Tujuh Bandara di Papua Gunakan Alat Navigasi Buatan BPPT & INTI

Oleh: Thomas Mola 14 Mei 2018 | 18:37 WIB
Tujuh Bandara di Papua Gunakan Alat Navigasi Buatan BPPT & INTI
Bandara Wamena di Kabupaten Jayawijaya, Papua/Dephub.go.id

Bisnis.com, JAKARTA—Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan Sistem Pemantau Penerbangan Berbasis ADS-B (Automatic Dependent Surveillance - Broadcast) akan dipasang di tujuh bandara di Papua. ADS-B merupakan salah satu karya BPPT untuk membantu penerbangan di wilayah terpencil.

Direktur Pusat Teknologi Elektronika (PTE-BPPT) Yudi Purwantoro mengatakan ADS-B adalah sistem navigasi penerbangan dengan setiap pesawat terbang memancarkan data penerbangannya berupa identitas, koordinat lokasi, ketinggian, kecepatan, dan indikator lainnya, ke segala arah secara terus menerus melalui media gelombang radio.

"Alat ini akan dipasang di Bandara Wamena, Sentani, Oksibil, Dekai, Senggeh, Borme dan Elelim. Pemasangan tujuh titik secara bertahap pada tahun 2018. Titik awal di Sentani, target akhir Juni siap beroperasi," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (14/5/2018).

Dia menjelaskan tipe ADS-B yang akan digunakan ialah ADS-B Ground Station. Menurutnya, keunggulan ADS-B Ground Station adalah data dapat dilihat secara lokal di masing-masing Bandara, melalui Situational Display Monitor juga dikirimkan secara bersamaan ke Air Traffic Control System milik Airnav Indonesia di Sentani.

Dia menuturkan dengan terpasangnya ADS-B di tujuh titik lokasi tersebut, pesawat-pesawat yang nantinya terbang pada rute atau jalur penerbangan Sentani-Wamena-Oksibil dapat dimonitor dengan baik melalui Situational Awareness Display oleh Air Traffic Controller.

"Dengan Teknologi ADS-B sebagai teknologi surveillance nantinya akan lebih banyak lagi area penerbangan di bawah Flight Level 24.000 feet yang belum ter-cover situational awareness display akan bisa di-cover dengan lebih baik. Jadi petugas ATC di Papua dapat memonitor pesawat secara real time, bukan dengan menggambar titik-titik lagi," jelasnya.

Yudi menjelaskan jumlah bandara kecil di Indonesia sekitar 300 bandara dan sedikitnya 250 bandara berpotensi dipasang ADS-B. Di Papua terdapat 190 bandara yang membutuhkan ADS-B.

"Dengan adanya infrastruktur navigasi ini jumlah penerbangan di Papua bisa ditingkatkan dan tidak lagi terlalu terpengaruh dengan kondisi cuaca," pungkasnya.

Adapun, ADS-B Ground Station BPPT-INTI diberi kode produk AGS-216. ADS-B Ground Station AGS 216 merupakan ground station buatan dalam negeri pertama yang telah dirancang BPPT dan diproduksi PT INTI.

ADS-B AGS-216 telah disertifikasi oleh Kementerian Perhubungan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara yang mengacu pada Standar Internasional (Amerika dan Eropa) untuk ADS-B pada awal tahun 2017, dan layak digunakan secara operasional.

Dengan demikian AGS-216 setara dengan perangkat yang dihasilkan industri negara maju seperti buatan Thales. Keberhasilan ini mendukung efisiensi nasional dan peningkatan kemandirian serta daya saing bangsa melalui inovasi teknologi dan penggunaan produk dalam negeri meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

BPPT mengklaim ADS-B BPPT ini memiliki keunggulan dibangdingkan dengan radar yakni:

1. Jangkauan coverage lebih luas: radius 250 mil (450 km) segala arah, sedangkan coverage radar prinsipnya satu arah sejauh kurang dari 250 mil. 

2. Jumlah pesawat yang dapat dipantau lebih banyak: 500 pesawat, sehingga memperkecil separasi antarpesawat dan meningkatkan jumlah penerbangan.

3. Lebih sederhana dalam instalasi, operasi dan pemeliharaan, serta rendah biaya investasi, instalasi, operasi dan pemeliharaan.

4. Dapat dipasang di berbagai medan lokasi, termasuk lokasi terpencil karena kebutuhan energi listriknya kecil sehingga dapat menggunakan listrik tenaga surya.

5. Dukungan purnajual lebih efektif dan efisien karena dilakukan sepenuhnya oleh tenaga ahli dalam negeri, sehingga meningkatkan jam operasi dan keandalan.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya