PENGEMBANGAN PELABUHAN : Pelindo III Perpanjang Dermaga Celukan Bawang

Oleh: Feri Kristianto 03 April 2018 | 02:00 WIB
PENGEMBANGAN PELABUHAN : Pelindo III Perpanjang Dermaga Celukan Bawang
Pelabuhan Celukan Bawang/pelniagencies.com

DENPASAR — PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Pelabuhan Celukan Bawang akan memperpanjang dermaga hingga membangun terminal penumpang untuk meningkatkan jumlah kunjungan kapal pesiar.

General Manager Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Celukan Bawang Rio Dwi Santoso mengatakan pihaknya sudah menyiapkan dana senilai Rp30 miliar untuk perpanjangan dermaga 30 meter dan pembangunan terminal penumpang kapasitas 700 orang senilai Rp3 miliar.

Menurutnya, pembangunan dermaga direncanakan mulai tahun ini dan rampung pada 2018 sedangkan terminal penumpang dibangun secara bertahap hingga 2019.

“Untuk dermaga sekarang dalam tahap penyusunan desain, kemungkinan semester 2 tahun ini mulai dibangun dan pada tahun depan selesai,” tuturnya saat dihubungi dari Denpasar, Senin (2/4).

Selama periode Januari-Maret, pelabuhan di Bali bagian utara itu sudah dikunjungi sebanyak 7 unit kapal pesiar berkapasitas 300 orang hingga 3.000 orang. Namun, Rio menegaskan tidak semua kapal bisa bersandar di dermaga, karena kini panjang dermaga hanya 220 meter. Alhasil beberapa kapal berdimensi 350 meter seperti MV Genting Dream berlabuh di dekat dermaga.

Bila perpanjangan dermaga rampung dan ditambah dengan breasting dolphin, di menyatakan kapal sejenis MV Genting Dream bisa bersandar di Celukan Bawang.

Menurutnya, penambahan tersebut diharapkan mampu memperbanyak jumlah kapal yang bersandar di salah satu pelabuhan favorit selain Benoa tersebut.

Dia juga mengharapkan peran serta pemerintah daerah khususnya dalam memperbaiki fasilitas infrastruktur jalan menuju Celukan Bawang dan mempercantik destinasi wisata. Saat ini, Rio menuturkan akses jalan masuk ke pelabuhan banyak berlubang sehingga mengurangi kenyamanan wisatawan.

Dia meminta Pemkab Buleleng segera memperbaiki kondisi itu, agar angkutan wisatawan lebih nyaman ketika hendak menjemput wisatawan.

Demikian juga dengan destinasi wisata, yang dinilai masih ada belum dikelola secara modern dan tidak variatif.

“Rencana kami memang mengembangkan terus fasilitas di pelabuhan agar kapal ini bisa datang ke Celukan Bawang. Karena, dua faktor kapal mau datang, pertama fasilitias pelabuhan dan kedua destinasi,” jelasnya.

Dia mengatakan perbaikan fasilitas di pelabuhan tidak akan bisa berdampak jika tidak dibarengi dengan perbaikan objek wisata. Demikian pula sebaliknya, destinasi bagus tanpa ada fasilitas di pelabuhan yang menunjang juga tidak dapat menarik minat operator kapal pesiar.

Rio menambahkan pihaknya membidik kunjungan kapal pesiar dari Jepang untuk memperbanyak kedatangan kapal dari wilayah Asia.

Menurutnya, pihaknya sudah hampir setahun merayu operator kapal pesiar dari Jepang agar datang ke pelabuhan di Bali utara itu tetapi belum berhasil. Dia menyatakan kapal pesiar dari Asia dibidik karena memiliki rute lebih dekat dan potensinya sangat besar.

“Memang lebih mudah promo ke yang pernah datang ke sini untuk diajak datang tetapi kami juga mencoba mencari pasar baru seperti Jepang. Pasar Jepang sudah dari setahun ke sana, tapi belum tembus. Potensi pasar Jepang sangat besar,” tuturnya.

Pada 2018, Pelabuhan Celukan Bawang ditargetkan melayani kunjungan sebanyak 12 kapal pesiar. Dari total jumlah tersebut, 7 kapal dipastikan berasal dari Asia, salah satunya adalah MV Genting Dream dari Singapura. Menurutnya, dengan adanya sejumlah penambahan fasilitas seperti perpanjangan dermaga dan pembangunan terminal penumpang, pihaknya optimistis kunjungan dapat meningkat dua kali lipat dari tahun ini.

Oleh karena itu, Rio menegaskan kapal pesiar dari Asia dibidik karena mampu membawa penumpang lebih banyak dan karakter wisatawan senang belanja jika dibandingkan wisman Australia.

Pengalaman menangani sejumlah turis dari Asia, imbuhnya, banyak dari mereka memilih objek seperti Lovina karena banyak terdapat penjual kerajinan. Adapun wisman dari non-Asia lebih menyukai destinasi seperti Pemuteran, Pulau Menjangan hingga Bedugul.

Dia optimistis turis Asia suka dengan Bali utara karena menawarkan situasi berbeda dengan selatan yang macet dan padat serta semua serba buatan. Destinasi di Bali utara memang tidak sevariatif selatan, tetapi di daerah ini menawarkan ketenangan serta kondisi alam lebih alami.

“Sebenarnya Bali utara tidak variatif seperti selatan, cuma ada kekurangan di selatan yakni populer sedangkan di utara lengang masih alami, tidak macet dan itu yang kami tawarkan ke travel agent,” jelasnya. (Feri Kristianto)

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya