KEDAI KOPI : Pengusaha Baru Terus Bermunculan

Oleh: M. Richard 04 Juli 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — Peluang bisnis di bidang perkopian semakin dilirik oleh pengusaha, terutama yang mengusung konsep pengembangan industri dari hulu ke hilir.

Chief Executive Officer (CEO) PT Toffin Indonesia Tonny Arifin mengatakan, bisnis kopi di Indonesia—khususnya kafe—berkembang sangat pesat 3 tahun belakangan.

"Sebenarnya masih baru, tapi kami tetap optimistis bisnis ini bisa berkembang," katanya dalam kunjungan PT Toffin Indonesia ke Bisnis Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/7).

Dia memaparkan, saat ini jumlah kedai kopi di Jakarta ada sekitar 1.500 toko, dan diprediksi terus bertambah. "Meskipun sebenarnya banyak yang muncul dan banyak juga yang tutup," tuturnya.

Tonny menjelaskan, kunci utama dalam pengembangan kedai kopi sangat bergantung pada model bisnis yang dibuat. Dia mengeluhkan, banyak pelaku bisnis yang hanya mengandalkan satu sisi, dan mengenampingkan sisi lain.

Contohnya, pelaku bisnis hanya mengandalkan kulaitas kopi, makanan, tempat nyaman, atau tempat strategis, tanpa mencoba untuk memadukan keseluruhan komponen tersebut. Sehingga, kesalahan strategi tersebut tak sedikit membuat pelaku bisnis kedai kopi tidak mampu bertahan.

Meski demikian, Tonny menjelaskan, konsumen kopi Indonesia masih belum sepenuhnya teredukasi mengenai kopi. Sehingga, banyak kopi yang berkualitas masih belum dapat melakukan penetrasi dengan baik di pasar dalam negeri.

Sebagai informasi, PT Tofin Indonesia telah berdiri sejak 2007. Toffin yang masih terfokus dengan format busniness to business (BtoB) tersebut menjual machiato powder, gourmet flavour syrup, biji kopi, coffe grinder, mesin espresso, blender, dan barista kit lainnya. Adapun, harga jual dari mesin-mesin kopi tersebut berkisaran Rp50 juta hingga Rp250 juta per unit, sedangkan Toffin dapat menjual hingga 2.500 unit per tahun.

Sementara itu, dua bulan yang lalu, Toffin juga mencoba untuk memperluas bidang usahanya dengan membuka coffe shop bernama Hario Cafe, yakni brand dari Jepang.

Di pihak lain, Founder Coffeland Indonesia Micko Irawan mengatakan, bisnis kopi di Indonesia akan sangat bergantung kepada pasokan kopi dari petaninya. Hal tersebut dikarenakan perkembangan yang signifikan masih belum diikuti dengan penambahan lahan yang tinggi pula.

"Coffe shopnya bisa tambah satu atau dua per hari, tapi kalau kopi itu tidak bisa, karena setidaknya butuh menunggu dua tahun baru bisa panen, jadi hulunya masih belum bisa continue" katanya kepada Bisnis.

Selain itu, masih belum teredukasinya petani kopi di daerah juga membuat pelaku usaha sulit menemukan kopi yang berkualitas dari lokal. "Tetapi memang untungnya konsumen Indonesia secara keseluruhan masih belum terlalu rewel dengan kualitas, kecuali Jakarta," katanya.

Meski demikian, menurut Micko, budaya minum kopi sudah mulai berkembang, dari yang minum kopi sachet ke arah kopi yang lebih berkualitas. Sehingga, hal tersebut diharapkan dapat memacu industri hulu kopi untuk dapat melakukan perbaikan.

Disamping itu, dengan penurunan tarif pajak final pemerintah menjadi 0,5% juga dapat sedikit membantu petani lokal yang masih berkelas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). "[Penurunan tarif pajak final] pemerintah memang belum total, tapi sedikit membantu [petani lokal]," katanya. (M. Richard)

Editor: Wike Dita Herlinda

Berita Terkini Lainnya