Kapolri Soroti Masalah Lapas Teroris di Indonesia

Oleh: Arif Gunawan 17 Mei 2018 | 14:17 WIB
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) memberi keterangan pada wartawan usai meninjau rutan cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua pasca kerusuhan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5). Kapolri meninjau Mako Brimob pasca insiden antara narapidana teroris dengan petugas yang mengakibatkan lima anggota Polri dan seroang teroris meninggal dunia. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, PEKANBARU -- Aksi teror di Mako Brimob pekan lalu salah satunya dipicu kapasitas lapas untuk narapidana teroris yang terbatas. Hal ini turut menjadi perhatian Kapolri menyusul maraknya aksi teror di Tanah Air.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan saat ini pihaknya terus berupaya memperbaiki masalah lapas ini, khususnya yang berkaitan dengan lapas teroris.

"Ini tidak hanya soal ketersediaan lapas dan manajemen lapas, tetapi juga harus ada maksimum security, karena mereka [napi teroris] ini cukup berbahaya, tidak bisa di lapas biasa apalagi digabung dengan tahanan lain," kata Tito, Kamis (17/5/2018).

Napi teroris ini, ujar Tito, berbahaya karena kelompok-kelompok mereka didorong oleh masalah pemahaman. Tentu saja berisiko bila mereka bergabung dengan tahanan biasa.

Seperti diketahui, saat terjadi kerusuhan yang diwarnai penyanderaan petugas di rutan cabang Salemba di Mako Brimob terdapat sebanyak 156 napi teroris. Selain menyebabkan lima anggota Kepolisian meninggal dunia dan empat luka-luka, satu napi teroris juga tewas di lokasi.

Setelah melalui drama penyanderaan puluhan jam, para napi teroris akhirnya menyerahkan diri. Selanjutnya, 155 napi teroris itu dipindahkan ke Lapas di Nusa Kambangan, Jawa Tengah.

Langkah Kepolisian yang memilih pendekatan lunak atau soft approach demi menghindari jatuhnya banyak korban dalam  mengatasi kerusuhan dan penyanderaan di rutan tersebut mendapat apresiasi sejumlah pihak.

 

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya