Direct Call Genjot Ekspor, Kaltim Perlu Kesiapan Kargo

Oleh: Fariz Fadhillah 12 Mei 2018 | 06:46 WIB
Pengiriman perdana Direct Call/Bisnis-Fariz Fadhillah

Bisnis.com, BALIKPAPAN - Pelayaran langsung atau international direct call yang dibuka di Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau Balikpapan menunjukkan pertumbuhan volume muatan ekspor.

Berjalan kurang lebih sebulan, tren pertumbuhan kargo kian meningkat. PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) mencatat, sebanyak 70 kontainer diangkut tiap pekan, dari semula hanya kisaran 20 kontainer.

“Memang masih belum optimal, tapi sudah tumbuh signifikan. Kami yakin direct call akan terus berjalan,” terang Direktur Utama PT KKT M Basir dihubungi Bisnis, Jumat (11/5/2018).

Di Makassar, Basir mengatakan butuh 2,5 tahun sejak pengapalan perdana untuk mencapai volume ekspor 3.000 kontainer per bulan lewat skema serupa.

Diketahui perlu waktu tiga tahun bagi Pemprov Kaltim dan PT Pelindo melalui PT KKT untuk membuka rute pelayaran ekspor langsung ini.

SITC Container Lines Co Ltd sebagai mitra KKT untuk pelayaran internasional langsung menilai, membangun direct call membutuhkan perjuangan tak sebentar.

“Balikpapan perlu sedikit waktu lagi untuk mengumpulkan muatan terkumpul, muatan bisa terkumpul dan kemudian baru bisa direct call,” ujar Jamie Liu, Managing Director of SITC Indonesia kepada Bisnis via telepon seluler.

Dari segi bisnis, geografis Balikpapan disebutkan memiliki potensi jangka panjang setelah melihat respons pasar atas layanan yang sudah dijalankan.

“Kita coba penetrasi hampir sebulan lebih kemarin, hasilnya cukup bagus, tinggal kesiapan kargo saja,” jelasnya.

Menurut Jamie, PT KKT masih perlu meningkatkan volume minimal yakni mencapai 100 kontainer tiap pekan.

Setelah pengapalan perdana, kata dia, Kapal SITC yang umumnya berkapasitas 2.800 teus akan menunggu di Makassar sampai muatan mencukupi kembali. Artinya frekuensi kedatangan kapal nantinya akan menyesuaikan dengan jumlah muatan yang ada.

Jika volume muatan minim, pihaknya tentu tak mau mengambil risiko. Adapun layanan ekspor langsung ini sebelumnya ditargetkan dibuka dua kali dalam sepekan.

Direct call Balikpapan tetap akan kami lanjutkan. Kami sudah ada kantor dan tim di sana yang terus bekerja melakukan penetrasi pasar,” jelas dia.

Ia mengingatkan agar KKT selaku operator pelabuhan terus menjalin komunikasi terkait kerja sama dengan para pelaku bisnis, eksportir, feeder, pergudangan maupun importir untuk memanfaatkan Balikpapan sebagai pintu pengapalan ekspor wilayah Kaltim dan Kaltara.

“Sejauh ini kami lihat sisi pengoperasian terminal KKT sudah sangat siap. Tidak ada masalah,” jelasnya.

Balikpapan nantinya ditarget menjadi pintu ekspor atau transhipment untuk wilayah Kaltim dan Kaltara. Aktivitas pengiriman barang masuk dari daerah akan didukung kapal feeder.

Guna melayani pengantaran komoditas ekspor lokal, SITC menggunakan Makassar sebagai pintu masuk dan, Balikpapan sebagai pintu keluar. Kapal nantinya akan menggunakan rute Ningbo, kemudian menuju Shanghai, yang menjadi hub perdagangan internasional.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Yaser Arafat menilai direct call akan memberikan kontribusi positif bagi kinerja ekspor di Kaltim. Kurs dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp 14 ribu kata dia membuka kesempatan bagi para eksportir lokal memacu ekspor mereka.

“Ini wajib dimanfaatkan pengusaha lokal,” jelas dia kepada Bisnis.

Saat ini Kaltim memiliki komoditas ekspor andalan cangkang sawit, dan plywood, serta udang windu.

Badan Pusat Statistik mencatat ekspor Kaltim pada Maret lalu mencapai USD 1,7 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 21,74% dibandingkan total ekspor Februari.

Sementara pada periode sama tahun lalu mengalami peningkatan sebesar 9,95%.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer