INFLASI PERIODE LEBARAN : Daya Beli Belum Pulih

Oleh: Rinaldi M. Azka & Hadijah Alaydrus 03 Juli 2018 | 02:00 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan penjelasan mengenai inflasi Juni 2018 di Jakarta, Senin (2/7/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Namun demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) menampik anggapan tersebut. Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan inflasi Juni merupakan inflasi Lebaran yang terendah sejak 2011. Inflasi Lebaran terendah terjadi pada 2010 sebesar 0,44%.

"Demand side saya kira masih lumayan bagus. Saya bilang lebih rendah dari tahun lalu, tapi tidak rendah-rendah amat," ujar Suhariyanto, Senin (2/7).

Buktinya, menurut dia, bahan pangan sumbangannya 0,9% dan transportasi juga permintaannya masih tinggi sekali. "Jadi kalau saya lihat ya, daya beli masih bagus."

Dia mengemukakan inflasi inti Juni 2018 sebesar 2,72% atau turun dari 2,75% pada Mei. Namun, dia menilai level tersebut tidak rendah sekali, sehingga tidak ada gejala ke arah pelemahan daya beli.

Pada kuartal I/2018, BPS memang melihat adanya indikasi golongan menengah ke atas menahan pembelian barang dan memilih untuk investasi dan menabung.

"Terlihat bahwa proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi memang menurun."

Menanggapi hal itu, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan rendahnya inflasi Juni 2018 menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Menurutnya, inflasi yang rendah pada Lebaran 2018 dipicu dua faktor. Pertama, terjaganya permintaan karena THR dan antisipasi pemerintah di sisi pasokan.

Piter menjelaskan memang dalam jangka pendek ada kenaikan daya beli karena faktor THR. "Namun mereka menahan untuk tidak membelanjakannya semua, berjaga-jaga ketika daya beli mereka kembali turun karena situasi yang penuh ketidakpastian."

Sedangkan di sisi pasokan, antisipasi pemerintah adalahh dengan membuka keran impor beras, mengatasi mafia perdagangan, serta melakukan operasi pasar dimana cukup efektif menahan laju inflasi periode Ramadan.

Menurut Piter, masyarakat kelas menengah ke bawah menahan belanja dan lebih memilih untuk menabung ketika memiliki uang, karena masih adanya ketidakpastian kondisi perekonomian.

Lebih jauh Suhariyanto mengatakan inflasi tahun kalender 2018 sebesar 1,9% dan tahun ke tahun (yoy) 3.12% di bawah target inflasi 3,5%.

Tingkat inflasi dinilai dapat terjaga karena keberhasilan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan harga.

"Ini angka yang menggembirakan karena lebih rendah dari bulan Lebaran tahun-tahun sebelumnya."

Dari 82 kota yang dipantau BPS seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 2,71% dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 146,13. Terendah di Medan dan Pekanbaru masing-masing 0,01% dengan IHK masing-masing 136,47 dan 134,60.

Tingkat inflasi dipengaruhi kenaikan harga ikan segar, ayam ras, sewa rumah, tembakau, tarif transportasi pesawat terbang dan transportasi darat antar kota.

Transportasi udara menjadi penyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,15%. Penyumbang inflasi terbesar lainnya adalah transportasi darat 0,08%, ikan segar 0,08%, daging ayam ras 0,03%, dan tarif sewa rumah 0,02%.

"Kenaikan ini wajar saat Lebaran. Kenaikan inflasi transportasi udara menjadi penyumbang terbesar. Sementara terjadi kelangkaan ikan segar karena cuaca buruk menyebabkan nelayan tidak berani melaut," ujar Suhariyanto.

Di sisi lain, terdapat komoditas yang mengalami deflasi yakni telur ayam, cabai merah, beras dan bawang putih. Deflasi telur ayam dan cabai merah sebesar 0,03% serta beras dan bawang putih 0,01%.

Adriyanto, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan (Kemenkeu), berpendapat terjaganya inflasi di level rendah bukan berarti konsumsi yang melambat. Dia malah optimistis konsumsi dan daya beli membaik.

"Tentu [rendahnya] tingkat inflasi ini karena upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam kebijakan inflasi. Inflasi inti masih lebih kurang sama dengan bulan sebelumnya," ujarnya kepada Bisnis.

Menurutnya, dengan terjaganya inflasi maka daya beli masyarakat akan menguat sehingga pada akhirnya dapat mendorong konsumsi masyarakat.

Adriyanto pun optimistis pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal II/2018 berada di kisaran 5,2%-5,4%.

Editor: Inria Zulfikar

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer