REALISASI KUR : Diuntungkan Penurunan Bunga

Oleh: Yustinus Andri 16 April 2018 | 02:00 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah) berbincang dengan Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Deputi Gubernur Ronald Waas (kanan) usai Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia/Antara

SEMARANG—Kebijakan pemerintah untuk menurunkan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR), diklaim berhasil mendongkrak sekaligus memperkuat realisasi penyaluran kredit di Jawa Tengah (Jateng).

Kepala OJK Regional III Jateng-DIY Bambang Kiswono mengatakan, lonjakan tersebut terjadi lantaran kebijakan pemerintah pusat yang memangkas bunga KUR dari 9% menjadi 7% mulai Januari 2018. Hal itu dinilai memberikan daya tarik tersendiri bagi para debitur untuk mengajukan kredit baru.

“Dampak dari kebijakan pemerintah pusat mulai terlihat, di samping adanya dorongan lain dari kegiatan perekonomian domestik yang mulai menggeliat,” ujarnya, Jumat (13/4).

Seperti diketahui, berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Perekonomian, realisasi penyaluran KUR Jateng per Februari 2018 yang mencapai Rp3,597 triliun atau naik dari Rp1,597 triliun di periode yang sama pada 2017.

Realisasi penyaluran KUR pada periode tersebut pun mampu menyumbang porsi sebesar 18,46% secara nasional, atau naik dari 15,41% pada Februari tahun lalu.

Capaian pada Februari 2018 tersebut juga lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp1,556 triliun. Adapun, Provinsi Jateng dalam hal ini juga tercatat berhasil mempertahankan posisinya sebagai penyalur KUR tertinggi secara nasional.

Di sisi lain, menurut Bambang, pertumbuhan KUR di Jateng juga sejalan dengan pertumbuhan kredit umum perbankan provinsi tersebut.

Tercatat pada akhir Februari 2018, kredit umum perbankan di Jateng meningkat 9,99% secara year on year (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit umum pada akhir Desember 2017 yang menembus 9,21%.

Senada, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati menyebutkan, tingginya realisasi penyaluran KUR di Jateng salah satunya disebabkan oleh penurunan suku bunga pinjaman.

Berdasarkan data yang dimilikinya, dari Januari 2 hingga 4 Maret 2018permintaan kredit paling tinggi berasal dari KUR mikro yang mencapai 58.302 debitur. Sementara itu pada periode yang sama, dari sisi KUR ritel mencapai 7.965 debitur.

“Penurunan suku bunga KUR memang cukup signifikan bagi penyaluran kredit di Jateng. Secara jumlah debitur, penyaluran terbesarnya masih ke sektor pedagang besar dan eceran,” ujarnya, Minggu (15/4).

Seperti diketahui, untuk pedagang besar dan eceran, jumlah debitur per 4 Maret 2018 mencapai 49.111 nasabah. Jumlah tersebut menguasai 67,28% dari seluruh permintaan sepanjang 2018. Adapun, di peringkat kedua terdapat sektor pertanian, perburuan dan kehutanan yang memiliki persentase sebesar 11,9%.

Di sisi lain, Ema menyebutkan, potensi penyaluran kredit yang relatif besar di Jateng berasal dari kredit ultra mikro (UMI). Pasalnya, pada periode yang sama, kredit UMI yang telah disalurkan mencapai Rp26 miliar dengan total debitur mencapai 5.320 nasabah.

Catatan tersebut, menurutnya, berpeluang bertambah besar apabila Kementerian Keuangan merealisasikan kebijakannya untuk menurunkan suku bunga UMI dari 9% menjadi 7%, atau sama seperti tingkat bunga KUR saat ini.

Seperti diketahui, kredit UMI merupakan fasilitas pinjaman dengan pinjaman maksimal Rp10 juta yang ditujukan untuk koperasi dan UKM. Pemerintah sendiri telah menaikkan anggaran kredit UMI di APBN 2018 menjadi sebesar Rp2,5 triliun dari Rp1,5 triliun pada 2017.

Editor: Abdalah Gifar

Berita Terkini Lainnya