REGISTRASI KARTU, Kesatuan Niaga Cellular Malang Raya Protes Pembatasan

Oleh: Choirul Anam 02 April 2018 | 08:05 WIB
REGISTRASI KARTU, Kesatuan Niaga Cellular Malang Raya Protes Pembatasan
Ketua Kesatuan Niaga Niaga Cellular Indonesia (KNCI) DPD Malang Heri Widodo (paling kanan) bersama pengurus lainnya./Bisnis-Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG—Pembatasan registrasi kartu perdana sesuai dengan identitas, yakni satu identitas tiga kartu perdana, merugikan outlet-outlet seluler di Malang yang mencapai miliaran rupiah.

Ketua Kesatuan Niaga Cellular Indonesia (KNCI) DPD Malang Heri Widodo mengatakan dengan adanya ketentuan registrasi kartu perdana, maka ada puluhan ribu kartu perdana menumpuk di outlet-outlet di Indonesia, termasuk di Malang.

“Di Malang, Kota Batu dan Kab. Malang, ada sedikitnya 2.000 outlet seluler,” katanya di Malang, Minggu (1/4/2018).

Masing-masing diasumsikan memiliki stok kartu perdana 25 pcs yang harganya direratakan Rp35.000/pcs, maka kerugiannya mencapai Rp1,75 miliar. “Itu perkiraan terkecil. Padahal stok kartu perdana jauh lebih banyak dari angka itu,” ucapnya.

Deky, pemilik RHS Seluler di Jl Kalpataru dan Jl Kiageng Gribik membenarkan sinyalemen tersebut. Di dua outlet miliknya, ada 5.000 pcs kartu perdana dari operator Telkomsel, Indosat, XL, dan lainnya yang menumpuk, tidak bisa dijual. Padahal kartu-kartu tersebut ada masa berlakunya.

“Jika dihitung, mencapai potensi kerugian saya mencapai Rp500 juta, sangat berarti bagi kami pelaku usaha kecil,” ujarnya.

Bagi outlet seluler, kartu perdana merupakan market leader karena memberikan keuntungan yang lumayan daripada layanan isi ulang. Total omzet masing-masing oulet, sekitar 90% disumbang penjualan kartu perdana.

Karena itulah, kata Heri, jika tidak ada perubahan kebijakan pemerintah, maka beberapa bulan ke depan akan banyak outlet berguguran, tutup.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya