BI Kediri Dorong Mataraman Jadi Sentra Produksi Kopi Nasional

Oleh: Choirul Anam 27 April 2018 | 22:08 WIB
BI Kediri Dorong Mataraman Jadi Sentra Produksi Kopi Nasional
Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto (dari dari kiri) bersama dengan desainer nasional dan internasional Oscar Lawalata (tiga dari kanan) dan Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Sarmuji (dua dari kanan) pada Klinik Bisnis UMKM dan Keuangan Inklusif yang diselenggarakan KPw BI Kediri di Kediri, Jumat (27/4/2018)/Bisnis - Choirul Anam

Bisnis.com, KEDIRI — Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kediri mendorong daerah Mataraman, yakni eks-Karesidenan Madiun dan Kediri, menjadi sentra baru produksi kopi nasional.

Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto mengatakan beberapa daerah di wilayah eks-Karesidenan Kediri dan Madiun sebenarnya banyak daerah yang berpotensi menghasilkan kopi, seperti di Tulungagung dan Kediri.

“Bahkan di Desa Geger, Kec.Sendang, ada pohon kopi Arabica jenis Cobra (Columbia-Brazil) yang saat ditanam di Pulau Jawa menjadi Java Coffe dengan rasa dan aromanya sangat kuat,” katanya di sela-sela Klinik Bisnis UMKM dan Keuangan Inklusif yang diselenggarakan KPw BI Kediri di Kediri, Jumat (27/4/2018).

Di daerah dengan ketinggian di beberapa daerah tersebut ditanami kopi Arabica, sedangkan untuk dataran rendah ditanami kopi Robusta.

Namun sayangnya, budi daya kopi di daerah-daerah tersebut dilakukan secara sederhana. Artinya budi daya kopi belum baik dan benar sehingga paroduksi kopi belum optimal, begitu pula kualitasnya.

Problemnya lagi, petani kopi biasanya langsung menjual kopi setelah memetik dari kebun sehingga harganya relatif murah. Mereka tidak mempunyai peralatan dan kemampuan mengolah biji kopi hingga sampai pengemasan.

“Jika mereka mempunyai kemampuan menangani hulur-hilir, maka kesejahteraan petani akan semakin meningkat,” ucapnya.

Yang perlu ditekankan pula, terkait dengan kelaikan lahan jika kopi mereka harus diekspor. Harus ada serifikasi identifikasi geografis yang membuktikan kawasan perkebunan betul-betul layak dan sehat.

Karena itulah, BI Kediri berusaha hadir dengan melakukan pendampingan dan fasilitasi serta bantuan kepada petani kopi, yakni petani kopi di Desa Geger, Kec. Sendang, Kab. Tulungagung, di Irenggolo, Desa Jugo, Kec. Mojo Kab. Kediri, dan Desa Medowo, Kec. Kandangan, Kab. Kediri.

Total bantuan KPw BI Kediri pada petani kopi di tiga daerah tersebut, yakni bibit kopi arabika sebanyak 24.000 pohon, mesin pulper 3 unit, mesin washer 3 unit, mesin huller 3 unit, mesin roasting 1 unit, rehabilitasi rumah produksi 3 unit, dan para-para 4 unit.

Petani juga diberikan pelatihan, yakni pelatihan fermentasi, mikrobakteri perombak MA-11, pelatihan budidaya kopi bekerja sama dengan PTPN XII di Kebun Rangka Pawon, Kab. Kediri, studi banding klaster kopi binaan KPwBI Jember di Bondowoso, workshop budidaya dan pengolahan kopi di Puslit Kopi dan Kakao Indonesia di Jember.

“Kami juga akan membantu pengurusan penerbitan Sertifikat Identifikasi Geografis pada lahan yang ikut dalam kluster kopi BI Kediri,” ujarnya.

Dia yakinkan, kebutuhan kopi nasional masih sangat tinggi. Saat ini saja, Indonesia masih harus impor kopi sebanyak 60.000 ton/tahun, mengindikasikan bahwa permintaan kopi nasional sangat tinggi.

Sebagai upaya dukungan pengembangan kopi lokal, BI Kediri juga melakukan sosialisasi cara menikmati kopi yang sehat dan benar serta melihat prospek bisnis kopi Indonesia pada kegiatan tersebut.(k24)

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya