Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2018 Diperkirakan Tembus 5,36%

Oleh: Yustinus Andri DP 08 Maret 2018 | 14:15 WIB
Kota Semarang

Kabar24.com, SEMARANG—Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah diperkirakan akan kembali melanjutkan ekspansinya pada tahun lalu.

Perbaikan ekonomi negara mitra dagang pengusaha Jateng, diprediksi menjadi salah satu pendorong utamanya.

Bank Indonesia dalam laporan Kajian Ekonomi Regional (KER) Februari menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Jateng akan mencapai rentang 5,2%-5,6% secara year on year (yoy).

Apabila berhasil mencapai level perkiraan tertingginya, maka capaian itu akan melampaui realisasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2017 dengan 5,27%.

“Perkiraan kita, kenaikannya cukup signifikannya ya. Kami optimis Jateng bisa berada di nilai tengahnya, mungkin tembus kisaran 5,36% atau 5,37%,” ujar Deputi Kepala BI Jateng Rahmat Dwisaputra, Kamis (8/3).

Rahmat melanjutkan, aktivitas ekspor masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan kawasan ini. Pasalnya perbaikan ekonomi global yang terjadi di negara mitra dagang utama Jateng diperkirakan akan meningkatkan kegiatan usaha kawasan ini.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, negara seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang menjadi tujuan ekspor terbesar provinsi ini pada tahun lalu. Nilai ekspor ke AS pada 2017 lalu tercatat mencapai US$1,53 miliar, disusul oleh UE dengan US$797,21 juta dan Jepang sebesar US$711,54 juta. Adapun nilai total eskpor Jateng pada periode yang sama naik 11,2% dari tahun sebelumnya dengan mencapai US$5,99 miliar.

Menurut Rahmat, komitmen pemerintah yang tinggi dalam meningkatkan kemudahan investasi dan berusaha, serta komitmen dalam penyelesaian pembangunan infrastruktur diperkirakan akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi Jateng pada 2018.

Selain itu, agenda pemilihan gubernur dan pemilihan kepala daerah di 7 kabupaten/kota di Jateng yang terjadi serentak pada kuartal II/2018, diharapkan akan mendorong meningkatnya konsumsi publik. Daya beli masyarakat yang relatif terjaga juga diperkirakan berdampak pada peningkatan kinerja konsumsi.

Adapun, sentimen lain diperkirakan akan muncul dari kebijakan pemerintah pusat yang akan memangkas tarif PPh final bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari sebelumnya 1% menjadi 0,5% pada akhir bulan ini.

Pasalnya, apabila dilihat dari data Sensus Ekonomi yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017, jumlah UMKM di Jateng saat ini mencapai 4,13 juta. Dia pun berharap, dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan munculnya sejumlah stimulus dari pemerintah, akan diikuti pula oleh penurunan non performing loan (NPL) Jateng.

Terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jateng-DIY Bambang Kiswono mengatakan, dari sisi perbankan dan lembaga keuangan dia optimis, Jateng akan kembali melanjutkan catatan positifnya dari tahun lalu.

Kendati demikian, dia tidak melihat rangkaian proses pemilihan umum kepala daerah bakal memengaruhi kinerja perbankan dan lembaga keuangan di provinsi tersebut. Meskipun dia tidak menampik adanya potensi pertumbuhan penyaluran kredit ke masyarakat pada masa kampanye.

“Ada kemungkinan [kenaikan penyaluran kredit], tapi itu saya kira terbatas. Mungkin ke pengusaha-pengusaha perlengkapan kampanye seperti sablon kaos dan baliho, tapi sepertinya tidak signifikan,” kata Bambang.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya