Jelang IMF-WB, Bali segera Bersihkan Sampah Laut

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 10 April 2018 | 15:53 WIB
Jelang IMF-WB, Bali segera Bersihkan Sampah Laut
Penyelam mengumpulkan botol-botol bekas di dasar laut saat melakukan aksi besih sampah bawah laut/Antara-Kornelis Kaha

Bisnis.com, DENPASAR – Bali akan mengoperasikan kapal penangkap sampah pada Juni mendatang sebagai persiapan perhelatan IMF-WB 2018.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Bali Gede Suarjana mengatakan kapal ini tidak hanya difungsikan untuk mengurangi sampah di laut menjelang IMF.

Nantinya, kapal ini akan terus dipopersikan untuk mengurangi sampah di Pulau Dewata.

Kata dia, kapal yang digunakan untuk menjaring sampah adalah kapal-kapal bekas yang ada di Madura.

Nantinya kapal akan membawa jaring dan secara manual digunakan untuk membersihakn wilayah perairan di Pulau Dewata.

“Nanti akan dipersiapkan kapal penjaring sampah dengan mempelajari arah arus,” katanya kepada Bisnis, Selasa (10/4/2018).

Kata dia, selain menggunakan kapal pengangkut sampah, pemerintah akan terus menggencarkan gerakan bersih-bersih pantai.

Kegiatan ini telah dilakukan sejak dua bulan lalu dengan melibatkan hingga 15.000 orang. Nantinya, puncak kegiatan akan diadakan pada 5 Juni 2018 sebagai persiapan menjelang IMF-WB 2018.

Penggunaan kantong plastik juga akan dikurangi melalui surat ederan gubernur yang meminta toko ritel dan swalayan untuk menggunakan kantong yang bisa dipakai berulang-ulang. Nantinya, pelaku ritel yang telah melakukan ini akan diberi intensif.

“Rencananya juga akan ada gerakan stop satu hari sampah plastik yang akan dilaukan di Juli 2018,” sebutnya.

Dia mengharapkan, rencana pemerintah juga didukung oleh masyarakat dan pelaku pariwisata. Masyarakat diminta untuk semakin ketat menerapkan 3R yakni reduce, reuse, dan recyle.

Sementara, pelaku pariwisata diminta memanfaatkan Coporate Social Responsibility (CSR) untuk melakukan waste to energy pada sampah-sampah yang dihasilkan.

Apalagi, saat ini beberapa desa di Bali sudah mulai secara mandiri mengelola sampahnya. Ada beberapa desa yang menjadi percontohan yakni desa Padang Tegal di Ubud, Sengkidu di Karangasem, Kediri di Tabanan, Sibang di Badung maupun Kertalangu di Denpasar.

Suarjana pun optimistis langkah-langkah ini akan mampu mengurangi sampaj plastic di laut hingga 70%.

“Kalau kita bisa [komitmen] dan masing-masing kawasan pariwisata CSR bisa dimanfaatkan Waste to energy serta dengan catatan adanya trash trap maka setidaknya 70% sampah bisa ditangani,” katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya