MOMENTUM RAMADAN & LEBARAN : Tingkat Inflasi Rendah Perlu Diwaspadai

Oleh: Ipak Ayu H.N & Hadijah Alaydrus 06 Juni 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — Ekonom menilai hasil inflasi Mei 2018 yang tercatat hanya 0,21% patut untuk diwaspadai.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakan, dalam periode Puasa dan jelang Lebaran umumnya merupakan waktu bagi masyarakat melakukan belanja tanpa memperhatikan harga.

"Jadi saya tidak pernah merekomendasi inflasi rendah, tetapi memang itu bisa dianggap positif dan negatif," katanya, Selasa (5/6).

Tony mengemukakan, sisi positifnya pemerintah telah berhasil menjaga volatil food dan administered price.

Namun, sisi lain ini bisa menjadi indikasi jelang Lebaran masyarakat malah lesu tidak melakukan belanja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan, rule dari inflasi cukup sederhana.

Jika dalam periode bulanan inflasinya di bawah 0,3% itu bagus. Sebab, nanti setahun paling tinggi hanya berkisar 3,6%. "Nah, inflasi itu dikalikan di bulan-bulanannya. Jadi, kalau 12 bulan dikali 0,3% hasilnya 3,6%. Kalo segitu inflasinya itu masuk di dalam rencana pemerintah. Jadi, artinya angka sebesar 0,21% itu adalah angka yang menurut pemerintah bagus," ujarnya.

Darmin mengemukakan saat ini kondisi sudah sejalan dengan keinginan pemerintah. Terutama, harga bahan makanan sudah terkendali.

Sebenarnya, pemerintah khawatir harga daging ayam itu sedikit naik. Namun, ternyata dari komoditas lain telur dan beras sudah oke.

Selanjutnya, pemerintah masih akan berupaya mengendalikan harga pesawat yang biasanya melambung tinggi jelang Lebaran.

"Awal tahun itu sudah tinggi sehingga pemerintah kemudian terpicu untuk mengendalikannya. Jangan lupa beras itu sempat naik agak tinggi. Ini pun pemerintah masih ingin dia kembali ke angka HET," ujarnya.

Di lain pihak, pemerintah dan Bank Indonesia menampik rendahnya inflasi inti Mei 2018 sebagai cerminan dari daya beli masyarakat yang lemah.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Reza Anglingkusumo mengatakan, jika daya beli menurun, harga barang turun.

Saat ini, IHK menunjukkan adanya inflasi sehingga ini berarti harga-harga barang masih naik. "Jadi kalau masih ada inflasi masih ada demand, supply yang saling berinteraksi," ungkap Reza, Rabu (5/6).

Jika kondisi ini dikaitkan dengan daya beli yang melemah, dia menegaskan hal tersebut tidak tepat. Bahkan, inflasi Mei 2018 mencerminkan inflasi dengan struktur permintaan dan pasokan yang sehat dari kondisi perekonomian yang berimbang.

Adriyanto, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kemenkeu, menuturkan pihaknya tidak melihat adanya pelemahan daya beli mengingat pasar retail sudah mulai ramai.

"Namun kalau dibanding-bandingkan antartahun itu bisa relatif," kata Adriyanto.

Contohnya, libur Lebaran 2018 cukup panjang sehingga ada kemungkinan masyarakat lebih mementingkan biaya mudik dibandingkan dengan membeli pakaian baru. Hal ini merupakan preferensi masyarakat.

"Tetapi masih ada kenaikan harga berarti itu bukan sebuah tanda adanya pelemahan daya beli," tegasnya.(Ipak Ayu H.N/Hadijah Alaydrus)

Editor: Achmad Aris

Berita Terkini Lainnya