Masih ada 8 Lokasi Penjualan Daging Anjing di Bali

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 16 April 2018 | 17:50 WIB
Masih ada 8 Lokasi Penjualan Daging Anjing di Bali
Anjing/foxnews

Bisnis.com, DENPASAR – Lokasi penjualan daging anjing di Bali berkurang dari awalnya 51 titik pada 2017 menjadi 8 titik pada tahun ini.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bali Ni Made Sukerni mengatakan untuk wilayah Denpasar, sudah tidak ditemukan lagi warung yang menjual daging anjing. Hal itu terjadi sejak dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 524.3/9811/KKPP/Disnakkeswan tentang larangan menjual daging anjing pada 2017 lalu.

Kata dia, pelarangan penjualan daging anjing ini penting dilakukan sebab tidak termasuk jenis makanan. Apalagi Bali termasuk daerah dengan penularan inveksi virus rabies.

Adapun pada 2015, jumlah inveksi birus rabies tercatat sebanyak 529 kasus yang artinya mengalami penurunan hingga 61% pada 2016 yang sebanyak 206 kasus. Sementara, pada 2017 jumlah inveksi virus rabies yang tercatat yakni hanya sebanyak 92 kasus.

“Anjing kan bukan untuk kita makan dan bukan pangan,” katanya.

Sementara, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Badung Gede Asrama mengakui 8 titik yang masih menjadi lokasi penjualan daging anjing berada di Badung. Sebagain besar wilayah penyebarannya yakni di Abiansemal dan Mengwi.

Kata dia, sebelumnya ada 26 titik di Badung yang menjadi lokasi penjualan daging anjing. Namun sejak penertiban yang digencarkan mulai 3 bulan lalu, titik penjualan daging anjing berkurang menjadi 8 lokasi.

Sementara, menutup 8 lokasi tersebut agak sulit dilakukan karena masyarakat yang belum teredukasi betul mengenai bahaya mengonsumsi daging anjing.

Apalagi, pedagangnya sebagain besar menjadikan pekerjaan itu sebagai mata pencaharian utama.

“Kita tidak bisa sekejap saja tutup, dan kadang-kadang ada yang sifatnya insidental yakni kalau dapat anjing baru jualan,” katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya