PENANAMAN MODAL : Jatim Kian Optimistis Tangkap Investasi

Oleh: Regi Yanuar 25 April 2018 | 02:00 WIB
PENANAMAN MODAL : Jatim Kian Optimistis Tangkap Investasi
Jembatan Suramadu/Bisnis.com-Peni Widarti

JAKARTA — Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM&PTSP) Provinsi Jawa Timur menargetkan bisa meraih izin prinsip (IP) dengan total sebesar Rp129,61 triliun dan realisasi investasi senilai Rp86,07 triliun pada tahun ini.

Kepala Bidang Kerja Sama dan Promosi Investasi (DPM-PTSP), Andromeda Qomariah, mengatakan pihaknya yakin dengan prospek berbagai potensi yang ditawarkan oleh Provinsi Jawa Timur kepada para calon investor.

“Kami optimistis dengan target tahun ini. Investasi paling tinggi itu di sektor industri makanan dan minuman, setelah itu metal, mesin dan elektronik, kimia, serta agrikultur,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (24/4).

DPM-PTSP Provinsi Jawa Timur mencatat, realisasi investasi dari penanaman modal asing (PMA) pada 2017 lalu mencapai US$1,56 miliar, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai US$3,26 miliar. Adapun izin prinsip dari PMA pada tahun lalu senilai U$$19,99 miliar dan izin prinsip dari PMDN mencapai US$4,3 miliar.

Menurutnya, berdasarkan data dari Lee Kuan Yew Institute (LKY) Singapura pada tahun lalu, Provinsi Jawa Timur memiliki peringkat ease of doing business atau kemudahan berbisnis pertama di Indonesia.

Ini juga didukung oleh riset dari Asia Competitiveness Institute (ACI) pada 2017 yang menyebutkan bahwa Jawa Timur menyediakan kemudahan berbisnis dengan peringkat paling tinggi di Tanah Air. Menurut ACI, peringkat kedua diraih oleh Jawa Barat, ketiga Jawa Tengah, keempat DKI Jakarta, dan lain-lain.

Dia menilai bahwa kemudahan dalam berbisnis menjadi salah satu acuan utama dari para investor dalam negeri dan asing untuk menanamkan modal. Adapun beberapa sektor yang memiliki potensi tinggi di Jawa Timur, yaitu bidang manufaktur, infrastruktur, properti, dan pariwisata.(Regi Yanuar)

Selain itu, dia menambahkan, sebagian kawasan di Jawa Timur menerapkan upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2018 yang bersaing. Ini menjadi salah satu alasan di balik berpindahnya tujuan investasi pemodal yang berada di sekitar Jabodetabek dan Jawa Barat ke Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Menurutnya, lokasi Jawa Timur yang memiliki UMK yang tinggi hanya di kawasan seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, dan Mojokerto yang mencapai sekitar Rp3,5 juta/bulan karena ditunjang oleh infrastruktur yang baik. Namun, untuk daerah selain itu, UMK kota/kabupatennya dinilai dapat bersaing dengan daerah lain dengan kisaran Rp1,5 juta—Rp2,5 juta.

“Daerah ring dua, tiga, dan empat itu bersaing dengan Jawa Tengah [UMK],” imbuhnya.

Selain itu, Provinsi Jawa Timur memiliki daya nilai lebih karena telah memiliki tenaga kerja yang lengkap dan berkompetensi. “Investor tentu akan mempertimbangkan tenaga kerja, kami telah siap dengan berbagai program pelatihan dan sertifikasi. Bahkan, tenaga kerja ini disumbangkan oleh Sekolah Menengah Kejuruan [SMK] dan tenaga ahli,” imbuhnya.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya