Danu Wicaksana: TCash Paling Ketat Soal Audit

Oleh: N. Nuriman Jayabuana/Demis Rizky Gosta 02 Juli 2018 | 13:30 WIB
Danu Wicaksana: TCash Paling Ketat Soal Audit
tcash

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagai unit bisnis di bawah naungan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), TCash berkembang menjadi sebuah penyedia layanan uang elektronik dengan jumlah pengguna yang cukup besar serta memiliki jaringan yang luas di berbagai daerah di Indonesia. Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO Tcash Danu Wicaksana untuk membahas rencana pengembangan bisnis. Berikut petikannya:

Bagaimana posisi Tcash di Telkomsel?

TCash itu sebenarnya business unit yang strategis di bawah Telkomsel, bisa dibilang TCash 100% dimiliki Telkomsel. Jadi dari dulu sampai sekarang masih tetap situasinya, kami adalah milik Telkomsel

Bagaimana perkembangan rencana integrasi sistem TCash dengan operator lain?

Sebenarnya tidak ada masalah yang besar karena secara teknis memang dimungkinkan. Namun, memang saat ini kami masih menunggu izin dari BI untuk menjalankan apa yang kami sebut sebagai agnostik .

Secara teknis kami hampir 100% siap, tetapi memang masih menunggu izin BI. Sampai izin dari BI belum didapatkan, jujur kami belum bisa bicara banyak mengenai hal tersebut.

Izin apakah yang ditunggu dari BI?

Jadi, BI sebenarnya yang menerbitkan lisensi e-money dan sebagainya, tetapi begitu ada perubahan atau penambahan fitur terhadap izin e-money kami harus melaporkan, dapat persetujuan dari BI, baru bisa jalan.

Akan tetapi, sejauh ini BI sangat kooperatif terhadap berbagai urusan, dan selalu lancar. Intinya, untuk urusan integrasi sistem ini kami harus menunggu approval dulu dari mereka. Sambil menunggu, kami persiapkan berbagai hal teknisnya.

Bagaimana timeline kerja sama dengan operator lain?

Kembali lagi bahwa agnostik itu tergantung izin BI, dan kami masih menunggu dengan sabar sampai dapat izinnya. Operator lain tidak perlu izin ke BI. Hal yang kami lakukan tinggal membuka kanal kami supaya bisa diakses pengguna XL dan Indosat. Ini Mirip Line atau WhatsApp, jadi semua bisa pakai, tinggal masukin data ke aplikasi, kita gunakan SMS provider.

Apakah sudah ada diskusi dengan operator lain untuk sistem yang terintegrasi?

Sebenarnya ngobrolnya enggak perlu dilakukan satu per satu, mirip seperti WhatsApp atau Line. Jadi, aplikasi tersebut bukan hanya bisa dibuka oleh pengguna Telkomsel, melainkan bisa dipakai semua pengguna operator lainnya.

Bagaimana mekanismenya, apakah pulsa langsung masuk ke dalam dompet Tcash?

Oh enggak bisa, karena secara regulasi pulsa itu dianggap suatu currency, tetapi kalau TCash, GoPay, dan Ovo dianggap currency lain. Dalam arti kita gunakan rupiah, kalau pulsa ya produk pulsa, bedanya uang kita elektronik.

Jadi ke depan, gambarannya kalau pengguna punya saldo TCash Rp100.000, dia pegang uang Rp100.000, bukan pulsa Rp100.000.

Kami ingin semua orang pakai TCash supaya lebih gampang. Sekarang, jika ingin top up mesti ke ATM, Grapari, mobile banking, atau Indomaret, dan Alfamart.

Kami ingin memasukkan fitur tambahan ke dalam aplikasi tersebut, misalnya kartu debit, agar bisa langsung kami masukkan detail kartu kreditnya, dan bisa langsung tarik untuk top up tanpa meninggalkan aplikasinya.

Apa nilai lebih yang ditawarkan supaya orang mau memakai TCash?

Modal utama kami adalah pulsa dan bill payment yang paling mudah dan murah. Kemudian, merchant payment menjadi senjata tambahan.

Kalau pakai PayPro, bisa dipakai di beberapa merchant, sedangkan kalau kami sudah ada 50.000 merchant. Sebentar lagi kami juga akan meluncurkan layanan pembayaran Bluebird. TCash juga sudah bisa digunakan di 50 SPBU sejak periode mudik Lebaran.

Apa yang membuat Anda yakin bisnis ini bisa terus berjalan?

Mungkin kalau melihat kondisi market, sebagai pemain di bidang layanan uang elektronik, kami juga lumayan kaget. Ternyata kalau dibandingkan dengan beberapa pemain lain, active users kami tidak jauh berbeda.

Mungkin karena kita tinggal di Jakarta, seakan-akan ada pemain yang melejit sekali penggunanya. Padahal, kami sekarang yang terbesar, cuma karena memang tidak ada data resmi yang pernah keluar, maka kami tidak pernah membandingkan satu per satu. Itu dari sisi kondisi market sekarang.

Apa saja nilai tambah yang ditawarkan kepada pelanggan agar tetap loyal?

Orang yang bertransaksi bisa dibilang sangat tidak loyal, bisa saja pindah karena opsinya banyak tergantung mana promosi yang paling menarik. Sekarang fokus TCash bukan pada merchant payment dulu, tetapi pulsa.

Kalau pakai prabayar, beli di mana pun di TCash pasti lebih murah plus paket data. Lalu, bayar tagihan apa pun bisa lewat TCash. Kami juga sudah ada layanan peer-to-peer transfer, yaitu bisa kirim uang dengan sangat cepat baik ke akun bank maupun akun sesama pengguna TCash.

Adakah rencana perluasan jangkauan layanan?

Kalau dulu yang dijual stiker NFC , tapi distribusinya tidak mudah. Kalau lihat di luar negeri, menambah sesuatu yang ditempel itu bukan sesuatu yang tepat, sehingga kami perkuat aplikasinya. Dengan kegunaan kami yang berbagai jenis, tidak perlu stiker lagi, kecuali untuk offline merchant yang pakai EDC.

Pemegang lisensi QR code semakin banyak, adakah kekhawatiran bahwa persaingan semakin ketat?

Untuk QR code baik statik maupun dinamik hanya berbeda metodenya, tetapi QR code mau diciptakan standar, sekarang sudah ada tim perumusnya. TCash termasuk salah satu anggota perumus tersebut bersama 10 bank, 4 switching, dan GoPay.

Apa perbedaan setelah diberlakukannya standar QR code?

Disebutnya interop’s QR, misalnya jajan di Lotte, ada QR Dimo atau PayPro. Ke depan semua e-money bisa pakai, tetapi pengguna e-money OVO misalnya, yang bukan acquirer merchant itu, terkena beban biaya MDR , mirip transaksi antarbank.

Telkom telah mengakuisisi saham Cellum, apakah Tcash juga akan bersinergi dengan Cellum?

Cellum itu perusahaan teknologi yang diakuisisi sebagian oleh Telkom. Kami sudah punya teknologi sendiri sebenarnya. Yang kami eksplorasi adalah potensi sinergi Telkom dengan TCash. Bukan berarti teknologi Cellum menggantikan teknologi kami, melainkan ada potensi untuk mengembangkan model apa yang belum kami punya.

Bagaimana tanggapan Anda terkait dengan pengetatan aturan e-money?

Sebenarnya netral saja, karena kami sudah memenuhi pasalnya satu per satu. Kepemilikan TCash majority shareholder kami memang di dalam negeri. Bisa dibayangkan pemain lain bagaimana.

Dana float kami bahkan jauh di atas ketentuan, amanlah. Soal limit menjadi Rp2 juta, kami senang-senang saja, bahkan kami satu satunya yang sudah dapat izin e-KYC .

Apakah perhitungan dana float seharusnya dipisah?

Oh memang pos float fund itu harus dipisah supaya, misalnya, Telkomsel tidak bisa menggunakan saldo pengguna TCash untuk investasi atau kepentingan bisnis selain TCash. Semacam ada kontainer khusus yang menempatkan uangnya customer yaitu di bank BUKU IV seperti BNI, BRI, Mandiri, BCA, dan CIMB.

Dari dana itu pun di PBI kemarin ada ketentuan 30% harus ditaruh di current account yang bisa diambil kapan saja. Maksimal 70% bisa ditaruh di SBI yang juga liquid, tetapi saya tidak bisa taruh di SBN . Kami termasuk e-money yang paling ketat diaudit internal dan BI.

Adakah alasan yang disampaikan BI ketika memperketat aturan e-money?

Mungkin ini personal opinion saya, bahwa ada isu soal perlindungan customer dan keamanan data. Dalam arti begini, e-money kecil kalau dibiarkan banyak tumbuh, begitu ada error lama sekali penanganan pelanggannya, karena mungkin memang mereka belum siap.

Itu yang selalu menjadi pertanyaan BI setiap bulan kepada pemegang e-money license. Ada berapa komplain yang diterima dalam sebulan, mana yang berhasil diatasi dan mana yang belum.

Menurut Anda, apa hal yang paling dikhawatirkan BI?

Kalau terlalu banyak penerbit e-money dan saling terpencar, perlindungan konsumen bisa menjadi masalah karena ruang pengawasannya menjadi longgar.

Dari sisi keamanan data, banyak e-money luar negeri kalau diperhatikan sudah masuk tanpa izin BI dulu. BI sering sebut di Manado, Bali, Lombok dan sebagainya, sudah ada QR code yang belum terdaftar di Indonesia.

BI sangat cemas kalau dibiarkan yang tidak mengatur secara khusus, semakin banyak nanti e-money dari China, India masuk dan data transaksinya tidak terekam masuk. Turis beli apa tidak tercatat, bahkan sekarang ada dompet digital lokal, tetapi servernya tidak ada di Indonesia.

Datanya tidak tersimpan di sini. Ini malah bisa disalahgunakan fund manager luar negeri untuk membaca inflasi dan konsumsi di sini. BI tidak mau itu terjadi, karena malah bisa menimbulkan lebih banyak spekulasi terhadap rupiah.

Makanya, server kami juga selalu dicek datanya. Tujuannya bagus untuk negara ini. Jangan sampai seperti e-commerce, kebanyakan barang terjual akhirnya yang dari luar negeri, dan kita malah menjadi importir.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (2/7/2018)

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya