Bibit Terorisme di Surabaya Tumbuh Subur, Benarkah?

Oleh: Miftahul Ulum 16 Mei 2018 | 08:21 WIB
Bibit Terorisme di Surabaya Tumbuh Subur, Benarkah?
Warga melintas di dekat spanduk penolakan terhadap teroris di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5)./Antara-Andreas Fitri Atmoko

Bisnis.com, SURABAYA — Adanya aksi terorisme di Surabaya mengagetkan warga, pasalnya wilayah ini dikenal dengan daerah yang aman dengan ciri khas masyarakat terbuka dan egaliter.

"1998 saja enggak ada rusuh apa-apa di sini," kata Syaharuddin, karyawan perusahaan swasta yang tinggal di Surabaya Barat, Selasa (15/5/2018).

Sosiolog Tuti Budirahayu mengungkapkan pernyataan senada. Apa benar orang Surabaya bisa menjadi seperti itu, kejam menjadi teroris? Kok bisa warga Kota Pahlawan yang dikenal egaliter seperti itu?

Fenomena sosial sepertinya bisa memberi simpul petunjuk. Tuti yang mendalami sosiologi perilaku sosial mendapati fenomena berkembang pesatnya kelompok keagamaan di kota ini.

"Cukup banyak kelompok ini. Ada ustaz yang keras. Kita tidak mencurigai (ini pemicunya) dan bisa meredam. Tapi yang keras ada dan banyak," kata dosen Universitas Airlangga dengan spesialisasi topik penyimpangan sosial, Selasa (15/5/2018).

Keras dalam konteks ini seperti tidak mengakui dan membenarkan soal pluralisme. Mempertanyakan simbil dan wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan secara perlahan tak mengakuinya.

Tuti mendapati pertemuan sejenis ada yang berskala kota dan lingkungan. Skala RT, RW juga ada, temasuk yang lebih intensif sebagai komunitas. Muaranya doktrinasi paham yang bertentangan dengan falsafah negara.

"Ke depan perlu ada penguatan pemahaman kebangsaan, melalui masyarakat, negara, melalui sekolah, pemerintah untuk terus melawan indoktrinasi," paparnya.

Jangan Kucilkan

Akademisi dan Psikolog Sosial Universitas Airlangga Bagus Ani Putra menyarankan dilakukan deradikalisasi di semua bidang, terutama pendidikan, guna menekan aksi terorisme di Tanah Air.

"Moralitas yang baik tentunya meliputi baik dalam menerima ilmu pengetahuan. Termasuk bagi napi teroris dan mantan napi teroris," jelasnya, Selasa (15/5/2018).

Menurutnya pendidikan penting karena dalam tubuh manusia ada emosi dan logika/rasional. Keduanya harus seimbang. Nah, pelaku mempunyai emosi dalam keyakinan yang berlebih sehingga fungsi rasionalnya tertutup.

"Ini menyebabkan pelaku tidak berpikir panjang akan tindakan yang merugikan diri sendiri, keluarga dan khalayak," tuturnya.

Adapun di sisi lain, masyarakat juga disarankan tidak mengucilkan karena ini bisa dipersepsi sebagai tekanan lingkungan berupa ketidakadilan. Alasan ketidakadilan dan dogma menyimpang salah satu faktor eksternal pendorong pelaku teror.

"Pemerintah juga hendaknya meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan psikologis keluarga," ujarnya.

Seperti diketahui aksi teror bom bunuh diri terjadi di Surabaya, Minggu-Senin (13-14/5/2018). Pelaku diketahui berasal dari satu keluarga dan kelompok, dengan melibatkan anak-anaknya dalam aksi tersebut.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo dalam kesempatan berbeda mengajak pemimpin dan tokoh masyarakat merangkul lingkungan untuk membangun pemahaman hidup bersama.

"Pemimpin sekarang harus banyak mendengarkan, merangkul, ajak bersama bagaimana baiknya," jelasnya perihal langkah yang bisa dilakukan untuk menekan aksi teror.

Komunikasi bersama itu, kata dia, bisa menekan pemaksaan pemikiran yang bisa menyebabkan terjadi gejolak. Hanya dengan menekan miskomunikasi stabilitas Jawa Timur bisa terjaga.

"Ini penting karena Jatim memiliki pengaruh ke 16 provinsi. Komoditas banyak dari sini, pengiriman juga dari pelabuhan Jatim. Jadi ini yang penting," katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya