Ini Penjelasan BPS Soal Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2017

Oleh: Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh 16 April 2018 | 17:17 WIB
Ini Penjelasan BPS Soal Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2017
Pengunjung memilih buku bacaan di Perpustakaan Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Selasa (5/1/2016). Berdasarkan penilaian UNDP, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2014 berada pada peringkat 108 dari 187 negara, dengan indeks kebiasaan membaca berkisar antara 0-1 judul buku per tahun./Antara-Irfan Anshori

Bisnis.com, JAKARTA -- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada periode 2016-2017 tumbuh 0,9%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IPM Indonesia sudah naik dari level sedang menjadi level tinggi sejak 2016. 

Dalam laporan BPS yang dirilis Senin (16/4/2018), IPM Indonesia meningkat dari 66,53 pada 2010 menjadi 70,81 pada 2017. Selama periode tersebut, IPM Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 0,89% per tahun.

"IPM Indonesia pada 2017 mencapai 70,81. Kualitas kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat mengalami peningkatan," demikian disampaikan BPS.

IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka panjang. Untuk melihat kemajuan pembangunan manusia, terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan dan status pencapaian.

IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir, yaitu jumlah tahun yang diharapkan dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk bertahan hidup dengan asumsi bahwa pola angka kematian menurut umur pada saat kelahiran sama sepanjang usia bayi.

Pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). RLS adalah rata-rata lamanya (tahun) penduduk usia 25 tahun ke atas yang telah atau sedang menjalani pendidikan formal, sedangkan HLS adalah lamanya (tahun) sekolah formal yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu (7 tahun) di masa mendatang.

Standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita disesuaikan yang ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (purchasing power parity).

Menurut BPS, peningkatan capaian IPM tidak terlepas dari peningkatan setiap komponennya. Seiring dengan meningkatnya angka IPM, indeks masing-masing komponen IPM juga menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun.

"Pada 2017, bayi yang lahir memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,06 tahun lebih lama 0,16 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir pada tahun sebelumnya. Lalu, anak-anak yang pada 2017 berusia 7 tahun memiliki harapan untuk dapat mengenyam pendidikan selama 12,85 tahun (setara Diploma) atau lebih lama 0,13 tahun dibandingkan dengan anak-anak yang berumur sama pada 2016," papar BPS. 

Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,1 tahun (kelas IX) atau lebih lama 0,15 tahun dibandingkan pada 2016.

Di sisi pengeluaran, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebesar Rp10,66 juta per tahun, pada 2017. Angka ini meningkat Rp224.000 jika dibandingkan pengeluaran pada 2016. 

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya