PERSPEKTIF: Nasib Ekspor RI di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Oleh: Yose Rizal Damuri , Kepala Departemen Ekonomi CSIS 09 Juli 2018 | 12:21 WIB
PERSPEKTIF: Nasib Ekspor RI di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
5 Produk unggulan ekspor ekspor nonmigas Januari-Mei 2018 (dalam us4 Juta)./Bisnis-Ilham Nesabana

Bisnis.com, JAKARTA – Statistik perdagangan Indonesia menunjukkan bahwa terjadi defisit selama 5 bulan pertama tahun ini. Kondisi tersebut menimbulkan banyak kekhawatiran, terutama karena situasi ekonomi dunia yang semakin tidak menentu, terkait dengan ancaman terjadinya perang dagang antara beberapa raksasa dagang dunia.

Defisit tersebut lebih disebabkan oleh kenaikan di sisi impor, sedangkan ekspor terus mengalami kenaikan. Kenaikan impor banyak terjadi pada produk-produk minyak dan gas yang nilainya meningkat 11% dibandingkan dengan impor pada periode yang sama pada tahun lalu. Ini dapat dipahami karena harga minyak dunia telah meningkat sekitar 15% selama tahun ini saja.

Kenaikan harga minyak tersebut sering dijadikan dasar bahwa Indonesia harus lebih mandiri dalam memproduksi BBM dan mengurangi impor. Misalnya dengan memperbanyak produksi BBM domestik melalui intensifikasi dan pembukaan kilang minyak.

Saat ini, volume impor memang turun 13% dibandingkan dengan periode tahun lalu. Akan tetapi, ternyata impor minyak mentah mengalami kenaikan lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 22%.

Jadi, kemandirian BBM tidak mengurangi ketergantungan akan impor migas, tetapi hanya mengalihkan jenis impor. Dari sisi harga juga bisa dilihat, bahwa kenaikan harga minyak bumi biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga BBM. Alih-alih mengurangi impor migas, apa yang disebut “swasembada” BBM malah mungkin akan semakin meningkatkan nilai impor migas.

Harga migas akan cenderung meningkat akibat ketidakpastian dunia. Strategi yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah mempercepat program diversifikasi bahan bakar. Salah satunya adalah memastikan efektifnya program penggunaan biofuel sebagai campuran bahan bakar.

Apalagi harga kelapa sawit masih belum meningkat pesat. Bila perlu dengan memberikan subsidi yang efektif dan terencana untuk penggunaan bahan bakar ini dibandingkan dengan terus memberikan subsidi untuk bahan bakar konvensional.

Impor yang juga mengalami kenaikan pesat adalah impor barang modal, yang selama tahun ini meningkat hingga 33%. Ini juga diikuti dengan kenaikan impor barang antara yang cukup tinggi. Kenaikan impor mesin dan perangkat elektronik mendominasi kenaikan impor, yang kemungkinan besar akan digunakan untuk kegiatan produktif.

Impor ini memang diperlukan, mengingat investasi meningkat secara cukup pesat beberapa tahun belakangan. Realisasi investasi pada 2017 meningkat sebanyak 13% dan terus berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini. Sebagian besar berasal dari investasi asing.

Statistik pembentukan modal tetap bruto, sebagai indikator investasi secara keseluruhan, juga meningkat tajam hingga 8%.

Teori Makroekonomi mengajarkan bahwa defisit merupakan cerminan dari selisih antara tabungan perekonomian dan investasi. Investasi sangat diperlukan agar pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Indonesia dapat terus meningkat pada masa mendatang.

Akan tetapi, untuk saat ini, berbagai investasi tersebut membawa konsekuensi termasuk dalam neraca perdagangan. Berbagai kebijakan yang merestriksi impor tidak akan membawa hasil yang efektif, bahkan mungkin menghambat investasi. Yang lebih penting adalah bagaimana strategi untuk membiayai atau menutup kenaikan impor tersebut.

Cara yang paling tepat adalah dengan peningkatan ekspor. Sayangnya, ekspor Indonesia hingga beberapa waktu lalu mengalami pelemahan, bukan saja dari nilai absolutnya tetapi juga dari segi penetrasi pasar.

Di pasar Amerika Serikat, misalnya, ekspor Indonesia hanya mengambil 0,8% dari seluruh pasar AS, turun dari 1,1% pada akhir 2000-an.

Ini banyak disebabkan oleh turunnya daya saing produk Indonesia dan juga berakhirnya boom komoditas.

Akan tetapi, dengan berbagai kebijakan dan reformasi yang berlangsung selama beberapa tahun belakangan, sebenarnya daya saing sudah mulai meningkat. Biaya produksi dan biaya transportasi sudah mulai mengalami perbaikan, terutama karena kepastian yang lebih baik dalam menjalankan usaha dan distribusi barang.

Sayangnya, Indonesia selama ini tertinggal dalam menjaga akses pasar di negara-negara tujuan ekspor, dibandingkan dengan para pesaingnya. Ketika negara-negara Asean lain sibuk membuat perjanjian perdagangan, sebaliknya Indonesia sibuk meningkatkan larangan impor.

Indonesia perlu mempercepat proses negosiasi yang saat ini sedang berjalan, termasuk dengan Uni Eropa, Australia ataupun dengan negara RCEP. Kesepakatan perdagangan bukan hanya perlu untuk menurunkan bea masuk di negara tujuan, tetapi juga untuk mempengaruhi kebijakan di sana.

Seandainya kesepakatan antara Indonesia dan Uni Eropa sudah berjalan, maka kasus seperti hambatan produk sawit saat ini dapat dibawa ke mekanisme kesepakatan tersebut, sehingga dapat mencari solusi yang lebih adil dan sesuai dengan kesepakatan.

Suksesnya kesepakatan perdagangan dengan mitra besar juga memberikan sinyal bahwa Indonesia tetap berkomitmen untuk melaksanakan perdagangan yang lebih bebas dan mendukung ekonomi terbuka.

Ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan dari berbagai mitra dagang, yang dapat menjadi basis untuk hubungan dagang yang lebih kuat di tengah ancaman perang dagang.

Indonesia juga memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor jasa.

Apalagi dengan teknologi informasi saat ini, jasa dapat diekspor secara lebih mudah. Ini termasuk jasa-jasa berbasis kreativitas, seperti desain, atau jasa terkait dengan bisnis, seperti pencatatan dan pembukuan.

Akan tetapi, hal ini tentu saja membutuhkan dukungan infrastruktur teknologi informasi yang memadai. Pariwisata juga harus lebih diintensifkan sebagai salah satu “ekspor” jasa andalan.

Jangan juga dilupakan bahwa defisit juga dapat ditutupi oleh surplus neraca keuangan.

Investasi langsung harus terus ditingkatkan, sehingga Indonesia tidak tergantung atas dana masuk dalam bentuk investasi portofolio, yang cenderung tidak stabil.

Ini menjadi sangat penting dalam kondisi ekonomi dunia saat ini yang semakin tidak pasti, karena dana investasi jangka pendek akan cenderung pergi ke negara-negara lebih maju.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (9/7/2018)

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya