Pinsar Ingatkan Potensi Gejolak Harga Telur Bisa Terjadi Lagi

Oleh: Hijriyah Al Wakhidah 24 Mei 2018 | 09:56 WIB
Pinsar Ingatkan Potensi Gejolak Harga Telur Bisa Terjadi Lagi
Penasihat Pinsar Pusat, Robby Susanto.

Bisnis.com, SOLO—Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) memprediksi potensi gejolak harga telur masih akan terjadi tidak hanya menjelang Lebaran namun hingga enam atau tujuh bulan ke depan.

Meskipun harga telur di pasaran pada Rabu (23/5) kemarin menunjukkan tren penurunan dari Rp23.500-Rp24.000/kg menjadi Rp21.000-Rp22.000/kg, bahkan Pinsar memprediksi Kamis (24/5) ini masih berpotensi turun lagi, namun potensi gejolak harga bakal tak terhindarkan saat peternak mulai memangkas populasi ternak dan membuang ternak ayam yang mengalami penurunan produktivitas.

Seperti diketahui, belakangan ini peternak ayam petelur dihadapkan pada masalah penurunan produktivitas akibat penyakit H9N2 yang kini tengah mewabah serta pelarangan penggunaan antibiotic growth promotor (AGP). Pelarangan penggunaan AGP ini cukup signifikan mengurangi produktivitas ayam petelur.

Penurunan produktivitas inilah yang kemudian sempat memicu kenaikan harga telur beberapa waktu lalu menjadi Rp24.000/kg.

Penasihat Pinsar Pusat, Robby Susanto, menjelaskan saat ini peternak tengah dihadapkan pada dua persoalan menyangkut produktivitas dan keduanya belum ada solusi. Dampak penyakit H9N2 ini menurunkan penurunan produktivitas telur dari yang semula bisa 90% menjadi 40% bahkan ada yang turun menjadi 20%.

Penurunan produksi telur ini sangat berdampak pada pasokan telur nasional. Sedangkan di pasaran Soloraya, pasokan masih relatif aman karena suplai telur di wilayah Soloraya ditopang oleh peternak tidak hanya asal Soloraya tapi juga Jatim.

Sekretaris Pinsar Soloraya, Heru Santoso, menjelaskan suplai dan pasokan telur dari peternak di Soloraya yang didominasi peternak kelas menengah dan besar juga mengalami penurunan.

Dari populasi ayam sebanyak 5 juta ekor, produktivitasnya kini rata-rata tinggal 50% atau bisa memproduksi 2,5 juta butir telur per hari. Jika satu butir telur asumsinya memiliki berat 60 gram, maka rata-rata pasokan telur dari peternak di Soloraya berkisar 1.500 ton per hari.

Jumlah pasokan ini turun dari pasokan normal yang idealnya 5 juta ekor ayam produktivitasnya semestinya bisa 70%-75%. "Atau per 1.000 ekor semestinya bisa 52 kilogram sampai 50 kilogram telur kini hanya 40 kilogram bahkan di bawah itu."

Produksi telur Soloraya ini banyak memasok telur ke berbagai daerah termasuk luar Jawa.

Kendati ada penurunan produksi, namun kebutuhan telur untuk Soloraya masih bisa dipenuhi sehingga stok di tingkat pedagangpun mampu memenuhi seberapapun permintaan pasar.

"Memang perdagangan telur di Solo ini aneh, banyak produksi dari peternak besar. Namun mereka pasok keluar dan Solo juga masih mendatangkan dari daerah lain. Jadi kalau bicara telur jangan hanya skala Solo justru pasar nasional ini yang harus diperhatikan karena dominan dipasok dari peternak kecil," kata Robby.

Persoalannya saat ini banyak ayam petelur yang tidak produktif akibat wabah tersebut yang akhirnya diseleksi oleh peternak dan dibuang. Padahal akibatnya suplai telur akan jadi berkurang.

"Dan tren ini mulai terjadi di kalangan peternak. Kami perkirakan puncak penurunan suplai justru terjadi tepat saat menjelang lebaran."

Untuk mengembalikan posisi suplai semula perlu waktu 6-7 bulan. Jadi pada rentang waktu itulah potensi gejolak harga bakal terjadi.

"Kalau yang tidak produktif ini tidak dibuang atau dikurangi peternak bakalan rugi."

Di satu sisi Heru juga berharap pemerintah tidak hanya mengatur harga telur tapi juga harga pakan ayam yang 70 persen mendominasi biaya produksi dan didominasi bahan impor.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya