RASTER : Kala Peternak Sapi dan Petani Organik Bersinergi

Oleh: Peni Widarti 11 Mei 2018 | 02:00 WIB
Peternak memberi pakan sapi potong miliknya di Desa Curug, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (10/8)/Antara

Bagi Kastam, Penanggung Jawab Komunitas Ngawi Organic Center (KNOC), beternak sapi pedaging tidak hanya penting untuk meningkatkan pendapatan, tapi juga strategis menjaga mata rantai atau ekosistem pertanian padi organik di sana.

Di satu sisi, beternak sapi pedaging berarti memeroleh tambahan pendapatan yang lumayan dengan menjual sapi setelah memasuki usia tertentu. Ini terutama saat kebutuhan sapi meningkat pada Idulfitri dan Iduladha, juga untuk memenuhi kebutuhan padi organik yang dikelolanya.

Seperti dirinya, saat ini dia memiliki total 19 ekor sapi yaitu 7 ekor sapi pedaging betina dan 12 ekor sapi sapi jantan. Dia membeli sapi untuk dijual saat harga membaik, terutama pada Iduladha sebanyak 12 ekor berusia 1—1,5 tahun dengan berat 250 kg—300 kg per ekor.

Dengan pola beternak semi-intensif, setiap hari sapi yang berjenis keturunan Limosin itu bisa terus naik beratnya, yakni 1 kg—1,5 kg per hari sehingga setelah 6 bulan diternakkan, berhasil meningkat menjadi 480 kg—500 kg per ekor.

Dengan cara itu, Kastam menikmati keuntungan karena harga kulakan sapi yang hanya Rp16 juta—Rp17 juta per ekor. Namun, pada saat dijual laku sebesar Rp21 juta—Rp24 juta per ekor.

Dengan menjual 12 ekor saat panen—tidak termasuk sapi betina karena tidak boleh dipotong—maka keuntungan yang dia peroleh lumayan banyak. Pada saat Lebaran, terutama Iduladha, permintaan sapi banyak. Konsumen biasanya langsung ke kandangnya untuk membeli sapinya.

“Kalau pun tidak diserap, [sapi-sapi] bisa disembelih di RPH Ngawi dan daging dengan kualitas premium dijual di ritel-ritel di Ngawi dan Surabaya lewat jaringan Widodo Ritel,” ucapnya.

Ajaibnya, keuntungan yang diperoleh Kastam sebenanrya tidak hanya dari sisi pendapatan. Lewat beternak sapi pedaging, dia juga dapat menjaga ekosistem pertanian padi organik. Saat ini, sawah padi organik miliknya seluas 2,6 hektare.

Menurutnya, pakan sapi banyak dipasok dari jerami padi dan katul dari penggilingan padi. Lewat teknologi sederhana, bahan-bahan tersebut dapat digunakan sebagai pakan yang efektif untuk menggemukkan sapi, selain kebutuhan pakan hijauan.

Di sisi lain, dengan penggunaan teknologi mikrobakteri perombak, kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi organik miliknya. Adapun, urine sapi dapat digunakan untuk menyemprot sawah, sebagai substitusi dari penggunaan pestisida.

Namun dia menyayangkan, apa yang dilakukannya belum diiukuti secara baik oleh para petani padi organik lainnya di Ngawi yang totalnya mencapai 49 petani, dengan luasan 28 hektare yang sudah bersertifikat.

Rerata kepemilikan sapi pedaging anggota KNOC baru 2—3 ekor sehingga sebenanrya kurang menguntungkan dari sisi bisnis penggemukan sapi potong.

Meski demikian, Kastam mengakui petani banyak yang tertarik karena usaha ini menjanjikan keuntungan lumayan bila dibandingkan dengan menempatkan dananya di bank.

“Masalahnya, mengubah pola pikir ini yang tidak mudah. Kalau mereka tidak mempunyai modal, sebenarnya bisa disiati dengan pola bagi hasil dengan investor,” katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya