Ojek Online Mulai Ikut Sumbang Inflasi di Solo

Oleh: Hijriyah Al Wakhidah/JIBI 05 Juni 2018 | 08:23 WIB
Ojek Online Mulai Ikut Sumbang Inflasi di Solo
Ilustrasi./gojek.com

Bisnis.com, SOLO—Sektor transportasi menjadi sektor utama penyumbang inflasi Kota Solo pada Mei 2018.

Dengan inflasi yang tercatat 0,04%, sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan memberikan andil paling besar hingga 0,13% dengan angka inflasi 0,84%. Sedangkan bahan makanan yang semula paling dikhawatirkan mengerek inflasi pada awal Ramadan ini justru mengalami deflasi hingga -0,91%.

Berdasarkan informasi yang dihimpun JIBI, sektor transportasi yang paling signifikan mengerek inflasi antara lain tarif angkutan udara, jasa servis kendaraan, tarif kereta api, dan tarif taksi. Tarif angkutan udara, jasa servis kendaraan, dan tarif kereta api dipengaruhi dengan tingginya kebutuhan masyarakat yang mulai memburu tiket untuk arus mudik Lebaran.

Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Solo, Herminawati, menjelaskan selain moda pesawat terbang, kereta api, dan taksi, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir BPS Solo juga mulai memantau perkembangan ojek online sebagai salah satu objek survei dalam menghitung inflasi. Ojek online masuk dalam pemantauan BPS karena sudah menjadi sektor jasa yang paling banyak dibutuhkan masyarakat saat ini.

"Setiap tanggal 15 selama Maret-Mei ini kami sudah memantau ojek online. Kami pantau dua penyedia ojek online yakni Grab dan GoJek. Kami pantau di tiga lokasi yang sama kami hitung dengan rute dan jarak yang sama dan pada Mei ini terlihat tren kenaikan tarifnya. Mungkin bagi pengguna, kenaikan tarif ojek online ini tidak terasa tapi perhitungan kami pada Mei ini ada kenaikan dan menjadi salah satu penyumbang inflasi," kata Herminawati, saat berbincang dengan JIBI, Senin (4/6/2018).

Sementara itu, berdasarkan jenis komoditas, telur ayam ras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi karena selama Mei lalu mengalami kenaikan harga hingga 9,36%. Komoditas lainnya yang juga mendorong inflasi antara lain petai, jeruk, daging ayam ras, rokok kretek, dan daging sapi. Petai mengalami perubahan harga hingga 63,63%. Daging sapi yang selama ini di pasaran terpantau stabil harga di kisaran Rp120.000/kg, namun rupanya tetap menyumbang inflasi.

"Inflasi terjadi pada daging sapi yang dijual di pasar modern atau di ritel modern. Kalau di pasar tradisional harganya masih stabil," kata dia.

Sementara itu, komoditas pokok yang biasanya menjadi pemicu utama inflasi, pada Mei kemarin justru menjadi penghambat inflasi seperti bawang putih, cabai merah, cabai rawit, termasuk beras.

Kepala BPS Solo, R.Bagus Rahmat Susanto, menuturkan inflasi Mei tahun ini jauh lebih terkendali dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,33%.

"Penurunannya cukup tajam meskipun pada Mei tahun ini ada Ramadan sedangkan Mei tahun lalu belum memasuki masa Ramadan."

Di satu sisi, Bagus menambahkan tahun ini BPS tengah melakukan survei biaya hidup yang akan menjadi dasar bagi BPS untuk menentukan bobot timbangan baru penghitungan inflasi. Seperti diketahui, setiap lima tahun sekali ekonomi dan kebutuhan masyarakat akan komoditas mengalami perubahan dan pergeseran.

Survei biaya hidup dan penghitungan kembali bobot timbangan inflasi sangat diperlukan agar data-data kaitannya dengan inflasi lebih valid sesuai dengan kondisi lapangan. Survei akan merumuskan komoditas yang paling banyak di konsumsi masyarakat saat ini.

Sumber : Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya