Festival Pantai Berawa Bali : Menggapai Keseimbangan Baru

Oleh: Ema Sukarelawanto 27 Februari 2018 | 17:44 WIB

Kabar24.com, BADUNG-Pantai Berawa disaput warna lembayung di ujung senja, Minggu (25/2). Penari kecak berjumlah 5.555 orang hampir menyelesaikan tari dan paduan vokal cak yang sohor itu. Inilah puncak dari Berawa Beach Art Festival (BBAF) selama empat hari yang melibatkan ribuan warga Desa Tibubenng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Berawa berada dalam satu garis pantai dengan Kuta, Legian, Seminyak, dan berimpitan dengan Canggu. Tetapi, pantai yang sehari-hari dipenuhi dengan dominasi peselancar dari Australia ini belum begitu akrab di telinga wisatawan domestik. Keinginan memopolerkan Berawa inilah salah satu tujuan festival ini digelar.

Seniman patung I Ketut Putra Yasa, salah seorang yang berada di balik terselenggaranya festival itu, mengatakan Berawa patut bangkit dan menyejajarakn diri dengan Kuta yang sohor sejak lama. Maka, dia bersama sejumlah tokoh masyarakt, seniman, dan pelaku kreatif tahun lalu menggelar festival Berawa.

Tahun ini peristiwa tersbeut dilaksanakan lebih semarak. Selain kecak kolosal yang mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri), festival ini juga menyuguhkan aneka kegiatan yang dikemas dalam sajian budaya pesisir yang terasa egaliter selama 4 hari (22-25 Februari). Seluruh warga Desa Tibubeneng yang memiliki 13 banjar itu diberdayakan untuk mengisi lini akvititas festival bertema ‘Pasisi Lango: Gate of Transition” itu. Mereka pun bergotong royong mengembangkan pariwisata berbasis komunitas yang kuat dan berdaya.

Wakil Ketua Panitia BBAF I Made Dwijantara mengatakan jika bukan warga sendiri yang harus melakukan, lantas siapa lagi? Ia menyadari festival ini tidak langsung meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi ia optimistis kegiatan ini bakal memberikan dampak positif bagi kepariwisataan dan terutama meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan warga di sekitarnya.

Ia menyebut dua pameran seni rupa yang digelar mendapat apresiasi serius dari wisatawan asing. Mereka telah mengenal seni tradisional Bali, tetapi diperkenalkan terhadap karya para seniman kontemporer merupakan hal yang ‘sesuatu banget’. Dwijantara pun memastikan pameran seni rupa akan terus mengisi ruang festival ke depan.

Karya 16 seniman yakni Nyoman Erawan, Agung Mangu Putra, Made Bhudiana, Made Djirna, Chusin Setyadikara, Nyoman Sujana Kenyem, Ida Bagus Putu Purwa, Made Alit Suaja, Agus Sumiantara, Ngakan Arta Wijaya (Npaw), Wayan Upadana, Iwan Yusuf, Watoni, Isa Ansori, Suwandi, dan Fadjar Djunaidi dipamerkan di LV8 Resort Hotel.

Sedangkan ‘Sculpture on Beach’ memamerkan karya 11 seniman patung yakni Ichwan Noor, Teguh A. Priyono, Titarubi, Hedi Hariyanto, Putu Sutawijaya, Putu Adi Gunawan, Nyoman Adiyana "Ateng", Ismanto Wahyudi, Ketut Putrayasa, Wayan Setem, dan Willy Himawan di sebuah kelab yang terkenal, Finn’s Beach Club. Kedua pameran seni rupa ini dikuratori Rizky A. Zaelani dan Wayan Seriyoga Parta. Kata Seriyoga katalog pameran akan diterbitkan pascafestival.

Karya Titarubi bertajuk ‘Brocade’s Platoon’ adalah salah satu karya yang kerap ditatap berlama-lama oleh pengunjung. Titarubi memboyong instalasi 30 sosok manekin yang menjadi media kritik bagi perilaku militeristik dan kekerasan yang kerap terjadi bukan hanya di negeri ini, tetapi juga di sejumlah wilayah bumi. Sejumlah karya lain dipajang di pinggir pantai seakan mengajak para sufer dan wisatawan yang lalu-lalang jeda sejenak untuk merenung melalui patung-patung yang membawa aneka pesan itu.

Kehadiran puluhan karya seni di pusat keramaian pariwisata yang komersial ini seolah menjadi keseimbangan baru bagi Desa Tibuneneng di mana Pantai Berawa berada. Jika sehari-hari dihadapkan pada pemandangan yang tak lepas dari gaya hidup, materialistik, dan anekahiburan yang melenakan, pameran ini menjadi alternatif lain untuk menghadirkan pengalaman batin menikmati hidup seraya mendengarkan debur ombak yang tak pernah diam itu.

Camat Kuta Utara Anak Agung Arimbawa mengatakan dulu wilayah Kuta Utara hanya sebagai penyangga pariwisata Kuta, tapi kini menjadi destinasi secara langsung. Rupanya, bentangan pantai ekstotik mulai dari Pantai Petitenget, Eco Beach, Batu Bolong, hingga Berawa telah memikat para surfer maupun wisatawan yang lain.

Dia mengacungkan jempol terhadap semangat warga Tibubeneng yang berkomitmen menyelanggarakan festival secara berkala. Ini seiring dengan program Pemkab Badung yang terus menghidupkan wisata ‘meeting, incentive, convention, exhibition’ atau MICE di kabupaten pendulang wisawatan itu.

Benar, Pantai Berawa kini tak bisa dilepaskan dari kepariwisataan. Ratusan properti penunjang dunia pelesiran terdapat di kawasan pingir pantai ini seperti kafe, bar, klub, restoran, vila, hingga resor. Tak salah jika Pemkab Badung ikut peduli memupuk aktivitas di sana. Untuk festival ini saja, melalui bantuan keuangan khusus (KBB) Pemkab Badung mengucurkan Rp2,3 miliar yang masuk lewat APBDes.

Pemkab Badung juga berupaya sekuat tenaga agar kunjungan wisatawan mancanegara ke wilayah itu bisa tembus seperti yang ditargetkan pada 2018 yakni 7 juta wisman. Target itu tak berbeda dengan angka yang dipatok Provinsi Bali, karena 99% wisatawan asing masuk Bali melalui Bandara Ngurah rai yang terletak di Badung.

Khalayak sedang menunggu, apa yang akan disuguhkan Festival Berawa tahun depan? Akankah menambah angka-angka kasat mata dengan jumlah besar pemecahan rekor, atau beralih ke kualitas konten yang lebih menyeret keinginan wisman untuk bertandang ke pantai yang memiliki cakrawala indah tempat matahari terbenam itu.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya