JELANG LEBARAN : Animo Masyarakat Memburu Uang Pecahan

Oleh: Ropesta Sitorus 05 Juni 2018 | 02:00 WIB

Usai subuh, orang berduyun-duyun memadati area parkir di lapangan IRTI Monas, jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Mereka rela berangkat sebelum matahari terbit demi menukarkan uang ke pecahan yang lebih kecil.

Pemandangan pada Rabu (23/5), sekitar pukul 09.00 WIB ratusan orang sudah berkumpul di lokasi tersebut. Puluhan orang tampak antre, puluhan lainnya duduk di bangku-bangku di bawah tenda, dan puluhan lainnya memadati mobil kas yang berjajar di bawah rindangnya pohon.

“Nomor antrean 100-130 silahkan maju menuju mobil yang kosong,” suaranya seorang petugas penukaran uang terdengar dari pengeras suara. Puluhan orang berdiri dan berjalan cepat menuju ke arah mobil.

Mereka duduk sebentar di dalam mobil, lalu mengeluarkan uangnya dan sebagai gantinya mendapat paket uang di dalam amplop coklat.

Satu paket senilai total Rp3,7 juta tersebut terdiri dari satu bundel uang pecahan Rp20.000 senilai Rp2 juta, pecahan Rp10.000 senilai Rp1 juta, pecahan Rp5.000 senilai Rp500.000, dan pecahan Rp2.000 senilai Rp200.000.

BI menggandeng sedikitnya 13 bank untuk membuka mobil kas di lapangan IRTI, yakni BCA, Bank Jabar Banten, BNI, BNI Syariah, BRI, BSM, BTN, Bank Cimb Niaga, Bank DKI, Bank Mandiri, Bank Maybank, Bank Mega, dan Bank Permata.

Masing-masing bank menyiapkan sekitar Rp400 juta dan ditargetkan melayani sekitar 100 orang setiap hari. Secara total, Tim Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia menargetkan dapat melayani penukaran uang receh baru bagi 1.300 orang masyarakat per hari.

Pada hari pertama, setidaknya ada 500 orang yang dilaporkan datang menukarkan uang receh. Jumlahnya mulai meningkat pada hari kedua. Selama sepekan digelar di IRTI Monas. Selanjutnya akan berpindah-pindah di sejumlah tempat di Jabodetabek.

Syarat penukaran cukup mudah. Warga hanya perlu menunjukkan kartu identitas atau KTP yang akan didata oleh petugas. Setiap orang hanya dapat mengambil satu nomor antrean. Orang yang sama dapat datang kembali pada hari ketiga.

Demi mendapatkan uang cetakan baru itu, warga rela datang pagi-pagi. Pada waktu itu, tak hanya dari Jakarta Pusat, banyak yang dari luar kota menyerbu lokasi penukaran uang yang dibuka BI sejak Senin, 21 Mei lalu.

Katminatin, 43 tahun, misalnya. Perempuan yang berdomisili di Bekasi itu datang dengan harapan menukar uang baru untuk dibawa saat mudik ke kampung halaman.

“Teman saya bilang di sini sepi, makanya saya ke sini. Enggak tahunya lumayan ramai hari ini, saya antre sejam mulai dari pukul 10.15 WIB,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Desi Siahaan, 23 tahun, yang berdomisili di Jakarta Pusat. Desi yang setiap tahun mengaku selalu menukar uang tunai jelang Lebaran, mengatakan layanan penukaran uang di lapangan IRTI Monas lebih ringkas, dari sisi antrean, dibandingkan dengan di outlet bank.

Animo menukar uang untuk dibawa pulang saat mudik memang selalu tinggi. Sudah menjadi satu kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat di Tanah Air untuk membagikan uang kepada sanak saudara, terutama yang lebih muda, pada saat hari besar tiba.

Bahkan menurut catatan Bank Indonesia, permintaan uang tunai untuk periode Lebaran dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Itu sebabnya, meskipun BI sudah mendorong gerakan nasional nontunai, jumlah penyediaan uang tunai masih terus ditambah setiap tahun.

Kali ini titik-titik penukaran uang diperbanyak. Secara total ada 1.000 titik penukaran uang yang dioperasikan di area publik di seluruh Indonesia. Adapun, khusus di Jabodetabek setidaknya ada 160 titik penukaran, salah satunya lapangan IRTI Monas.

Menurut Assistant Vice President Kelompok Sentra Kas Bank PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Masauddin, area Monas dipilih karena merupakan daerah publik yang paling strategis dan mudah diakses.

“Pekan pertama di sini, berikutnya akan pindah ke beberapa titik lagi. Tapi sebetulnya selain di sini, di outlet kami juga disediakan layanan seperti ini. Di BNI ada 10 outlet, Bank Mandiri dan BRI juga ada outlet yang dibuka, tujuannya untuk membuat pemerataan,” kata Masauddin.

Lonjakan permintaan uang tunai dinilai paling tinggi di Jakarta, khususnya pasca pembagian THR. Menurut perkiraan BNI, setidaknya kebutuhan uang tunai dapat tumbuh sampai 5% pada periode Ramadan- Lebaran 2018.

“Tiap pekan kami siapkan Rp13,7 triliun. Khusus untuk pekan ke-IV mencapai Rp19,9 triliun. Sebanyak 67% kami siapkan dari kas internal seperti dari dana simpanan masyarakat dan sisanya dari eksternal seperti Bank Indonesia,” tambahnya.

Setali tiga uang, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga meningkatkan persediaan uang kas untuk melayani kebutuhan uang tunai bagi masyarakat.

Senior Executive Vice President Chief Technology Officer Bank Mandiri Joseph Georgino Godong menyatakan jumlah uang tunai yang disiapkan mencapai Rp50 triliun. Mayoritas atau 70% dari uang tunai tersebut akan disebarkan di jaringan ATM Bank Mandiri di seluruh Indonesia.

“Tahun lalu kami siapkan dana sekitar Rp40 triliun, jadi naik sekitar 13%,” katanya di sela-sela acara penukaran uang kecil di lapangan IRTI Monas, Jakarta, Rabu (23/5).

Lebih lanjut, Joseph menyebutkan layanan penukaran uang akan dilakukan hingga H+7 Lebaran. Setelah itu, kantor cabang akan ditutup menjelang Lebaran, penyediaan uang akan mulai bergeser dari pusat kota ke daerah-daerah tujuan mudik.

“Sekarang kami masih kumpulkan dari setoran dan dana yang diambil dari BI, setelah H-7 nanti kami mulai masukkan ke ATM dan dijaga terus stoknya. Kalau sudah dekat hari H, fokusnya sudah tidak di kota lagi, tapi geser ke daerah-daerah dan kawasan Pantura,” paparnya.

Selaras dengan kenaikan alokasi uang tunai di tiap-tiap bank, menurut Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi, secara nasional jumlah uang tunai yang disiapkan pada Lebaran 2018 mencapai Rp188,2 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar Rp163,2 triliun.

Selain di pusat-pusat kota, nantinya lokasi penukaran uang juga disiapkan di area yang ramai seperti di pasar hingga rest area di jalan tol.

“BI ingin masyarakat menukar uang di tempat yang resmi. Masyarakat harus diedukasi jangan menukar di tempat yang tidak resmi. Selain uangnya jadi berkurang karena ada tambahan biaya, kita juga tidak tahu uangnya asli atau tidak,” katanya.

Selain itu, dia juga meminta masyarakat berhati-hati dalam melakukan transaksi dengan meneliti ciri-ciri keaslian uang dengan metode 3D, yakni dilihat, diraba, diterawang.

Guna memudahkan untuk mengenali keaslian uang rupiah, masyarakat juga diimbau untuk menjaga dan merawat rupiah melalui metode 5 Jangan: Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distapler, Jangan Diremas, dan Jangan Dibasahi.

Sementara itu, di tengah meningkatnya kebutuhan akan uang tunai, BI juga berupaya untuk memadukan layanan tunai dan non tunai dalam rangka mewujudkan less cash society.

Meskipun penyediaan uang tunai masih terus ditambah, menurut Onny Widjanarko, Kepala Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia, pertumbuhan transaksi nontunai juga terus melejit.

“Sejak akhir Desember 2017 – Maret 2018 transaksi nontunai tumbuh 361% dengan nominal sekitar Rp4 triliun. Pertumbuhannya cepat sekali. Kami prediksi saat Lebaran nanti transaksi nontunai, khususnya di jalan tol, bisa tumbuh lebih kencang lagi,” paparnya.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya