PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI : Impor Ditukar Janji Investasi

Oleh: Pandu Gumilar 09 Mei 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA— Pemerintah menjalin kesepakatan dengan Brasil untuk turut mengembangkan sektor peternakan sapi di dalam negeri setelah rencana impor daging sapi terealisasi.

Kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut dari putusan Badan Perdagangan Dunia (WTO) pada Oktober tahun lalu yang membuka celah bagi Brasil untuk mengekspor daging ayam ke Indonesia. Pemerintah kedua negara pada 12 Februari 2018 setuju untuk mengganti ekspor daging ayam dengan daging sapi karena pasokan ayam di Indonesia sudah berlebih.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengungkapkan pada pertemuan antara perwakilan kedua negara, dibicarakan pula mengenai peluang peningkatan hubungan bilateral khususnya di sektor pertanian dan peternakan melalui kerangka kerja sama Kemitraan Strategis RI – Brazil.

Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, Pertama, Indonesia menyetujui masuknya daging sapi Brasil ke Indonesia dan Brasil menyetujui untuk tidak memasukan daging ayam dan produknya ke Indonesia setelah memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan.

Kedua, menjaga hubungan baik kedua negara melalui kerjasama peningkatan SDM Peternakan dan Kesehatan Hewan. Ketiga, tim Kementerian Pertanian Brasil juga akan mendorong pelaku usahanya untuk melakukan investasi breeding farm dan usaha peternakan sapi di Indonesia.

"Kita juga ingin SDM kita dapat dididik di Brasil terkait dengan kemajuan sektor peternakan dan kesehatan hewan. Selain itu, Brasil juga siap mendorong pembangunan breeding farm dan breeding cattle di indonesia sehingga percepatan [sektor] peternakan makin tinggi," katanya.

Ketut menambahkan untuk saat ini prioritas utama Pemerintah Brasil adalah memasukkan daging sapi ke Indonesia, sementara untuk penanaman modal asing belum ada langkah konkret. Namun, Ketut meyakini penanaman modal dapat terealisasi setelah importasi daging sapi terwujud.

Ketut juga menyinggung tentang investasi perusahaan Brasil di Nusa Tenggara Timur, yakni PT. Asiabeef Biofarma. PT Asiabeef Biofarma Indonesia sejak 2014 telah menanamkan modal untuk pembibitan sapi di Sumba Timur dengan nilai investasi mencapai Rp27,8 miliar. Tenaga kerja yang diserap sebanyak 100 orang di atas lahan seluas 986 hektare.

KEMITRAAN

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengatakan persetujuan atas perjanjian bilateral antar kedua negara yang menyangkut peternakan sapi harus melibatkan peternak dalam negeri sebagai mitra perusahaan. "Setuju. Tetapi harus melibatkan peternak rakyat sebagai mitra," katanya kepada Bisnis, Selasa (8/5).

Menurutnya, kalau Brasil mau berinvestasi pada sektor peternakan sapi adalah hal yang bagus sehingga tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial untuk mengekspor daging. Langkah ini, tambahnya, bisa menjadi alternatif dalam upaya peningkatan produksi daging sapi dalam negeri.

Brazil dinilai memiliki dua opsi dalam hal penanaman modal asing di sektor peternakan sapi. Pertama adalah peternakan model ekstensif yang membutuhkan lahan luas seperti di Australia, dengan daerah potensial seperti Nusa Tenggara Timur.

Kedua, adalah peternakan model intensif yang membutuhkan lahan untuk pakan ternak tanaman hijau. Teguh mengatakan untuk peternakan model intensif akan baik diintegrasikan bersama perkebunan kelapa sawit. Dengan begitu lahan yang potensial berada di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

"Tetapi investor pasti akan melakukan kajian lebih dahulu untuk tingkat kelayakan usaha,"kata Teguh.

Wakil Ketua Umum Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Juan Permata Adoe menilai investasi Brasil di sektor peternakan sapi belum akan terwujud dalam waktu dekat.

"Kalau saat ini Brasil lagi susah secara ekonomi. Indonesia jauh lebih baik. Sehingga dia lebih memerlukan untuk bisa ekspor produknya. Untuk bisa memperjuangkan ekspor mereka harus competitive bersaing dengan Australia," katanya, Selasa (8/5).

Menurutnya, investasi dalam sektor peternakan adalah fase berikutnya setelah perdagangan daging sapi kedua negara sudah terlaksana. Juan juga mengatakan investasi tidak mungkin instan dan jangka waktu realisasinya akan berlangsung lama.

Juan menekankan agar Pemerintah lebih berhati-hati dalam mengundang investor karena menyangkut nama baik negara. Langkah yang perlu dilancarkan adalah membangun iklim kebijakan yang kondusif, konsisten dan berkelanjutan.

"Semua orang diajak investasi, tapi investasi dalam negeri loyo. Artinya kebijakan dalam negeri kita tidak kondusif dan tidak memenuhi komitmen yang dijanjiakan di awal. Sebaiknya hati-hati undang investor kalau belum lakukan koordinasi.”

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya