INDEKS HARGA KONSUMEN : Inflasi Juni Berpotensi Terkendali

Oleh: Ipak Ayu H.N & Hadijah Alaydrus 12 Juni 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — Pemerintah memastikan inflasi pada periode Juni akan terkendali pada kisaran 0,22%-0,25% secara bulanan mengingat tidak akan ada lonjakan dari komoditas pangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan hingga libur Lebaran pemerintah akan terus mengawasi sejumlah harga komoditas pangan agar tidak bergejolak.

"Semua harga sudah oke, daging maupun beras. Memang yang akan naik dari telur ayam tetapi itu kan tidak akan berdampak banyak kalau kita kaitkan ke inflasi. Jadi saya rasa inflasi masih sekitar 0,22%-0,25%," katanya, Senin (11/6).

Darmin menambahkan, yang masih harus dipantau yakni tiket transportasi udara yakni pesawat terbang. Sebab, setiap penambahan rute pasti terjadi pergerakan harga sehingga hal ini kerap yang membuat repot.

Sementara untuk transportasi darat, pemerintah menegaskan pasti tidak akan ada gejolak meski musim liburan dan Lebaran.

Adapun sebelumnya Bank Indonesia juga memproyeksi inflasi Ramadan pada Juni 2018 diperkirakan tetap rendah seiring dengan ketersediaan pasokan pangan yang cukup.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan, pemantauan indikator harga hingga 1 Juni 2018 cukup terkendali dan rendah.

"Kelompok harga bahan makanan dan pokok itu rendah, bahkan ada deflasi seperti cabai merah, cabai rawit, bawang putih, udang, dan minyak goreng," katanya.

Sementara untuk faktor penyumbang inflasi yang cukup tinggi menjelang Lebaran ini adalah tarif angkutan udara dan tarif bus antar-kota dan propinsi. Namun, Perry meyakinkan bahwa kenaikan ini bersifat musiman.

BI melihat dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi (exchange rate pass thru) juga tidak akan kecil. Dengan demikian, BI memperkirakan inflasi Juni akan mencapai 0,22% (mtm) dan inflasi tahunannya sebesar 2,75% (yoy), sedangkan inflasi tahun kalendernya (Januari-Juni) mencapai 1,35% (ytd).

CADANGAN DEVISA

Pada bagian lain, cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2018 tercatat masih cukup sehat untuk menopang pembayaran impor sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah dan likuIditas valuta asing.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2018 tercatat merosot menjadi US$122,9 miliar dari posisi US$124,9 miliar pada akhir April 2018.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menuturkan, kebutuhan cadangan devisa minimum sebesar 3 bulan impor, sedangkan posisi aktual cadangan devisa 7 bulan impor.

"Sehingga posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup baik meskipun trennya menurun," kata Dody, Senin (11/6).

Dia menegaskan, BI masih memiliki second line of defense atas cadangan devisa. Salah satunya melalui Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Jepang senilai US$22 miliar yang dapat digunakan untuk keperluan tambahan likuiditas valuta asing (valas).

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro menuturkan, ke depannya cadangan devisa diperkirakan tetap berada pada kisaran US$120 miliar pada akhir 2018.

Tren cadangan devisa yang menurun, tambah Andry, disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, pengetatan kebijakan the Fed. Kedua, perang dagang antara China dan AS yang mungkin mengurangi volume perdagangan global. Ketiga, kenaikan harga minyak global dunia yang menyebabkan kenaikan harga barang impor.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman menuturkan posisi ini masih cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan US$124,9 miliar pada posisi akhir April 2018.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujar Agusman, Jumat (8/6).

Dia menambahkan, bank sentral menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Penurunan cadangan devisa pada Mei 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Editor: Achmad Aris

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer