PRODUKSI SUSU : Pengetahuan Peternak Masih Rendah

Oleh: Yustinus Andri DP 07 Mei 2018 | 02:00 WIB

SEMARANG—Sejumlah persoalan masih membayangi pertumbuhan produksi sapi perah di Jawa Tengah (Jateng), terutama terkait sumber daya manusia (SDM) dalam pengelolaan peternakan.

Fresh Milk Manager Frisian Flag Indonesia Efi Lutfiah mengatakan, persoalan pengetahuan para peternak sapi perah di Jateng dalam mengelola peternakannya masih relatif rendah. Salah satunya terkait proses pemberian pakan dan minum bagi sapi perah.

“Para peternak masih cenderung membatasi minum bagi sapi perah, padahal seharusnya sapi tersebut minumnya tidak terbatas. Alhasil, produksi susunya atau kualitasnya pun terkadang tidak optimal,” ujarnya, Sabtu (6/5).

Selain itu persoalan lain yang terkait dengan SDM adalah mulai turunnya jumlah peternak sapi perah akibat rendahnya proses regenerasi peternak. Pasalnya, lanjut Efi, kebanyakan lulusan SMK peternakan justru bekerja di luar bidang peternakan.

Adapun, permasalahan skala kepemilikan turut memberikan bayang-bayang pada hasil produksi dan bisnis sapi perah. Para peternak di Jateng disebutnya rata-rata hanya memiliki 3-4 ekor sapi saja.

Kondisi itu tak lepas dari persoalan luas lahan yang dimiliki untuk kandang dan kecukupan pakan bagi ternak. Berdasarkan temuannya di lapangan, kendala ketersediaan pakan hijau yang terbatas, membuat para peternak tidak berani memiliki sapi lebih dari 4 ekor.

Sementara itu, permasalahan mengenai keterbatasan SDM juga diamini oleh Marsudi Mulyo Utomo yang merupakan Kepala Koperasi Unit Desa (KUD) Wahyu Agung di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

“Kendala kami saat ini adalah kualitas SDM peternak. Kebiasaannya peternak dalam memelihara sapi perah di sini masih tradisional sekali. Mereka pun rata-rata masih menjadikan bisnis hasil sapi perah sebagai pekerjaan sampingan,” ujarnya.

TIDAK MAKSIMAL

Terbatasnya pengetahuan para petani dalam memelihara sapi, membuat kualitas susu yang dihasilkan pun menurun. Alhasil, harga jual susu segar yang dihasilkan pun tidak maksimal lantaran sapi kurang mendapatkan pemeliharaan yang tepat.

Menurut keterangan Marsudi, harga jual susu di Kecamatan Getasan masih berkisar di level Rp5.600 per liter. Harga tersebut masih berada di bawah harga ideal yang disebutkan oleh Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) sebesar Rp6.500.

Beruntungnya, lanjutnya, harga tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan di daerah lain seperti di Kabupaten Boyolali yang berada di kisaran Rp4.000-Rp5.000 per liter. Di sisi lain, hasil produksi susu di Getasan juga mayoritas langsung diserap oleh pelaku usaha yang memproduksi susu olahan.

Adapun sebelumnya Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Jateng Agus Wariyanto mengatakan, salah satu persoalan yang membayangi perkembangan persusuan provinsi tersebut salah satunya kepemilikan ternak perah yang tidak memenuhi skala ekonomis usaha. Pasalnya tingkat produktivitas sapi perah masih di bawah 8 liter per hari atau kurang dari 2.500 liter per laktasi.

“Belum lagi kualitas susu yang rendah, tata niaga persusuan yang terlalu panjang dan kurangnya penyediaan bibit sapi perah yang berkualitas,” katanya.

Seperti diketahui, berdasarkan data dari Disnak Keswan Jateng, produksi susu sapi di Jateng mencapai 100.997 ton pada 2017, yang dihasilkan dari 138.560 ekor sapi perah. Jumlah produksi susu tersebut secara konsisten terus tumbuh setelah sempat mengalami penurunan pada 2015 dari tahun sebelumnya.

Selain itu, jumlah kelompok peternak sapi perah di Jateng mencapai 350 unit, dengan klasifikasi Pemula sebanyak 214 unit, Lanjut sebanyak 89 unit dan Utama yang mencapai 4 unit. Di sisi lain, sekitar 90% susu segar yang dihasilkan di Jateng dipasarkan sebagai bahan baku ke industri pengolahan susu. (Yustinus Andri)

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya