Bank Indonesia: Meski Ramadan & Lebaran, Jatim Bakal Deflasi Pada Juni

Oleh: Choirul Anam 12 Juni 2018 | 09:05 WIB
Kepala KPw BI Difi Ahmad Johansyah (dua dari kanan) didampingi Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto (paling kiri), dan Bupati Blitar Riyanto (tiga dari kanan) di sela-sela pemberian BPKB eks-mobil remise BI kepada Sedulur UKM di Blitar, Senin (11/6/2018). Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, BLITAR—Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Jatim memproyeksikan provinsi tersebut mengalami deflasi pada Juni 2018, meski dibayang-bayangi kenaikan komoditas bersamaan dengan Ramadan-Lebaran.

Kepala KPw BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah mengatakan melihat tren inflasi pada Mei 2018 yang mencapai 0,17% dan kinerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan daerah IHK serta peran Satgas Pangan yang efektif dalam mengecek stok bahan makanan.maka diproyeksikan pada Juni Jatim mengalami deflasi.

“Ramadan-Lebaran memang biasanya terjadi peningkatan konsumsi pada komoditas, terutama pangan dan jasa, namun tidak akan mengerek inflasi,” katanya di sela-sela penyerahan mobil eks-remise BI ke Sedulur UKM di Blitar, Senin (11/6/2018).

Hal itu terjadi karena TPID berhasil mengajak stakeholder maupun distributor barang agar menjaga pasokan sehingga harganya tidak terkerek. Di sisi lain, pasokan produk pangan juga tidak ada kendala sehingga menyebabkan harga yang naik.

Begitu juga dengan Lebaran, dengan kelancaran arus barang, maka harga-harga bahan kebutuhan pokok diproyeksikan bisa tetap stabilitas meski ada kenaikan permintaan.

“Karena itulah, saya proyeksikan pada Juni di Jatim justru mengalami inflasi. Jika pun terjadi inflasi, maka angkanya sangat kecil,” ucapnya.

Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto memberikan proyeksi yang sama. Namun karena pada Mei 2018 Kediri mengalami deflasi sebesar 0,17%, maka diperkirakan pada Juni 2018 mengalami inflasi, namun angkanya sangat kecil.

Hal itu terjadi karena pasokan banyak karena daerah tersebut dikelilingi daerah-daerah produsen bahan makanan, seperti telur, padi, dan ayam pedaging dan lainnya.

Selain itu, efektivitas kinerja TPID juga beperan dalam menjaga inflasi tetap rendah, bahkan deflasi pada Mei 2018. Lewat peran TPID, daerah-daerah aktif menggelar Pasar Murah untuk mengerem kenaikan harga bahan makanan.

Difi maupun Djoko menampik jika disebut terjadinya deflasi karena turunnya sisi permintaan. “Tidak. Kondisi ekonomi daerah-daerah di Jatim kan hampir sama. Buktinya daerah lain justru mengalami inflasi,” kata Djoko.

Bupati Blitar Rijanto membenarkan sinyalemen tersebut. Dengan aktif dan efektifnya kinerja TPID, seperti mengecek pasokan dengan turun ke pasar, maka inflasi di Blitar bisa ditekan rendah. Termasuk pada Juni meski dibayangi naiknya permintaan karena masuk Ramadan-Idulfitri.

Lewat kegiatan TPID, mendorong kegiatan-kegiatan untuk mengerem kenaikan harga bahan-bahan makanan dnegan menggelar Pasar Murah, termasuk Bazar yang diselenggarakan MUI selama tiga hari di Blitar.

Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya