GEMALA HANAFIAH : Petualangan Si Penakluk Ombak

Oleh: Aprianus Doni Tolok 06 Juli 2018 | 02:00 WIB

Berkesempatan untuk berjalan, menyusuri pantai sembari mendengarkan deburan ombak, menunggu matahari terbenam merupakan momen yang luar biasa bagi masyarakat urban. Tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan untuk menikmati lukisan Tuhan tersebut. Masyarakat Indonesia cukup beruntung karena sebagai negara kepulauan memiliki banyak pantai yang menyajikan pemandangan yang luar biasa indah.

Di saat orang hanya cukup duduk di pesisir pantai, sosok bernama Gemala Hanafiah justru memacu adrenalinnya dengan berselancar menaklukan ombak. Ya, atlet surfing yang sekarang menjadi team rider Roxy Indonesia ini sangat akrab dengan laut sejak masih belia.

Ayahnya gemar mengajaknya berlibur ke sejumlah tempat wisata alam pada akhir pekan. Kejadian itu membekas di hati perempuan kelahiran Balikpapan ini. Berpetualang di Sumatra atau menyelam di pulau diakrabinya sejak kecil.

Ketika menginjak dewasa, Al --begitu dia biasa dipanggil—mulai berkenalan dengan dunia papan selancar (surfing). Perkenalan perdana dengan papan selancar dilakukannya di pantai Pangandaran, Jawa Barat. Sejak saat itu, dia tidak dapat lepas dari dunia surfing. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menekuni hobinya sebagai profesi.

Papan selancar pertama yang dimilikinya adalah pemberian dari sang kekasih sebagai kado ulang tahun ke-21. Menekuni hobi ini secara serius dan konsisten menjadikan Al sebagai salah satu surfer perempuan profesional.

Karier Al sebagai surfer kian menanjak karena dijalani dengan pondasi cinta. Beragam kompetisi dunia papan seluncur diikutinya, dan seringkali menyabet penghargaan. Pada 2010, dia menjadi juara ke-3 pada Indonesian Surfing Competition (ISC) Quiksilver Pro Keramas di Bali. Menyusul menjadi juara pertama di Occy’s Groom Competition Billabong, di Malaysia. Prestasinya terus moncer ketika berhasil menyabet peringkat ke-3 dan peringkat ke-4, di kejuaraan Asian Surfing Competition Quiksilver Pro Thailand pada 2011 dan 2012.

Menurutnya, rasa cinta yang mendalam dari dunia ini karena aktivitas dan tantangan yang dihadapinya tidak pernah sama. “Tidak ada dua ombak yang sama dalam hidup seorang surfer, inilah yang membuat surfing tidak pernah membosankan,” jelasnya.

Tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kerja keras. Segudang prestasi tersebut didapatkan dengan usaha yang luar biasa. Dia pernah mengalami kecelakaan ketika berselancar di atas gulungan ombak. Tubuhnya seringkali terluka mulai dari kuku kaki yang lepas hingga kulit sobek karena terbentur batu karang. Namun, semua pengalaman tersebut justru semakin memacu adrenalinnya untuk tetap berdiri di atas papan seluncur.

Eksplorasi Al pada wisata laut Indonesia tidak berhenti pada sebatas ombak di permukaan, tetapi juga keindahan bawah lautnya. Kekagumannya pada kekayaan alam laut Indonesia membuat perempuan 39 tahun ini ingin mengenalkan keindahan laut Indonesia kepada dunia.

“Selanjutnya saya Ingin membuat content digital yang membantu pelancong dari manapun untuk melihat keindahan ombak dan bawah laut Indonesia, [karena alasan inilah] lahir Wet Traveler,” ujarnya.

Berkolaborasi dengan fotografer profesional bawah laut Pinneng Muljadi, Wet Traveler semakin dikenal para penggemar wisata laut Indonesia. Terbukti dari lebih dari seribu subscriber pada akun YouTube-nya.

Menikmati keindahan bawah laut tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Medan yang berbahaya menjadi alasan utama seseorang yang ingin mengeksplorasinya harus melewati latihan khusus. Al juga ikut pelatihan guna memperoleh lisensi dari Association of Diving School Indonesia (ADSI) pada 2009. Dengan memegang lisensi ini, Al menjadi lebih percaya diri dalam berpetualang mengeksplorasi kedalaman laut.

Kisah petualangan tersebut baik di atas papan selancar maupun berenang di bawah air, sempat dituangkan dalam artikel yang dikirim ke majalah Surrftime. Artikel tersebut dimuat dan menjadi motivasi baginya untuk membuat blog pribadi dengan situs www.gemala.me. Blog ini kemudian dilirik oleh penerbit GagasMedia yang menawarkannya untuk menulis buku berjudul Ocean Melody. Buku ini bercerita tentang laut dan pengalamannya sebagai peselancar.

Kesibukannya sebagai content traveler sekaligus traveler profesional yang banyak bekerja sama dengan media televisi membuatnya harus pintar-pintar membagi waktu. “Saat ini justru waktu banyak tersita untuk Wet Traveler. Komitmen untuk mengunggah sebanyak dua kali dalam sebulan, dan jadwal working trip dari Wet Traveler juga cukup padat,” jelasnya.

MENGENALKAN WISATA

Di tengah kesibukannya itu, Al mengaku terus bersemangat mengingat semuanya dilakukan untuk mengenalkan pariwisata laut di Indonesia. Ada rasa puas di dalam hati yang membuat Al tidak pernah bosan pergi ke tempat baru untuk menyaksikan keindahan alam sembari terus mengkampanyekan kebersihan laut.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak destinasi wisata laut yang luar biasa. Kekayaan alam lautnya layak menjadi primadona para pecinta laut dunia. Termasuk mengubah paradigma para surfer dunia yang hanya mengetahui Bali sebagai surga olahraga selancar di Indonesia.

Misi mulia tersebut membawanya mengeksplorasi alam Indonesia lebih jauh lagi. Tidak hanya laut, sesekali dia mendaki gunung, dan menyusuri gelapnya gua untuk menambah wawasan dan pengalaman yang dapat dibagikannya kepada masyarakat. Sejumlah gunung seperti Batur, Papandayan, dan Kibabalu telah didakinya, dan Bloyot Cave sudah ditelusuri.

Untuk mengisi waktu luang, sarjana desain di Institut Teknologi Nasional ini memilih olahraga tradisional Hawaii, Stand Up Paddle (SUP). Olahraga ini sedikit berbeda dengan surfing walaupun sama-sama menggunakan papan. Pada surfing peselancar duduk sambil menunggu gelombang datang, sedangkan pada SUP papan digerakkan dengan menggunakan dayung sambil berdiri menyusuri air yang tenang.

Menjalani hobi SUP memang diperlukan latihan khusus seperti halnya olahraga surfing. Namun, untuk surfing memang diperlukan ekstra energi dan keberanian karena gulungan gelombang ombak dapat berbahaya apabila tidak memiliki keahlian khusus dalam menghadapinya.

AL berbagi tips kepada para awam yang ingin mulai menekuni olahraga air ini. “Gunakan softboard khusus untuk belajar yang berukuran lebih besar dan lebih stabil. [Kemudian] pilih lokasi yang sesuai [untuk pemula] dan tidak berbahaya,” jelasnya.

Dia juga menyarankan bagi pemula untuk menggunakan jasa instruktur yang memang ahli dalam olahraga ini. Sementara itu, agar bisa mahir tergantung pada niat dan usaha dari masing-masing individu. “Yang terpenting sabar dalam proses [belajar]. Jangan mudah frustasi.”

Editor: Diena Lestari

Berita Terkini Lainnya