RAMADAN & LEBARAN : Inflasi di DKI Terkendali

Oleh: Feni Freycinetia, Dinda Wulandari, Heri Faisal, k33/k38/k28/k24 03 Juli 2018 | 02:00 WIB

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta mengatakan inflasi Juni tersebut lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata historis inflasi bulan Idulfitri dalam 3 tahun terakhir, yaitu 0,69% (mtm).

Dia menuturkan inflasi kelompok volatile food, yang kerap bergejolak pada saat menjelang Idulfitri, saat ini menunjukkan pergerakan yang stabil. Komoditas beras masih menunjukkan penurunan harga sebesar 1,16% (mtm) seiring dengan melimpahnya pasokan.

Kelompok daging dan hasil-hasilnya, harga daging ayam ras dan daging sapi cukup terkendali, dan tercatat masing-masing naik sebesar 1,30% (mtm) dan 0,93% (mtm). Pada 3 tahun sebelumnya, harga kedua komoditas ini kerap bergejolak, dan bisa mencapai 3,01% (mtm) dan 2,02% (mtm).

“Secara keseluruhan, pencapaian inflasi bahan makanan pada Juni 2018 sebesar 0,76% [mtm], lebih terkendali dibandingkan dengan inflasinya pada bulan Idulfitri dalam 3 tahun terakhir, yang mencapai rata-rata 1,36% [mtm],” jelasnya.

Sejalan dengan kelompok volatile food, kelompok administered prices juga mengalami pergerakan yang cukup stabil. Permintaan jasa transportasi pada masa libur Idulfitri, terutama pada moda angkutan udara dan antarkota tercatat relatif terkendali.

Angkutan udara, mengalami kenaikan sebesar 10.71% (mtm), relatif lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata 3 tahun sebelumnya (15,93% mtm). Hal tersebut juga memengaruhi kenaikan tarif angkutan antarkota yang tercatat sebesar 7,71% (mtm), lebih rendah dari rata-rata 3 tahun sebelumnya (10,17% mtm).

“Berbagai perkembangan harga ini membawa kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1,09% [mtm], lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata bulan Idulfitri dalam 3 tahun terakhir, yaitu 1,25% [mtm],” imbuhnya.

Terkendalinya harga pangan yang digunakan sebagai bahan baku makanan jadi, turut mendukung pencapaian inflasi yang rendah tersebut.

Trisno menilai inflasi inti sedikit tertahan oleh kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang tercatat sebesar 0,33% (mtm), lebih tinggi dari rata-ratanya (0,15% mtm).

Di Semarang, Kepala BPS Provinsi Jateng Margo Yuwono menyebut tingginya harga daging ayam dan naiknya ongkos transportasi umum membuat angka inflasi di Jateng naik mencapai 0,70%.

Hal tersebut, karena tingginya konsumsi masyarakat akan daging ayam, dan banyaknya masyarakat yang melakukan perjalanan mudik menggunakan transportasi umum.

Dia menuturkan, pada Juni 2018 di Jawa Tengah terjadi inflasi sebesar 0,70% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 131,85. lnflasi terjadi di enam kota SBH di Jawa Tengah. lnflasi tertinggi terjadi di dua kota SBH yaitu Kota Purwokerto dan Kota Tegal masing-masing sebesar 0,97% dengan IHK masing-masing sebesar 130,53 dan 130,17.

Sementara itu, empat kota SBH yang Iain yaitu Kota Surakarta mengalami inflasi sebesar 0,85% dengan IHK 128,86, Kota Cilacap sebesar 0,76% dengan IHK 136,35, Kota Semarang sebesar 0,64% dengan IHK 131,45 dan inflasi terendah terjadi di Kota Kudus sebesar 0,32% dengan IHK 139,55.

“Inflasi di Jateng saat Lebaran hampir merata di semua kota/kabupaten. Ini merupakan siklus tahunan setelah sebelumnya di bulan Mei Jateng mengalami deflasi sehingga tak heran Juni ini Jateng alami inflasi yang cukup tinggi,” kata Margo Senin (2/7).

TARIF ANGKUTAN UDARA

Di Malang, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang M. Sarjan menyebut inflasi Kota Malang pada Juni 2018 mencapai 0,25% dipicu kenaikan tarif angkutan udara.

Menurut Sarjan, ada 10 komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi selama Juni 2018, di antaranya kenaikan tarif angkutan udara.

“Angkutan udara mengalami kenaikan tarif sebesar 5,43% memberikan andil terbesar pada kenaikan inflasi Juni sebesar 0,1311%,” katanya di Malang, Senin (2/7).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang Dudi Herawadi mengatakan capaian inflasi Juni 2018 yang relatif terkendali karena efek positif dari koordinasi yang baik dan fokus sasaran yang tepat dalam upaya pengendalian inflasi oleh semua pemangku kebijakan di Malang sehingga hasilnya cukup terkendali, yakni 0,25%.

Pada Juni, inflasi Kota Malang terendah di kota IHK di Jatim. Tertinggi justru dialami Sumenep yang mencapai 0,84%, disusul Jember yang mencapai 0,74%, kemudian Madiun dan Probolinggo 0,73%, Banyuwangi 0,50%, dan Kediri 0,43%.

Inflasi di Kota Malang yang mencapai 0,25% juga lebih rendah bila dibandingkan rerata inflasi Jatim yang mencapai 0,42% dan nasional yang mencapai 0,59%.

Hal yang sama terjadi di Palembang, yaitu tarif angkutan udara dan angkutan antarkota menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Palembang pada Juni 2018 seiring adanya momen libur dan mudik Lebaran pada periode tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan, Yos Rusdiansyah, mengatakan inflasi Palembang pada bulan lalu mencapai 0,60% dan didorong oleh kedua hal itu.

“Kenaikan harga pada komoditas angkutan udara memiliki andil paling tinggi terhadap inflasi Juni, disusul angkutan antarkota dan cabai merah,” katanya, Senin (2/7).

Yos mengatakan pada periode itu, pihaknya mencatat tarif angkutan udara mengalami kenaikan sebesar 26,53% dengan andil inflasi sebesar 0,14%.

Adapun kenaikan harga tarif angkutan antarkota tercatat sebesar 9,94% dan berdampak terhadap inflasi sebesar 0,05%.

Di Padang, BPS mencatatkan laju inflasi dua kota di Sumatra Barat yakni Padang dan Bukittinggi per Juni 2018 atau pasca Lebaran masing-masing 0,39% dan 0,20%.

Sukardi, Kepala BPS Sumbar menyebutkan inflasi di dua kota itu terjadi karena meningkatnya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

“Terjadi peningkatan pada sejumlah kelompok pengeluaran, sehingga inflasi Padang dan Bukittinggi masing-masing hanya 0,39% dan 0,20%,” katanya, Senin (2/7).

Dia menyebutkan inflasi di dua kota tersebut cenderung stabil, mengingat biasanya pada momen Ramadan dan Lebaran terjadi lonjakan harga secara signifikan yang ikut membuat inflasi menjadi tidak terkendali.

Inflasi itu juga sejalan dengan meningkatnya indeks harga konsumen (IHK) di Kota Padang yang mencapai 138,37 pada Juni lalu dari bulan sebelumnya yang hanya 137,83. Begitu juga di Bukittinggi dengan IHK mencapai 128,97 dari bulan sebelumnya 128,71.

Sementara itu, Aceh mencatat inflasi 0,84% pada Juni 2018. Penyumbang utama inflasi bulan ini berasal dari kelompok bahan makanan 2,60% dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,88%.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya