Sejumlah Komoditas Pangan di Jatim Surplus hingga Juli 2018

Oleh: Choirul Anam 17 Mei 2018 | 15:45 WIB
Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, MALANG—Beberapa komoditas pangan, yakni beras, gula, cabai merah besar, cabai rawit merah, cabai merah keriting, jagung, bawang merah, daging sapi, daging ayam ras, dan telur ayam, mengalami surplus hingga Juli 2018.

Gubernur Jatim Soekarwo menegaskan cadangan stok beras di gudang Bulog Jatim mencapai 227.462 ton. Juli mendatang komoditas tersebut diproyeksikan i surplus 859.241 ton.

“Untuk komoditi gula, stok di gudang Bulog Jatim mencapai 25.762 ton, sedangkan produksi gula di Jatim mencapai 1.010.447,1 ton/tahun, dengan jumlah konsumsi mencapai 450.000 ton/tahun,” katanya dalam keterangan resminya, Kamis (17/5/2018).

Untuk cabai merah besar, pada Mei ini Jatim surplus 569 ton, sedangkan Juli mendatang komoditas tersebut meningkat dengan mengalami surplus 1.635 ton.

Cabai merah keriting stoknya masih aman dan surplus 13.631 ton pada Juli 2018.

Komoditas lainnya yang juga surplus hingga Juli 2018, kata Gubernur, yakni jagung surplus sebesar 246.254 ton, bawang merah (17.426 ton), daging sapi (3.463 ton), daging ayam ras (30.552 ton), dan telur ayam dengan surplus (88.762).

“Yang kami impor hanya dua komoditas,yakni kedelai dan bawang putih. Untuk kedelai, tingkat konsumsi di Jatim mencapai 410.000 ton, sedangkan produksinya mencapai 350.000 ton atau sebanyak 37% dari produksi nasional, sehingga masih kurang 60.000 ton” katanya.

Dengan demikian, kata dia, memasuki Ramadan 1439 H, stok berbagai barang kebutuhan pokok di Jawa Timur dipastikan aman. Ketersediaan bahan pokok di Jatim secara keseluruhan sangat cukup, baik itu stoknya maupun yang terdapat di pasar-pasar di kabupaten/kota.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto dalam suatu kesempatan mengatakan produksi telur ayam ras di Blitar, yang merupakan sentra produksi telur nasional, tidak mengalami penurunan. Produk tetap normal.

Karena itulah, jika terjadi kenaikan harga pada komoditas tersebut, maka hal itu dipicu karena tingginya permintaan yang merupakan siklus tahunan.

Intinya, pada menjelang hingga memasuki Ramadan harga telur biasanya naik karena tingginya permintaan dari industri makanan yang membuat memproduksi kue dalam jumlah besar untuk memasok kebutuhan Lebaran.

Kepala Bulog Malang Fachria Latuconsina dalam suatu kesempatan menegaskan stok beras tinggi karena memang pada April-Mei merupakan puncak panen padi.

Bulog Malang sendiri berhasil menyerap beras petani sebanyak 6.000 ton sehingga mencukupi untuk memenuhi kebutuhan Bulog hingga 5 bulan ke depan, termasuk menggelar operasi pasar dan stabilisasi harga.

Untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan utama di wilayah kerja Bulog Malang, yakni Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Kab. Pasuruan, dan Kab. Malang, maka pihaknya akan menggandeng pemda dan BUMN menggelar Pasar Murah pada Ramadan sampai menjelang Lebaran untuk menjaga stabilitas harga bahan-bahan pangan utama.

“Tapi untuk saat ini, harga komoditas pangan utama, seperti beras, masih stabil,” ujarnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer