PASOKAN DAGING SAPI JATIM : Awas, Defisit Bisa Bikin Sulit!

Oleh: Peni Widarti 11 Mei 2018 | 02:00 WIB
Ilustrasi/Bisnis Deliana Pradhita Sari

Menjelang perayaan hari besar keagamaan, sejumlah komoditas bahan pangan selalu menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat karena kebutuhan yang cenderung meningkat tajam tetapi selalu tidak diikuti oleh pasokan yang memadai.

Patut disyukuri jika ada sejumlah komoditas tersebut yang mampu dipenuhi oleh pemerintah. Namun, tak jarang ada sebagian komoditas lain yang harus diperjuangkan mati-matian agar pasokannya bisa terpenuhi dengan baik dan harga tidak bergerak liar.

Komoditas populer yang banyak dicari menjelang hari besar keagamaan di antaranya adalah daging sapi. Tak heran bahwa di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, kebutuhan pasokan daging sapi selalu meningkat. Namun, apakah kebutuhan daging sapi nasional berbanding lurus dengan pasokannya?

Salah satu provinsi terbesar pemasok daging sapi di Jawa adalah Jawa Timur. Provinsi ini tidak hanya unggul dalam memproduksi beras, tetapi juga terus aktif memperbesar pasokannya untuk sapi potong.

Pemerhati peternakan Jatim Irawan mengatakan bahwa selama ini produksi sapi potong di Jatim sangat bagus dan berkualitas sehingga banyak diminati masyarakat yang menyukai daging lokal.

“Produksi sapi di Jatim sangat luar biasa, bahkan daerah lain sangat membutuhkan suplai dari Jatim seperti Jakarta, Jateng, dan Jawa Barat,” kata Irawan yang berprofesi sebagai dokter hewan itu kepada Bisnis.

Mengingat kualitas sapi Jatim yang bagus, tak ayal membuat harga dagingnya lebih tinggi di pasaran dibandingkan dengan sapi impor dari Australia yang harganya lebih murah.

Saat ini, harga berat hidup sapi Jatim adalah Rp43.000—Rp45.000 per kg. Adapun jumlah populasi sapi potong di Jatim saat ini mencapai 4,3 juta ekor, dan sapi perah sebanyak 285.000 ekor. Sementara itu, sapi yang siap dipotong terutama untuk memenuhi kebutuhan Lebaran pada tahun ini hanya 300.000 ekor.

“Kalau untuk konsumsi Jatim sendiri, 300.000 ekor itu masih cukup. Hingga akhir tahun ini, setidaknya [Jatim] butuh 1 juta ekor sapi yang siap dipotong,” katanya.

Menurut Irawan, untuk meningkatkan produksi sapi potong, pemerintah harus punya strategi pengembangbiakan sapi. Ini terutama ditujukan bagi peternak kecil yang selama ini kurang modal dan tidak memiliki akses kredit murah bagi kelompok peternak.

Para peternak kecil pun kalah dengan para kartel dan pemodal besar yang mampu memengaruhi kebijakan pemerintah terutama untuk mendatangkan sapi impor dan memengaruhi harga sapi peternak lokal.

“Sudah waktunya di Jatim ada asosiasi yang kuat yang berbasis kepentingan peternak, dan harus dilindungi, misalnya dengan ada pemodal yang akan mengambil sapi dengan harga pasti,” imbuhnnya.

Selain itu, kata Irawan, pemerintah pusat harus punya data pasti jumlah sapi siap potong, karena selama ini pemerintah melakukan impor besar-besaran tanpa mengetahui stok sapi potong. Hal tersebut membuat harga sapi dari peternak terlalu jatuh.

“Sejauh ini, impor sapi ke Jatim tidak sampai ke pasar tradisional tetapi lebih banyak masuk ke sektor horeka [hotel, restoran, kafe]. Kalaupun ada yang merembes itu sesekali limpahan dari provinsi lain yang diangkut bareng kendaraan cold storage secara ilegal,” katanya.

DEFISIT 5%

Sementara itu, Ketua Persatuan Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim, Muthowif mengatakan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran kali ini, kebutuhan sapi siap potong diperkirakan masih kurang 5%. Dari sisi harga, pedagang juga memerkirakan bakal ada kenaikan 5%—10% saat mendekati Lebaran.

“Kalau jumlah sapi potong di Jatim memang banyak tapi sapi yang siap potong ini yang sering terjadi persoalan atau kekurangan,” katanya.

PPSDS Jatim menyebut harga daging sapi saat ini masih tergolong stabil tetapi mahal. Pemerintah sendiri sempat punya target daging sapi bisa dinikmati masyarakat dengan harga Rp80.000 per kg.

Namun saat ini, harga daging sapi ada yang dijual mulai dari Rp100.000—Rp110.000 per kg untuk kualitas sedang dan kualitas bagus (bagian lulur dalam) Rp125.000 per kg.

Muthowif meminta agar pemerintah pusat mengevaluasi semua program bantuan sapi dan inseminasi buatan yang kurang tepat sasaran yakni yang dijadikan prioritas program sapi perah.

Untuk pemerintah Jatim, jika surat edaran larangan impor sapi, jeroan dan daging masuk ke Jatim belum dicabut, seharusnya Jatim bebas dari sapi impor dan daging. Namun, menurut Muthowif, saat ini masih ada sapi dan daging impor yang beredar.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah sebaiknya diminta menyiapkan data yang valid terkait dengan stok sapi siap potong dan hasilnya, mengingat setiap daerah memiliki bentuk sapi yang sedikit berbeda.

“Misalnya, asumsi selama ini adalah setiap 1 ekor sapi menghasilkan 200 kg daging. Padahal, untuk sapi Madura dan Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya mampu menghasilan 100 kg daging.

RUMAH DAGING

Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi menjelang Ramadan, Pemkot Surabaya melalui Perusahaan Daerah (PD) Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian menyiapkan program Rumah Daging.

Adapun, sistem penjualan akan dibuat secara lebih fleksibel sedangkan harga yang dipatok bisa berkisar di bawah Rp110.000—Rp120.000 per kg untuk menstabilkan harga pangan menjelang Lebaran.

Direktur Utama RPH Surabaya Teguh Prihandoko mengatakan bahwa selama ini jagal sapi RPH memotong 150 ekor sapi per hari. Selama Ramadan dan Lebaran ini, RPH akan menambah 25% lagi jumlah sapi yang dipotong yang didatangkan dari sentra peternakan di Lamongan dan Tuban.

“Daging akan kami bawa ke pasar tradisional, dan sebagian ada yang di-packaging untuk stok di Rumah Daging Pegirian. Jadi sekarang kami punya daging sapi potong lokal segar dingin. Sekarang, stok kami ada sekitar 4 ton—9 ton,” katanya.

Menurutnya, saat ini RPH punya rumah produksi kemasan sendiri dengan peralatan modern sepereti vakum dan cold storage yang kapasitasnya mencapai 15 ton. Untuk melayani masyarakat selama Ramadan, Rumah Daging buka setiap Senin—Sabtu mulai pukul 08.00—22.00.

“Dulu Rumah Daging yang dimulai sejak 2017, jam bukanya hanya pada pukul 08.00—16.00, sekarang diperpanjang. Ini terutama bagi ibu-ibu muda yang bekerja siang hari dan butuh belanja daging malam hari dengan harga murah dibandingkan dengan di supermarket,” imbuhnya.

Teguh menambahkan produk daging potong segar dingin tersebut juga dijual secara daring serta layanan pesan antar melalui aplikasi di ponsel dan diantar dengan transportasi daring.

Selain itu, daging juga akan dijual ketika ada operasi pasar murah yang digelar Pemkot Surabaya di 62 titik yang tersebar di 31 kecamatan. Dengan harga yang sudah ditentukan, masyarakat memiliki kepastian harga sehingga tidak ragu untuk mengkonsumsi daging sapi.

“RPH merupakan BUMD yang hadir untuk melayani masyarakat, sesuai dengan arahan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, bagaimana caranya agar masyarakat bisa merasakan daging yang higienis, halal dan murah,” imbuh Teguh.

Sebelumnya, dalam rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Gubernur Jatim Soekarwo memastikan bahwa stok bahan pangan menjelang Ramadan sudah aman terutama beras yang surplus sehingga bisa memasok ke daerah lain.

“Stok aman berlaku untuk komoditas lain seperti cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit, bawang merah dan jagung hingga daging sapi, ayam dan telur,” ujarnya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya