RENCANA AKUISISI PELINDO III : Gresik Jasatama Tunda IPO

Oleh: Peni Widarti 04 Mei 2018 | 02:00 WIB
RENCANA AKUISISI PELINDO III : Gresik Jasatama Tunda IPO
(ilustrasi)./Antara-Didik Suhartono

SURABAYA — Manajemen PT Gresik Jasatama memutuskan untuk menunda proses pelaksanaan penawaran umum perdana saham dan siap bila diakuisisi oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III.

Direktur Utama PT Gresik Jasatama, Rudy Djaya Siaputra mengatakan bahwa pada 25 Januari 2018, perseroan telah menandatangani memorandum of collaboration (MoC) dengan Pelindo III. Dalam MoC tersebut pun Pelindo III berminat untuk mengakuisisi saham PT Gresik Jasatama.

“Selain ada rencana akuisisi, kami juga memperhatikan dan mencermati kondisi pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang saat ini kurang mendukung sehingga dikhawatirkan hasil penerimaan dana IPO [initial public offering] tidak sesuai harapan,” jelasnya, Kamis (3/5).

Dia menjelaskan sebelum ada rencana atau munculnya minat akuisisi oleh Pelindo III, PT Gresik Jasatama telah lebih dulu merencanakan untuk IPO sejak 3 November 2015.

Rencana IPO tersebut dilatarbelakangi adanya kebutuhan finansial perusahaan untuk membayar utang modal seperti kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan bunga sekitar 12% dan melalui medium term notes.

Proses persiapan IPO juga sudah berjalan dan pada 21 Maret 2018 telah menyampaikan permohonan pendaftaran di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam rangka penawaran umum perdana dengan melepas sekitar 20%—30% saham ke publik.

“Namun karena ada satu aturan soal akuisisi perusahaan terbuka, kami memilih menunda IPO dan menjaga hubungan baik dengan Pelindo III yang selama ini terjalin. Kami mengharapkan Pelindo masuk untuk mengakuisisi dan berapa persen saham yang diinginkan terserah Pelindo, yang pasti mendominasi apakah 60%, atau lebih,” imbuhnya.

Rudy mengatakan saat ini rencana akuisisi tersebut pun masih dalam tahap kajian untuk menentukan porsi share sahamnya. Bukan tidak mungkin, setelah diakuisisi, PT Gresik Jasatama bisa melanjutkan untuk menuju peru­sa­­haan terbuka.

“Atas penundaan IPO tersebut, pihak PT Gresik Jasatama sudah bersurat kepada BEI dan OJK dan agar yang berkepentingan menjadi maklum,” katanya.

Direktur Keuangan dan Umum PT Gresik Jasatama, Edy Hidayat mengatakan potensi bisnis kepelabuhanan di Gresik Jasatama tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar 5% seiring dengan pertumbuhan komoditas batu bara yang menjadi penyumbang terbesar layanan bongkar di pelabuhan PT Gresik Jasatama. Selain itu juga adanya pengembangan layanan yang disiapkan PT Gresik Jasatama tahun ini.

“Selain batu bara, biasanya kami juga melayani muat kayu log, pupuk dan barang konstruksi seperti pasir besi dan tiang pancang tapi ini tidak banyak,” katanya.

Adapun pada 2015, PT Gresik Jasatama telah melayani bongkar muat curah kering yakni batu bara di enam dermaganya yakni sebanyak 2,4 juta ton. Pada 2016 berkembang menjadi 2,6 juta ton, dan pada 2017 meningkat menjadi 3,1 juta ton.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya