KONSOLIDASI BUMN GAS : Valuasi Pertagas Masih Simpang-siurn

Oleh: Surya Rianto 07 Juni 2018 | 02:00 WIB
Ilustrasi/Antara-Irsan Mulyadi

JAKARTA — Kementerian BUMN menyebutkan valuasi PT Pertamina Gas yang bakal diakuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk. tidak akan lebih dari US$2,5 miliar. Namun, angka tersebut belumlah merupakan kata sepakat.

Deputi Bidang Pertambangan dan Industri Strategis Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menjelaskan bahwa proses pengintegrasian Pertamina Gas (Pertagas) ke emiten dengan kode saham PGAS akan ditempuh melalui jalan akuisisi. Namun, proses tersebut tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) mengingat valuasi yang tidak mencapai US$2,5 miliar. “Perkiraan valuasi Pertagas US$1,5 miliar—US$2 miliar,” ujarnya, Senin (4/6) malam.

Dengan nilai valuasi yang tidak mencapai US$2,5 miliar itu menjadi alasan pembatalan rencana RUPS Luar Biasa PGAS. Semula, PGAS akan meminta restu pemegang saham pada akhir Juni 2018.

Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menyampaikan proses penghitungan valuasi Pertagas masih berlangsung.

Adapun, skema integrasi pengalihan Pertagas ke PGN yang paling cepat adalah dengan akuisisi. “Jadi, penghitungan valuasi Pertagas dalam rangka integrasi ke PGN, proses valuasinya masih dalam pembahasan final,” tuturnya, Rabu (6/6).

Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas Alfred Nainggolan mengatakan bila valuasinya US$2,5 miliar, price to earning ratio (PER) Pertagas menjadi 21,5 kali. “Nilai PER Pertagas itu masih lebih besar ketimbang PGAS dalam perdagangan yang sekitar 17,6 kali,” ujarnya.

Jika valuasi Pertagas berada pada nilai US$2 miliar, Alfred menilai PER anak usaha Pertamina itu hampir sama dengan PGN yakni sekitar 17 kali. “Itu penilaian valuasi harga Pertagas dari sisi PE-nya,” ujarnya.

Alfred pun menilai potensi pendanaan yang bisa dilakukan PGAS adalah mixed antara pinjaman perbankan dan rights issue. “Kalau hanya menggunakan salah satu saja. Nilai yang dibutuhkan juga terhitung besar, terutama bila menggunakan pinjaman perbankan saja,” ujarnya.

kemarin, harga saham PGAS tercatat turun 3,11% menjadi Rp2.180 per saham dengan kapitalisasi pasar senilai Rp52,85 triliun.

Anggota Komisi VII DPR Kardaya Warnika menilai aksi akuisisi Pertagas oleh PGN cenderung lebih banyak menimbulkan efek negatif. Menurutnya, sektor hilir gas bumi menjadi kurang kompetitif karena hanya ada satu pemain besar. Hal itu membuat pembeli gas tidak ada pilihan lain karena cenderung monopoli.

Selain itu, aksi integrasi ini dilakukan di tengah kondisi dua perusahaan gas itu belum mencapai skala global. Jadi, hasil integrasi itu tidak akan berkembang karena tidak ada pesaing.

“Harusnya, biarkan dulu saja kedua perusahaan gas itu menjadi besar dan bisa bersaing hingga skala global. Setelah menjadi besar, baru bisa diintegrasikan dan memberikan dampak efisiensi yang signifikan,” ujarnya.

Kardaya pun menyebutkan sudah banyak contoh dari berbagai belahan dunia kalau perusahaan migas hulu maupun hilir butuh pesaing untuk bisa menjadi lebih besar.

Analis senior WoodMackenzie Edi Saputra menyatakan integrasi antara PGN dengan Pertagas dengan skema akuisisi justru akan lebih memberikan dampak positif.

“Kalau bicara natural monopoli dalam bisnis adalah hal yang lumrah. Apalagi, kalau mengingat infrastruktur gas bumi akan lebih efisien jika operasionalnya digabung,” ujarnya.

Edi mengatakan, integrasi itu pun bakal menghindari tumpang tindih pengelolaan jaringan transmisi dan distribusi gas. Apalagi, posisi PGN yang sudah masuk ke Pertamina membuat aksi akuisisi Pertagas menjadi hal yang masuk akal.

Namun, Edi menekankan ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti pengaturan akses infrastruktur. Soalnya, integrasi bisnis hulu, midstream, dan hilir harus diberikan kepastian pemerintah agar tidak mengganggu sistem yang terbuka dan transparan sehingga pemain lain tetap bisa berpartisipasi.

“Sektor midstream pun harus dikelola secara independen dan terpisah dari sektor hulu dan hilir sampai niaga. Hal itu bertujuan agar tingkat kompetisi pasar tetap terjaga,” ujarnya.

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer