EKSPOR DAGING SAPI: JPFA Sasar Malaysia

Oleh: Novita Sari Simamora 24 Mei 2018 | 02:00 WIB
EKSPOR DAGING SAPI: JPFA Sasar Malaysia
Ilustrasi - Pedagang memotong daging sapi di Pasar Kota, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (8/6)./Antara-Aguk Sudarmojo

JAKARTA - Untuk meningkatkan penjualan daging sapi wagyu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. berencana memperkuat pangsa pasar ekspor dengan masuk ke Malaysia.

Director Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia Rachmat Indrajaya mengungkapkan, perseroan telah memasarkan daging sapi wagyu ke Myanmar pada awal tahun ini.

Dalam waktu dekat, Japfa akan menambah negara tujuan baru. “Ke depannya, kami akan menyasar Malaysia,” ucapnya di kantor Bisnis Indonesia, Rabu (23/5).

Dia mengungkapkan, pangsa pasar ekspor perseroan masih sangat kecil. Namun, perseroan akan memperbesar dengan menyasar negara-negara baru. Ekspor wagyu tersebut berada di bawah PT Santosa Agrindo (Santori).

Selain ekspor wagyu, perseroan juga mengekspor produk budi daya perairan. Rachmat menuturkan, segmen budi daya perairan memiliki potensi pasar yang sangat besar, khususnya untuk pasar ekspor yang menjadi target pasar utama perseroan.

Menurutnya, kebutuhan pasar dunia akan produk ikan dan udang terus meningkat. Perseroan pun berencana melakukan budi daya ikan patin.

Selain itu, emiten berkode saham JPFA ini juga telah mengekspor crude coconut oil ke China, serta kopra ekstraksi diekspor ke Korea Selatan dan Jepang. Untuk pasar domestik, unit usaha pengolahan bungkil kopra perseroan menyuplai kopra ekstraksi sebagai bahan baku pakan ternak sapi.

Tak hanya itu, Japfa juga mengekspor vaksin unggas. Vaksin hewan juga telah diekspor ke sembilan negara yaitu Vietnam, Thailand, Nepal, Pakistan, Suriah, Malaysia, Myanmar, Lebanon, dan Nigeria.

Dari sisi segmen penjualan, JPFA mencatatkan nilai penjualan paling tinggi per Maret 2018 adalah peternakan dan produk konsumen senilai Rp3,51 triliun, disusul oleh pakan ternak dan ayam umur sehari masing-masing senilai Rp2,75 triliun dan Rp641,9 miliar.

Pada segmen budi daya perairan dan peternakan sapi, masing-masing berkontribusi Rp568,71 miliar dan Rp295,63 miliar, serta segmen perdagangan dan lain-lain mencapai Rp197,34 miliar.

Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada segmen peternakan dan produk konsumen hingga 30,9%. Sementara itu, segmen pakan ternak dan ayam umum sehari masing-masing tumbuh 8,69% dan 30% year-on-year.

Sebagai informasi, perseroan mengalokasikan modal senilai Rp2,5 triliun pada 2018. Hingga Maret 2018, pengeluaran belanja modal Japfa sudah mencapai Rp587,39 miliar. Realisasi belanja modal paling besar untuk kebutuhan segmen perdagangan dan lain-lain senilai Rp250,34 miliar, disusul segmen ayam umur sehari (DOC) senilai Rp172,24 miliar.

Head of Government Relations JPFA Fitri Nursanti Poernomo mengatakan, perseroan akan meningkatkan effort untuk biosecurity peternakan ayam demi mengurangi ketergantungan terhadap zat antibiotik maupun antikoksi.

Selama ini, Antibiotic Growth Promoter (AGP) kerap ditambahkan pada pakan ternak dengan dosis kecil guna membantu terpacunya pertumbuhan.

Namun, efektif per 1 Januari, Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan tak lagi mengizinkan penggunaan AGP sebagai imbuhan pakan ternak karena dinilai berpotensi menyebabkan resistensi antibiotik pada hewan. Ini dikhawatirkan berimbas pula bagi manusia sebagai konsumen produk ternak. (Novitasari Simamora)

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya