LELANG WILAYAH PERTAMBANGAN : Antam Kepincut Aset Eks Vale

Oleh: Lucky L. Leatemia 06 Juni 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — PT Antam Tbk. tertarik dengan beberapa wilayah pertambangan yang akan mulai ditawarkan dan dilelang oleh pemerintah pada akhir bulan ini.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan bahwa pihaknya berencana mengikuti proses penawaran untuk wilayah izin usaha pertambangan khusus (WIUPK) dengan jenis komoditas nikel. Dari 6 WIUPK yang akan ditawarkan, lima wilayah di antaranya merupakan area pertambangan nikel bekas PT Vale Indonesia Tbk.

"Kita mau ikut yang dari eks Vale. Kemungkinan kita akan melakukan penawaran," ujarnya, Senin (4/6).

Namun, pihaknya masih menunggu kepastian kapan wilayah tersebut ditawarkan. Selain itu, Antam masih mengkaji wilayah mana saja yang jadi prioritas.

Selain WIUPK, Antam juga berminat mengikuti lelang untuk WIUP. Dari 10 WIUP yang akan dilelang, Antam membidik daerah Silo di Jawa Timur dengan jenis komoditas emas.

Terkait dengan ditetapkannya nilai kompensasi data informasi yang harus dibayar perusahaan, Arie menilai, hal tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan utama bagi perusahaan yang ingin mengikuti penawaran maupun lelang.

Menurutnya, nilai yang ditetapkan cukup tinggi. Oleh karena itu, tidak semua perusahaan bisa masuk.

"Itu yang perlu kita perhitungkan dengan pasti. Menurut saya, dibikin tinggi untuk mengurangi yang oportunis. Kalau terlampau murah nanti banyak yang oportunis ikut," tuturnya.

Dalam melelang 16 wilayah pertambangan tersebut, pemerintah menetapkan nilai kompensasi data dan informasi yang tinggi. Totalnya mencapai Rp4,095 triliun.

Nilai tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM No. 1805.K/30/MEM/2018 tentang Harga Kompensasi Data Informasi dan Informasi Penggunaan Lahan Wilayah Izin Usaha Pertambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus Periode Tahun 2018. Keputusan tersebut ditetapkan pada 30 April 2018.

Untuk WIUP, total nilai kompensasi datanya Rp1,765 triliun dengan nilai tertinggi untuk satu wilayah mencapai Rp225 miliar. Total nilai kompensasi data untuk WIUP khsusu mencapai Rp2,33 triliun dengan nilai tertinggi untuk satu wilayahnya mencapai Rp984,85 miliar. Padahal, jumlah WIUP khusus lebih sedikit dari WIUP yang akan dilelang.

Sebanyak 5 WIUP merupakan wilayah baru yang terdiri atas Blok Mulya Agung, Blok Waringin Agung, Blok Tumbang Karanei, Blok Silo, dan Blok Sribata. Sisanya merupakan wilayah bekas tahap eksplorasi yang terdiri atas Blok Natai Baru, Blok Tumbang Nusa, Blok Baronang I, Blok Baronang II, dan Blok Piner.

Seluruh WIUPK yang akan ditawarkan sebelum dilelang merupakan lahan bekas tahap operasi produksi yang terdiri atas Blok Latao, Blok Suasua, Blok Matarape, Blok Kolonodale, Blok Bahodopi Utara, dan Blok Rantau Pandan.

Selain itu, Antam menilai bahwa perusahaan yang menginisiasi penemuan prospek pertambangan di daerah baru (green fields) perlu mendapatkan keistimewaan dalam hak pengelolaan wilayah tersebut.

Arie Prabowo mengatakan, saat ini belum ada aturan tentang hak menyamakan tawaran (right to match) atas pengelolaan wilayah pertambangan oleh perusahaan yang menginisiasi penemuan prospek di sana. Artinya, perusahaan yang menemukan prospek tersebut tetap tidak bisa diutamakan dan harus mengikuti proses lelang seperti biasa.

"Kalau sekarang kita menemukan prospek tetap harus ikut lelang. Diharapkan nanti ke depan siapa pun yang menginisiasi [penemuan prospek] bisa dapat right to match."

Antam telah menjalin aliansi strategis dengan Newcrest Mining Limited, perusahaan tambang asal Australia, untuk mencari prospek-prospek mineral di Indonesia.

Dia menyatakan beberapa daerah yang telah mendapat perhatian lebih adalah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Arie mengaku sudah menemukan prospek yang cukup baik di daerah-daerah tersebut. (Lucky L. Leatemia)

Editor: Sepudin Zuhri

Berita Terkini Lainnya