopi. Setelah itu, barulah merambah ke bisnis penjualan mesin kopi.

Bagaimana perkembangan bisnis perusahaan sejauh ini?

Toffin berdiri sejak 2007, dan bisnis awalnya sebagai trader dari beberapa merek mesin kopi. Sekarang, kami sudah punya tujuh perusahaan. Salah satu perusahaan kami berada di Singapura yaitu Toffin Singapura.

Di Indonesia, market share Toffin sangat besar yaitu 85%. Sekarang perusahaannya, bukan hanya sebagai trader mesin kopi, tetapi sebagai agen tunggal pemegang merek untuk 20 brand internasional yang kami kelola. Kami juga punya private label untuk produk sirup.

Apakah boleh dibilang bisnis Anda kini kian menggurita?

Bisnis kami memang mencakup dari hulu sampai hilir, mulai dari biji kopi, mesin sangrai kopi, dan bahan-bahan pelengkapnya seperti sirup, dan sebagainya. Bisnis kami yang terbaru adalah kedai kopi yaitu Hario Cafe. Kafe tersebut sebenarnya ada di Tokyo, dan sukses besar di sana.

Kemudian, Hario Cafe ingin ekspansi ke Indonesia, khususnya Jakarta karena spending anak-anak milenial tidak hanya baju atau gadget lagi, tetapi juga untuk menongkrong di kafe. Dengan demikian, kami melihat peluang bisnisnya sangat bagus. Akhirnya, kami mendapat lisensi untuk merek Hario Cafe di Indonesia.

Apa yang menyebabkan Hario Cafe berminat masuk ke Indonesia?

Meski kompetisi kedai kopi di Jakarta semakin ketat, konsumen masih jauh dari kata jenuh dengan kedai kopi. Kalau selama ini ada kedai kopi yang hanya buka sebentar, kemudian metutup usahanya, itu kemungkinan ada kesalahan pada model bisnisnya.

Pendapat saya, banyak orang buka restoran mereka terlalu fokus dengan makanannya. Yang membedakan dengan Hario Cafe adalah kami sangat memperhatikan costumer experience saat berkunjung ke kafe. Suasana kafe, bahkan hal detail seperti musiknya kami pilihkan dengan sangat hati-hati.

Apakah tingginya permintaan terhadap mesin kopi sudah berkembang sejak 2007 atau sejak perusahaan berdiri?

Tidak. Sebenarnya, permintaan untuk mesin kopi mulai meningkat pesat pada 3 atau 4 tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya jumlah kedai kopi di Jakarta dan berbagai daerah lainnya.

Apa faktor yang mendorong pangsa pasar Toffin di Indonesia sangat besar?

Kami memiliki pangsa pasar terbesar karena kami menjadi pionir dari bisnis yang kami jalankan yaitu penjualan mesin kopi, dan bahan-bahan pelengkapnya. Faktor lainnya ialah karena merek-merek terkenal dunia kami yang memasarkan di Indonesia.

Bagaimana strategi perusahaan untuk menjaga pangsa pasar di tengah ketatnya persaingan?

Kalau dilihat dari penjualan sekitar 50%, pasar kami masih berasal dari Jakarta, 15% di Surabaya. Artinya, Indonesia masih punya potensi pasar yang cukup besar untuk terus bertumbuh.

Kami akan terus menggali potensi-potensi dari berbagai sisi untuk mendorong pertumbuhan. Saat ini, kami sebenarnya sudah punya kantor cabang hampir di seluruh Indonesia. Namun, kendalanya market-nya di beberapa daerah memang belum tumbuh.

Apa kendala yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan pasar tersebut?

Saya memperkirakan ada beberapa alasan, seperti daya beli, atau mungkin budaya ngopi di daerah lain belum begitu berkembang seperti di Jakarta. Biasanya, kami melihat potensinya.

Kalau kedai kopi besar seperti Starbucks masuk ke suatu kota, artinya potensi di daerah itu cukup bagus. Keberadaan Starbucks biasanya akan memicu independent cafe untuk muncul dan tumbuh juga. Dari situ nantinya mulai muncul permintaan terhadap produk-produk Toffin.

Bagaimana upaya perusahaan agar mendapatkan kepercayaan dari produsen mesin kopi untuk memasarkan produknya di Indonesia?

Pendekatan awal kami ke produsen cukup lancar, karena memang kebutuhan mesin kopi di Indonesia juga besar. Kami juga yakinkan bahwa kami bisa membantu target pemasaran mereka, dan menunjukkan bahwa kami juga serius untuk memperkenalkan brand mereka di Indonesia.

Jadi, kami ingin buktikan kepada produsen bahwa kami tidak sekadar beli dan jual produk untuk memanfaatkan momentum, tetapi kami terus jalin kerja sama yang baik.

Apa yang membuat Anda yakin bahwa produk yang dipasarkan bisa diterima dengan baik di pasar Indonesia?

Kami bisa memenangkan pasar, karena kompetitor kami tidak aware dengan konsumen yang lebih muda yang perilakunya sudah shifting. Untungnya, sejak 3 atau 4 tahun terakhir kami sudah sadar kalau strategi kami yang sebelumnya kurang tepat, sehingga kami ubah strategi pemasarannya.

Kalau dulu orang jual mesin kopi itu biasanya digabungkan dengan perlengkapan dapur lainnya, sedangkan Toffin masuk sebagai spesialis mesin kopi, tidak menjual produk-produk lainnya. Menurut saya, konsumen muda sekarang lebih senang berbelanja di toko yang memang khusus hanya memasarkan suatu kebutuhan.

Selain memasarkan produk impor, apakah perusahaan juga memasarkan produk lokal?

Produk kami memang utamanya masih impor, termasuk biji kopi. Kami sebenarnya ada keinginan untuk memasarkan lebih banyak bahan-bahan seperti biji kopi lokal, tetapi masih banyak masyarakat yang belum paham kopi. Akan tetapi, kami sudah ada produk lokal yang dipasarkan melalui merek Hario, sedangkan untuk Toffin produknya masih impor semua.

Menurut Anda, apa kendala terbesar dalam memasarkan produk kopi lokal?

Menurut saya, untuk memasarkan produk lokal sebenarnya tidak bisa sendiri-sendiri, tetapi juga perlu dukungan dari pemerintah dan pihak terkait lainnya. Varietas kopi di Indonesia sangat banyak, tetapi masih kalah populer, bahkan dengan kopi Vietnam.

Saya berpendapat mungkin biji kopi lokal akan lebih diminati, jika dikemas lebih menarik. Kami melihat peluang di situ. Adanya teknologi digital mengubah lanskap industri, tidak terkecuali layer-layer di bisnis kopi.

Sejak kapan perusahaan mulai masuk ke segmen business-to-customer?

Kami awalnya memang berangkat dari B-to-B [business-to-business], dan kami mulai masuk ke segmen B-to-C [business-to-customer] sejak beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, tulang punggung bisnis kami masih dari segmen B-to-B.

Sampai dengan saat ini, kami masih mempelajari potensi bisnis segmen B-to-C, karena ada beberapa produk yang belum diterima dengan baik oleh konsumen, misalnya kopi kapsul yang merupakan produk premium.

Untuk segmen B-to-C, produk-produk yang kami pasarkan adalah kopi kapsul, dan peralatan pembuatan kopi dengan merek Hario. Produk Hario sendiri sebenarnya untuk merambah pasar rumahan, tetapi pada prakteknya justru lebih banyak digunakan oleh kedai kopi.

Apa tantangan yang dihadapi ketika merambah pasar ritel?

Jujur, kami masih pelajari apa saja kendalanya, tetapi pada dasarnya produk untuk segmen B-to-C yang kami pasarkan memang agak premium harganya. Padahal, pasar rumahan yang ingin kami tuju masih lebih banyak yang memilih meminum kopi instan atau kemasan.

Persaingan bisnis kopi di Jakarta sudah semakin ketat, Adakah rencana untuk menggenjot penjualan di daerah lainnya?

Kami lihat potensi bisnis di Jakarta masih cukup besar. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 1.500 kedai kopi di Jakarta, dan jumlahnya masih akan terus bertumbuh.

Sebenarnya, untuk membuka kedai kopi memang sebaiknya jangan di kota besar. Contohnya, J.Co. Bisnis mereka justru lebih berkembang di luar kota besar. Di kota besar dia malah mulai tergerus, karena persaingan.

Oleh sebab itu, kami terus menjajaki peluang pasar di berbagai daerah lainnya selain di Jakarta. Kami lihat potensi di Jawa Barat juga cukup bagus, tetapi ini juga harus dipelajari lagi.

Pewawancara: Tim Bisnis Indonesia.

BIODATA

Nama: Tony Arifin

Usia: 36 tahun

Riwayat Pendidikan:

S1 Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Tarumanegara (1999-2002)

Riwayat Karier:

Founder & CEO PT Toffin Indonesia (2007—sekarang)

Store Manager Giornale Café (2003—2005)

Salesman PT CIF Transportasi Indonesia (2002—2003)

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer