SENTIMEN DAGANG AS-CHINA : Emas Comex Sentuh US$1.300

Oleh: Mutiara Nabila 24 Mei 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA – Kendati dolar Amerika Serikat dalam posisi yang kuat, harga emas justru naik terdorong oleh ketidakpastian hasil negosiasi dagang antara AS dan China.

Pada perdagangan Rabu (23/5) pukul 17.00 WIB, harga emas spot merangkak naik 6,27 poin atau 0,49% menjadi US$1.297 per troy ounce dari penutupan perdagangan sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut diikuti oleh emas Comex yang naik 4,7 poin atau 0,36% menjadi US$1.302 per troy ounce.

“Trump kemarin [Selasa, 22/5] mengatakan dia tidak senang dengan pembicaraan perdagangan baru-baru ini antara AS dan China, tetapi tetap membuka pintu untuk negosiasi lebih lanjut,” ujar Ahmad, analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya, Rabu (23/5).

Kemarin, indeks dolar AS tercatat masih menguat di hadapan sejumlah mata uang utama bergerak naik 0,37 poin level 93,98.

Saat ini, sejumlah investor tengah menantikan pertemuan kebijakan The Fed AS untuk mengetahui kemungkinan pengetatan moneter AS lebih lanjut.

“Sejumlah pembelian emas biasanya karena keengganan pembeli untuk menghadapi risiko. Menurut kami, emas masih bisa menjadi aset pilihan untuk dibeli jika ada ketidakpastian dan risiko politik seperti itu,” ujar Barnabas Gan, ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp. seperti dikutip Bloomberg, Rabu (23/5).

Gan juga mengungkapkan bahwa pasar tengah berfokus pada kebijakan Federal Reserves yang kemungkinan dapat memberi warna pada pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku bunga.

“Emas memang mengalami sedikit penguatan, namun sudah mulai kehilangan tenaga karena dolar AS yang terus menguat,” ujar salah satu trader di Hongkong seperti dikutip dari Reuters, Rabu (23/5).

Pada pertemuan pembahasan kebijakan Mei lalu, bank sentral AS menunjukkan kepercayaan dirinya terhadap perekonomian dan mempertahankan suku bunga acuannya dengan tidak melakukan perubahan. Mereka mengatakan bahwa tingkat inflasinya telah mendekati target bank dan membuat bank sentral harus menaikkan biaya pinjaman untuk Juni.

Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, karena kenaikan tersebut juga menambah peluang biaya bagi pemegang bullion yang tak berbunga dan mendorong penguatan dolar yang menjadi acuan harga logam.

Trump juga mengatakan bahwa ada “kesempatan besar” pada pertemuan dengan Pimpinan Korea Utara Kim Jong-un yang tidak akan berlangsung sesuai rencana sebelumnya pada 12 Juni di Singapura, karena khawatir Korut akan menolak menyerahkan persenjataan nuklirnya.

Ketegangan politik seperti itu dapat meningkatkan permintaan pada aset safe-haven, seperti emas dan mata uang yen Jepang.

Walter Hellwig, Senior Vice President BB & T Wealth Management di Birmingham, Alabama, mengatakan risiko masih membayangi pasar. Kondisi itu tidak membuat dana investasi mengalir ke pasar logam mulia karena dolar menguat dan suku bunga acuan AS naik.

Sementara itu, portofolio manager Washington Crossing Advisors Chad Morganlander mengatakan dolar AS menjadi fokus yang kritikal bagi spekulan di pasar emas.

“Dalam jangka menengah hingga panjang, ketegangan politik yang meningkat sejalan dengan fokus terhadap potensi pertumbuhan ekonomi emerging-market memberikan bahan bakar baru terhadap emas,” kata Morganlander. (Bloomberg/Reuters/Mutiara Nabila)

Editor: Ana Noviani

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer