Cara Sehat Sejak dalam Pikiran ala Ade Rai

Oleh: M. Taufikul Basari 14 April 2018 | 12:13 WIB
Ade Rai/Antara

Salah kaprah soal penanganan kesehatan bukan hal baru bagi I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai atau yang dikenal dengan Ade Rai. Ketika mulai mengembangkan pusat kebugaran pada 1997 dia sudah mulai begelut mengedukasi masyarakat soal kesehatan.

Masyarakat Indonesia memang sudah cerdas soal finansial, ataupun cerdas soal pendidikan, tapi masih jauh dari cerdas kesehatan. Itulah kenapa rumah sakit jauh lebih berkembang daripaa pusat-pusat kesehatan atau kebugaran.

Kesan fitness centre hanya sebagai tempat body builder membuat mereka enggan pergi ke pusat kebugaran, minder dengan pria-pria berotot atau perempuan langsing. Tantangan itu memang sudah tidak banyak berlaku sekarang lantaran tren olahraga di masyarakat semakin membaik.

Namun, soal cerdas soal kesehatan masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan di Indonesia. “Penyakit itu 75%– 80% karena ulah sendiri, hanya sekitar 25% yang sifatnya invasif di luar kita,” kata Ade Rai saat berbagi pengalaman jadi pengusaha pusat kebugaran di Master of Business Administration ITB Jakarta belum lama ini.

Punya nama besar di olahraga binaraga tidak lantas membuatnya mudah saat jadi pengusaha pusat kebugaran. Tantangan pelik bukan hanya datang dari mahalnya alat yang mayoritas impor, juga dari masyarakat yang beluk teredukasi soal kesehatan.

Pria yang telah 34 tahun menggeluti bidang binaraga ini menyebut salah satu masalah karena ulah diri sendiri yang banyak ditemui adalah obesitas atau kelebihan lemak yang menelurkan berbagai jenis penyakit. “Kelihatannya [tubuhnya] kecil, tapi pas diukur ternyata kolesterolnya tinggi.”

Namun, sering orang justru mencari alasan cerdas untuk menghindari pola hidup sehat, seperti gemuk karena genetik. Padahal, tidak ada orang yang percaya bahwa miskin karena genetik.

Ade menyebut, sehat tidak menarik bagi masyarakat manakala mereka masih memilikinya. Tapi ketika sehat itu pergi, atau kita sakit, maka sehat itu jadi sesuatu yang menarik.

Padahal, lanjutnya, sehat bukanlah tujuan, tapi syarat. Masyarakat harus sehat dulu untuk bisa bekerja atau bersekolah. Tanpa syarat itu, sulit untuk sukses dari segi finansial, pekerjaan, atau pendidikan.

Ade juga berbagi soal stress yang kerap menghantui pekerja. Pilihannya untuk membuka usaha pusat kebugaran membuatnya menemukan cara bahagia yang sederhana dan menghindarkan dari stress.

Melihat pelanggan yang sukses menurunkan berat badan atau terbebas dari penyakit berat seperti diabetes, jantung, dan stroke membuatnya bahagia. “Saya lebih bahagia melihat kebahagiaan orang lain, itu kekayaan saya,” kata Ade yang suka berbagi pengalaman di berbagai forum ini.

Kunci kebahagiaan lainnya adalah menciptakan standar atau syarat yang rendah untuk bahagia, dan buat syarat yang tinggi untuk kesedihan. Kesalahan orang selama ini adalah kerap memberi syarat tinggi untuk bahagia, dan sangat mudah hancur mood-nya oleh hal-hal kecil seperti macet atau diberi komentar negatif di media sosial.

Menurutnya, daya tahan orang yang bahagia meningkat atau lebih tinggi. Bahkan, berdasar hasil riset, lanjut Ade, orang yang memberi kepada orang lain akan merasa lebih bahagia, demikian juga yang menerima.

Tapi yang lebih mengejutkan, orang ketiga yang menyaksikan kebagaiaan orang lain ternyata ikut bahagia meski tidak terlibat. “Ternyata bahwa menyaksikan kebahagiaan sehari-hari bisa bikin kebahagiaan kita meningkat.”

Sebaliknya, menyaksikan ketidakbaikan membuat probabilitas ketidakbahagiaan juga meningkat dan menyebabkan imun orang turun. Oleh karena itu, Ade menyayangkan banyaknya tontonan konflik di media sosial, koran, dan televisi di Tanah Air karena membuat imun masyarakat turun.

“Manusia paling sering mati di hari apa?” tanya Ade Rai. “Senin, Senin pagi terutama.” Anda tahu kenapa? Ya, stres pekerjaan.

Editor: M. Taufikul Basari

Berita Terkini Lainnya