PERTEMUAN IMF-WB, 6.500 Kamar di Nusa Dua & Tanjung Benoa Terpesan

Oleh: Feri Kristianto 05 April 2018 | 17:40 WIB
Ilustrasi.

Bisnis.com, DENPASAR—Sebanyak 6.500 kamar hotel di daerah Nusa Dua dan Tanjung Benoa dapat dipastikan sudah dipesan oleh delegasi IMF & World Bank Annual Meeting yang akan berlangsung di Bali pada Oktober mendatang.

Ketua Bali Hotel Association (BHA) Ricky Putra menyatakan jumlah itu akan terus meningkat seiring dengan masih berjalannya persiapan ajang tahunan tersebut.

Dia memperkirakan kamar yang akan dipesan oleh delegasi tidak saja di dua lokasi yang dekat dengan venue, tetapi sampai Jimbaran dan bahkan hingga Sanur. Selain itu, untuk kamar di wilayah BTDC diperkirakan sudah habis dipesan semuanya.

“Sudah 6.500 kamar confirm dan mungkin beberapa hari ke depan masih ada lagi karena delegasi ada yang sedang melakukan pendekatan. Anggota kami total kamarnya ada 12.000 dan perkiraan saya masih kurang sehingga bisa sampai Sanur karena sudah ada yang pendekatan juga,” jelasnya seusai rapat dengan TPID Bali, Kamis (5/4/2018).

Menurutnya, kamar-kamar tersebut dipesan oleh delegasi khususnya perusahaan multinasional.

Ricky menyatakan dampak positif ajang IMF & World Bank Annual Meeting nanti akan lebih besar dibandingkan hajatan APEC pada 2013 silam. Diperkirakan dari perputaran uang senilai Rp5,7 triliun selama ajang itu berlangsung, sekitar 20% atau kisaran Rp2 triliun-Rp3 triliun untuk akomodasi.

Prediksi itu didasarkan dari laporan anggotanya bahwa pemesanan kamar dilakukan tidak hanya periode ketika ajang berlangsung yakni pada 8-13 Oktober 2018 saja.

Adapun saat APEC berlangsung jumlah delegasi dan kepala negaranya lebih sedikit. Selain itu, saat APEC, kamar yang dibooking hanya untuk periode sekitar 1 minggu, sedangkan saat ajang nanti ada yang lebih panjang.

Dia menyatakan ada dua hotel yang dibooking khusus selama satu bulan yakni sebelum dan sesudah pelaksanaan. GM salah satu hotel berbintang di Tanjung Benoa ini mengungkapkan dua hotel di kawasan BTDC Nusa Dua tersebut dipersiapkan sebagai sekretariat. Bahkan ada juga laporan jika hotel dibooking khusus untuk delegasi sehingga tidak memungkinkan menerima tamu wisatawan lain.

“Tamu saya sudah banyak minta mundur ke November, dan mudah-mudahan tamu yang akan stay minta mundur atau dimajukan. Makanya saya katakan multiplier effect lebih besar karena kemungkinan tamu akan minta mundur karena periode Agustus September harga masih high season. Mudah-mudahan mundur ke November jadi tingkat okupansi hotel bisa naik 50%-65%,” paparnya.

Ricky menegaskan meskipun sudah banyak pesanan masuk, pihaknya berkomitmen tak menaikan tarif sewa kamar. Hanya saja diakuinya saat pelaksanaan event itu, di Bali sedang masuk periode high season sehingga tarifnya memang sudah naik.
Dia mengatakan komitmen tidak menaikkan tarif sudah ditegaskan saat bertatap muka dengan Gubernur BI dan Managing Director IMF.

 

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya