Ngobrol dengan Nelayan Asal Papua, Presiden Jokowi Tertarik Tangkap Buaya

Oleh: Amanda Kusumawardhani 08 Mei 2018 | 13:45 WIB
Ngobrol dengan Nelayan Asal Papua, Presiden Jokowi Tertarik Tangkap Buaya
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kedua kanan) menyalami peserta saat meninjau traktor pertanian buatan PT Pindad seusai membuka Pekan Nasional Petani-Nelayan Andalan (PENAS KTNA) XV di stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh , Sabtu (6/5)./Antara-Ampelsa

Kabar24.com, JAKARTA — Setelah menerima kunjungan puluhan sopir truk di Istana Negara, Presiden Joko Widodo kembali menerima kunjungan perwakilan nelayan seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Jokowi sempat menyinggung mengenai pentingnya peralihan alat tangkap menggunakan cantrang. Meski banyak keluhan akibat pelarangan tersebut, dirinya meyakini penggunaan alat ikan tangkap yang ramah lingkungan memiliki dampak positif dalam jangka panjang.

“Kita harus menyadari bahwa penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan dalam transisi yang akan kita ubah. Tidak ada namanya kita ingin menghambat, tidak ada. Arah ke depan para nelayan harusnya bisa membaca, arahnya untuk nelayan kita sendiri,” ucapnya, Selasa (8/5/2018).

Menurutnya, masa depan Indonesia berada di lautan karena sekitar dua per tiga Indonesia merupakan lautan.

Untuk itu, Jokowi menekankan pentingnya untuk menjaga kelestarian lautan dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan sehingga siklus hidup ikan dan ekosistemnya dapat terus terjaga.

“Kalau tidak mulai buat fondasi, melihat ke depan kita, ya enggak akan berkembang

Fondasi inilah proses kita bangun agar punya hasil produksi budidaya ikan yang dikerjakan nelayan bisa meningkat,” katanya.

Untuk lebih mengetahui keluh kesah para nelayan, Jokowi mempersilahkan salah satu nelayan untuk ke depan dan berdiskusi soal kendala perikanan tangkap di wilayahnya.

Lalu, seorang ibu dengan memakai topi bulu khas Papua yang mengaku bernama Marince maju ke depan. Seorang ibu yang juga berprofesi sebagai nelayan ini berasal dari Mamberamo dan menyebutkan 80% nelayan di wilayahnya merupakan perempuan.

“Kami di sini, kami mempunyai 2.000 nelayan yang hampir 80%  nelayan perempuan. Ya itu nelayan tangkap ikan dan nelayan tangkap buaya,” jelas Marince antusias.

Dia bercerita nelayan air tawar di Mamberamo tidak pernah kesulitan dalam mendapatkan ikan. Pasalnya, saat air pasang semua ikan akan naik ke tempat yang lebih tinggi. Sebaliknya, saat air surut dia menyebut ikan menjadi polusi terbesar di Papua karena banyak ikan menggelepar.

Meskipun mengaku tidak kesulitan dalam mendapatkan ikan, tetapi Marince mengungkapkan akses yang sulit membuat para nelayan kesulitan dalam menjual hasil tangkapan mereka.

Oleh karena itu, dia mengundang Jokowi dan Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti untuk mengunjungi Kabupaten Mamberamo supaya bisa mengetahui kendala yang dihadapi oleh para nelayan di lapangan.

Menanggapi pernyataan Marince, Jokowi bahkan menantangnya untuk menangkap ikan dan buaya di Mamberamo.

“Nanti saya akan carikan waktu, saya akan lihat danau yang ikannya banyak. Tapi kalau enggak ada ikannya awas. Sama di sana nangkep buaya bisa? Saya ikut bisa? Saya mau nangkep buaya tapi dengan nelayan ibu-ibu lho ya, janjian ya,” jawabnya yang disambut dengan gelak tawa para nelayan.

Editor: Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkini Lainnya